by

DR. Suryani Syahrir, ST., MT*: Kuliah Daring, UKT Apa Kabar?

-Opini-40 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Baru-baru ini tagar #NadiemManaMahasiswaMerana merajai trending twitter yang kemudian dijawab pak Nadiem dengan trending twitter #NadiemMendengar. Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan kebijakan yakni empat skema pembayaran untuk meringankan orangtua membayarkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) anaknya selama pandemi.

Empat skema tersebut, yakni:

1. Penundaan pembayaran. Pembayaran UKT bisa ditunda apabila orangtua dari mahasiswa memang terdampak Covid-19 secara ekonomi.

2. Pencicilan pembayaran. Selain ditunda, agar tidak memberatkan pembayaran UKT juga bisa dilakukan dengan cara dicicil.

3. Menurunkan level UKT. UKT terdiri dari level 0-5, masing-masing memiliki besaran kewajiban yang berbeda-beda. Semakin tinggi level UKT, maka beban biaya kuliah yang harus dibayarkan semakin tinggi pula.

4. Pengajuan beasiswa. Mahasiswa yang orangtuanya mengalami permasalahan ekonomi serius selama pandemi ini bisa mengajukan beasiswa (Kompas.com, 5/6/2020).

Tak bisa dipungkiri, kondisi ekonomi masyarakat selama pandemi terus melemah. Baik itu pekerja di pabrik-pabrik besar maupun home industry, terlebih pekerja harian. Semua ranah kehidupan hampir terimbas dampak virus ini, tak terkecuali dunia pendidikan.

Pembayaran dana pendidikan mahasiswa yang dilakukan tiap semester, pun terkendala. Banyaknya orangtua yang terkena gelombang PHK atau pekerja yang dirumahkan, membuat kondisi semakin parah.

Jangankan untuk membayar UKT, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja, sangatlah sulit. Kondisi ini diperparah dengan melambungnya beberapa kebutuhan pokok, naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL), iuran asuransi BPJS, dan beberapa kebutuhan dasar lainnya. Sungguh sangat memprihatinkan!

Pemerintah Tak Empati?

Berbagai kebijakan pemerintah yang dikeluarkan selama pandemi terkesan tidak ber empati kepada rakyat. Bagaimana tidak, dalam kondisi sulit seperti saat ini, pemerintah malah membuat kebijakan mencla-mencle yang membuat bingung dan resah.

Era new normal life yang ingin diberlakukan di beberapa provinsi dan kabupatan/kota di bulan Juni ini, menuai protes dari berbagai pihak.

Seolah tak menggubris pendapat para ahli, penguasa negeri ini tetap pada keputusannya. Keselamatan rakyat pun tergadai, demi alasan ekonomi. Akibatnya, masyarakat menjadi tidak percaya lagi dengan sistem kepemimpinan negeri ini.

Fakta terkini yakni penolakan rapid test beberapa daerah di wilayah Indonesia, pengambilan paksa jenazah di RS rujukan Covid-19, dan beberapa kasus lainnya sebagai bukti bahwa ada yang salah dari sistem tata kelola negeri ini.

Begitupun dengan sistem pendidikan tinggi. Karut marut sistem pendidikan di negeri ini seperti tak berujung. Sedari awal, pemerintah memberlakukan kuliah daring tanpa persiapan yang matang.

Dari sinilah muncul berbagai masalah; mulai dari tidak terjangkaunya signal di beberapa daerah, minimnya kuota internet, ketidaksiapan mahasiswa dan dosen menggunakan perangkat pembelajaran, dan problem teknis lainnya.

Pun pembayaran UKT dengan angka yang lumayan tinggi terutama untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan atau Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), menjadi tambahan beban pikiran para orangtua.

Walaupun beredar berita adanya empat skema pembayaran seperti di atas, namun faktanya belum tentu semudah dan seindah yang dibayangkan. Mengingat asas sistem pendidikan yang dianut negeri adalah sekuler kapitalis, menafikan pengurusan rakyat secara murah dan mudah.

Sistem Pendidikan Islam

Islam hadir dengan kesempurnaan aturannya karena berasal dari zat yang Maha Sempurna, Allah ‘Azza wa Jalla. Pendidikan dalam Islam adalah hak dasar setiap warga negara, baik kaya maupun miskin, baik Muslim maupun non Muslim.

Negara wajib memenuhinya dan menjamin secara murah bahkan gratis dengan birokrasi yang mudah serta tenaga yang profesional.

Sejarah telah mengukir dengan tinta emas dalam kurun waktu sekitar 14 abad, tingginya peradaban Islam dan kemajuan ilmu pengetahuan yang tak tertandingi.

Ilmuwan seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Khawarizmi, Az-Zahrawi dan sederet nama-nama lainnya yang karyanya masih digunakan hingga saat ini dihasilkan oleh penerapan sistem pendidikan Islam. Mereka tidak hanya ahli di bidang sains namun juga seorang ulama. Hal demikian bisa terlahir karena asas yang digunakan adalah ketakwaan kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Kolaborasi yang sahih antara ketakwaan individu, pemimpin yang amanah, dan aturan Ilahi yang diterapkan negara, meniscayakan terciptanya pendidikan terbaik. Hanya dalam institusi negara, semua hal tersebut bisa terwujud.

Karena syariah Islam adalah rahmatan lil’alamin jika diterapkan secara paripurna. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maai’dah: 50, yang artinya:

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”  Wallahua’lam bishshowab.[]

*Dosen dan Pemerhati Sosial

Comment

Rekomendasi Berita