by

Cebiana Nur Andini*: New Normal Diksi Sesat di Kala Pandemi

-Opini-55 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — “Diksi new normal dari awal diksi itu segera ubah. New normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru,” kata Yurianto dalam acara Peluncuran Buku “Menghadang Corona: Advokasi Publik di Masa Pandemi” karya Saleh Daulay secara virtual, Kompas.com (10/7/2020).

Sebelumnya, New Normal Life membawa angin segar bagi rakyat Indonesia yang mulai jenuh dengan kesehariannya di rumah. Rindu nonton bareng, kopi bareng, jalan bareng yang semua itu membutuhkan sosialisasi dengan manusia lainnya.

Alhasil dengan diksi pilihan yang terlanjur diblow up oleh media massa dan internet, membuat rakyat rentan serta lengah di tengah pandemi yang konon puncaknya pun belum terlihat hingga kini.

Kekhawatiran pemerintah atas kerusuhan dan kelaparan yang akan melanda negeri akibat ditutupnya banyak perusahaan dan PSBB, membuat tercetusnya langkah ekstrim yang tidak melibatkan para pakar kesehatan. Kesalahan fatal yang berujung kenaikan penderita Covid-19 dengan kuantitas ribuan orang setiap harinya di kluster-kluster baru yang tersebar di Indonesia karena interaksi manusia yang tidak lagi mengedepankan social distancing.

Analisa jumlah penderita diperhitungkan akan melebihi Wuhan di akhir Juli 2020 ini. Oleh karenanya, pemerintah melalui jubir Covid-19 melalui konferensi pers menyatakan permintaan maaf secara terbuka atas pemilihan kata yang kurang tepat di kala kurva pandemi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Sungguh sangat disayangkan, terbayang bagaimana reaksi rakyat ketika mendengar permintaan maaf setelah kurva Covid-19 melangit. Rakyat tak punya pilihan untuk taat dan mengikutinya di bawah perintah perusahaan mereka, ketika berbagai solusi ditawarkan. Ibaratnya mereka bagai kelinci percobaan yang sewaktu-waktu bisa gagal atau gugur di tempat. Mengenaskan bukan ?

Kegagalan penanganan wabah tanpa mengindahkan protokol kesehatan disinyalir karena ideologi Kapitalis yang lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi ketimbang nyawa manusia. Sebuah solusi yang menghasilkan permasalahan cabang seperti gugurnya tenaga kesehatan, penularan secara masif karyawan yang bekerja di era new normal dan lain sebagainya.

Nabi Muhammad Shalallahu wassallam bersabda :

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kiamatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Ironi negeri pertiwi karena hati terpatri pada aturan duniawi, bukan pada Sang Ilahi. Wallahua’lam bishawwab.[]

Comment

Rekomendasi Berita