by

Ani Ummu Khalisha: Pendidikan Miskin Visi, Kebangkitan Bangsa Hanya Ilusi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pendidikan adalah hal vital dalam menentukan kebangkitan suatu bangsa. Pendidikan harus mempunyai kejelasan visi dan tujuan dari awal, sehingga nanti hasilnya bagaimana pendidikan ini bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban.

Bukan hanya berorientasi pada pencapaian materi dan kepuasan intelektual saja, yang mengedepankan aspek individu dan kepentingan korporasi.

Hal ini sangat penting dipahami sejak awal yang merupakan dasar untuk menghasilkan sebuah kebijakan-kebijakan pendidikan. Sehingga kebijakan yang dihasilkan fokus untuk mencapai visi dan tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar pendidikan mampu membangkitkan bangsa ini. Menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerja sama antara perguruan tinggi atau kampus dengan dengan industi.

Strategi ini dinilai penting agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi untuk saling memperkuat keduanya. Menurut Nadiem, kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha.

Dia menjelaskan bahwa Kemendikbud telah menjalankan program kampus merdeka. Salah satunya untuk menghasilkan mahasiswa yang unggul dan bisa menjadi pendisrupsi revolusi 4.0

Sebelumnya presiden Indonesia Joko Widodo dalam sambutannya berpesan, salah satunya adalah agar perguruan tinggi aktif untuk menjalin kerjasama dengan industri termasuk, termasuk kawasan industri terdekat. Lendaindonesia.com (4/7/20)

Dari sumber lain dikatakan Nadiem juga berharap bahwa 5 tahun ke depan sekolah menengah kejuruan atau SMK bisa diminati para orangtua siswa dan siswa sendiri.

Dia berharap bisa mendapatkan program-program terakselerasi sehingga dalam waktu singkat para siswa mendapatkan D2 atau juga D4 untuk mendapatkan value proposition bagi SMK.

Harapannya sekolah politeknik kita setara dengan terbaik dunia. Tentu tujuannya adalah sama yaitu menghasilkan SDM yang profesional untuk industri. Theworldnews (27/6/20).

Dilansir dari Kagama.co 26/05/20, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memulai gerakan ‘ pernikahan massal’ (Link and Match). Program tersebut akan menikahkan pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DuDi).

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wigan Sakarinto, Ph.D, menjelaskan program studi (Prodi) pendidikan vokasi tahun 2020 tersebut diluncurkan agar kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja.

Sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ditargetkan melakukan pernikahan massal pada tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri. Kemudian program ini akan diteruskan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi.

Itulah program pemerintah yang sedang dilakukan demi mempersiapkan SDM yang siap kerja dan dibutuhkan baik di dunia industri maupun di dunia kerja.

Hal ini menegaskan kepada kita bahwa pemerintah berorientasi industri, yang mengokohkan peran lembaga pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi industri.

Sekulerisme Menginfeksi Tujuan Pendidikan

Sistem pendidikan di negeri-negeri Islam telah terinfeksi nilai-nilai kebebasan dan sekulerisme, yang menjadikan kaum terpelajar menjadi terpisah dengan umat karena sulit memahami masalah umat karena hilangnya pemikiran politik Islam, justru mengadopsi cara berpikir ilmiah sekuler dan metode ilmiah ala Barat.

Ditambah dengan penerapan ideologi Kapitalisme yang menjadi pengendali utama di dalam dunia pendidikan modern hari ini, sehingga menyebabkan berkembangnya pragmatisme dalam pendidikan, yang tercermin dari tujuan pendidikan materialistik. Tujuan ini jauh dari tujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian.

Kapitalisme telah merendahkan ilmu pengetahuan, hubungan maupun ruang lingkup ilmu pengetahuan terus menerus dinilai berdasarkan nilai ekonomi.

Kegagalan dan keberhasilan bidang ilmu akan selalu diukur dengan kategori ekonomi. Jika lulusan banyak yang menjadi pengangguran maka yang pertanyaannya bukan pada metodologi atau pengajarnya melainkan apakah ilmu ini memiliki efek material atau tidak.

Pendidikan dalam pandangan Islam

“Pada hari kiamat akan ditimbang tinta para ulama dan darah para syuhada.”

Islam telah menggambarkan betapa pentingnya ilmu dan pendidikan. Ia adalah salah satu kebutuhan hidup dan manifestasi kebangkitan dan tanda ketinggian bangsa.

Tujuan pendidikan adalah pembentukan kepribadian Islam dan memberikan umat apapun yang dibutuhkan dari sains dan ilmu untuk mencapai kecukupan dan kemuliaan, sehingga kita menjadi independen dari negara-negara lain.

Selain itu, inilah cara untuk melestarikan budaya bangsa dan perkembangannya serta dasar dari standar dan sistem kehidupannya yang berusaha untuk diterapkan di dalam negeri dan disebarkan ke luar negeri.

Visi pendidikan Islam yaitu membangun kepribadian utuh manusia sebagai hamba Allah, khalifah fil ardhi. Yakni sebuah visi yang agung tak hanya untuk kebangkitan bangsa tetapi seluruh dunia.

Sistem dalam pendidikan Islam berdasar pada akidah Islam saja. Akidah adalah satu-satunya dasar dari kehidupan muslim dan negara khilafah.

Akidah adalah satu-satunya ukuran yang digunakan untuk memutuskan apa yang diadopsi yang terkandung dalam kurikulum dan apa yang harus di tolak, karena Allah SWT berfirman :

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Oleh karena itu, kurikulum pendidikan di negara Islam tidak akan mengajarkan materi-materi yang bertentangan dengan keyakinan Islam.

Tahap-tahap pendidikan dibentuk diatas akidah Islam karena didefinisikan berdasarkan dalil-dalil syariah yang terkait dengan berbagai aturan Islam, kewajiban dan hukuman yang diterapkan kepada anak berbagai usia.

Pemimpin (Khalifah) berkewajiban memberikan pendidikan yang berkualitas bagi setiap warganya sebagai hak dasar, terlepas dari agama, ras, atau gender.

Investasi dalam pendidikan akan menjadi prioritas bagi pemimpin Sebagai negara yang berusaha untuk memimpin dunia dan benar-benar melayani umat.

Pemimpin dalam akan berusaha membangun para guru dan dosen yang terlatih dan bergabung tinggi dalam jumlah yang melimpah, serta sekolah-sekolah, perguruan tinggi, universitas, pusat penelitian, laboratorium dan sebagainya yang berfasilitas lengkapnya paling mutakhir, menggunakan kekayaan dari Baitul Mal.

Kekayaan negara dalam Islam akan sangat berlimpah karena sifat ekonominya yang sehat memiliki warisan sejarah telah menciptakan kemakmuran.

Semua ini akan mengakhiri dijadikannya pendidikan sebagai komoditas yang menghasilkan pendapatan bagi pemerintah atau bagi orang-orang kuat dan berkuasa. Mengakhiri pendidikan yang berorientasi industri dan mencetak manusia bermental buruh.Wallahu’alam bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita