by

Fitriani, S.Hi*: Islam Wujudkan Generasi Emas Bebas Stunting

-Opini-40 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Permasalahan stunting masih terus menghantui negeri ini. Beberapa kota di Indonesia tercatat memiliki angka penderita stunting yang cukup besar.

Termasuk di beberapa daerah kabupaten/kota di Sumatera Utara, angka Stunting cukup tinggi. Di Kabupaten Dairi misalnya, angka kasus stunting masih cukup tinggi.

Oleh sebab itu pemerintah menetapkan stunting sebagai program prioritas untuk diintervensi dengan pendekatan konvergensi program multi sektor.

Bupati Dairi Dr. Eddy Keleng Ate Berutu seperti dikutip radarmedan.com(/15/07/2020), mengajak seluruh unsur masyarakat Dairi terlibat secara aktif dan sistemis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting ini dan diharapkan mampu  menekan prevalensi stunting di Kabupaten Dairi.

Bukan hanya di Dairi, di Langkat, kasus stunting juga ditemukan masih tinggi. Tahun lalu Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi saat melantik Terbit Rencana Perangin Angin dan Syah Afandin sebagai Bupati dan Wakil Bupati Langkat Periode 2019-2024 di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Rabu (20/2/2019) mengatakan bahwa stunting merupakan salah satu masalah yang dihadapi Kabupaten Langkat.

Karena itu, di laman tribunnews.com (/20/02/2019) dirinya tidak mau jadi juara dalam hal yang negatif. Karena menurut nya masa depan bangsa ini akan negatif jika anak bangsa banyak terpapar stunting.

Prevalensi stunting di Indonesia tidak mengalami perubahan yang signifikan. Karena faktanya prevalensi stunting di negeri ini masih tinggi dan dampak yang ditimbulkan juga membahayakan generasi.

Walaupun pemerintah telah mencanangkan berbagai macam program untuk menurunkan prevalensi seperti misalnya pada tahun 2010, Scaling Up Nutrition (SUN) diluncurkan sebagai gerakan global dengan prinsip dasar semua penduduk berhak mendapatkan dana memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi.

Dua tahun berikutnya pemerintah Indonesia bergabung dalam gerakan tersebut melalui program Intervensi Stunting.

Dengan harapan melalui program yang berasal dari WHO ini mampu menurunkan angka prevalensi. Akan tetapi pada kenyataannya penderita stunting tidak kunjung berkurang.

Program – program yang dilakukan pemerintah tersebut belum menuntaskan persoalan gizi stunting, pasalnya solusi yang diupayakan pemerintah hanya bersifat tambal sulam yang tidak menyentuh akar persoalan. Hal ini dibuktikan dengan masih tingginya angka Stunting di Indonesia setiap tahunnya.

Padahal Stunting itu sendiri terjadi karena kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu yang lama. Harusnya ini tidak terjadi karena faktanya kita melihat negeri ini memiliki sumber daya alam yang luar biasa melimpah dengan tanah subur penghasil beragam tanaman pangan dan minyak yang apabila dikonsumsi oleh rakyatnya secara merata, maka rakyat tidak akan kekurangan asupan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Negeri dengan kekayaan alam dan hasil laut berlimpah ini mengingatkan kita sebuah bait lagu Keseluruhan, tongkat kayu jadi tanaman yang menandakan begitu suburnya tanah di negeri ini.

Negeri agraris yang berada di garis katulistiwa dengan sebutan gemah ripah loh jinawi yang begitu luar biasa namun didapati penduduknya mengalami gizi buruk.

Salah satu penyebab stunting menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, Indonesia ada di urutan ke-lima jumlah anak dengan kondisi stunting.

Hal ini terjadi karena negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah ini mengadopsi sistem kapitalisme sebagai dasar pengelolaan kekayaan alam yang melimpah. Kecendrungan untuk lebih memilih aturan buatan manusia bukan aturan Allah yang jauh lebih sempurna sehingga hasil kekayaan tidak terdistribusi secara merata.

Kekayaan alam yang banyak dan melimpah ini justeru dimiliki oleh pihak pemilik modal yang hanya segelintir orang.

Sementara akses masyarakat untuk mendapatkan makanan bergizi sangat sulit mulai dari harga kebutuhan pokok yang mahal dan lain sebagainya.

Begitu pun  terkait hal kesehatan dengan layanan kesehatan yang murah dan mudah, seharusnya disediakan negara dengan fasilitas kesehatan terbaik dan gratis untuk rakyatnya.

Namun semua itu hanya menjadi sebuah sebuah fatamorgana saja bila kapitalisme masih menjadi sumber berpijak dalam tata atur SDA yang melimpah di negeri dengan sebutan paris van java ini.

Maka suatu hal yang sangat miris bahwa di negeri kaya raya ini namun stunting masih menjamur dan belum mereda. Mungkinkah generasi emas berkualitas dapat terwujud dalam kondisi ini?

Salah satu bagian penting dari syari’at Islam adalah adanya skema dan regulasi  berkaitan dengan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi tiap individu masyarakat baik berupa sandang, pakaian, dan papan di samping lapangan pekerjaan.

Dalam Islam ditetapkan bahwa kebutuhan ini merupakan hak setiap rakyat sehingga wajib bagi negara memenuhinya dengan cara mengontrol pemenuhan semua kebutuhan rakyat dan memastikan bahwa tidak ada satupun rakyat yang kelaparan dan kekurangan gizi.

Selain itu, setiap individu berhak menerima pelayanan kesehatan dan pendidikan yang berkaitan dengan menjaga kesehatan tubuh.

Dalam bidang kesehatan, Islam menyediakan fasilitas kesehatan terbaik lagi gratis, pelayanan rumah sakit dengan memperhatikan kebersihan ruang dan kualitas makanan yang baik.

Dalam sebuah Majalah, AramcoWorld, Arab Saudi pernah menulis surat seorang pemuda Prancis dari rumah sakit Kordoba yang menceritakan kesan-kesannya saat dirawat di rumah sakit Islam.

Di antara kutipan yang dilansir laman republika.vo.id sebagai berikut:

“Ayah terkasih, semua tempat di rumah sakit ini sangat bersih, tempat tidur dan bantal ditutupi dengan kain putih Damaskus yang halus. Bed cover terbuat dari bahan mewah yang lembut. Semua kamar di rumah sakit ini dilengkapi dengan air bersih. Air ini dibawa ke kamar melalui pipa yang terhubung ke sumber. Tidak hanya itu, setiap kamar juga dilengkapi dengan kompor pemanas.  Mengenai makanan, ayam dan sayuran selalu disajikan, sehingga beberapa pasien tidak ingin meninggalkan rumah sakit karena mereka ingin terus menikmati makanan lezat ini.

Dalam dunia pendidikan, layanan pendidikan gratis dan berkualitas pun mampu melahirkan output yang piawai seputar gizi makanan, salah satunya adalah Ibnu Sayyar al-Warraq. Ia seorang juru masak yang sangat populer di ibu kota pemerintahan Islam, Baghdad, Irak. Ia membukukan resep-resep hasil kreasinya dalam sebuah buku berjudul Kitab at-Tabikh wa Islah al-Aqhdiyah al-Ma’kulat.

Dari teks klasik inilah, diketahui kekayaan tradisi kuliner di tengah masyarakat Arab Muslim. Geliat tradisi kuliner ini juga mempunyai keterkaitan dengan bidang sains dan ilmu pengetahuan saat itu.

Salah satu produk bergizi lainnya yang masih hits hingga kini adalah kebab. Pada abad ke-8  di masa kekhalifahan Abbasiyah, kebab diperkirakan menyebar dari Persia ke seluruh Timur Tengah.

Dari sisi ekonomi, terbukti penerapan ekonomi Islam melahirkan komunitas masyarakat yang sejahtera lagi merata. Sebagai contoh adalah apa yang dikatakan Will Durant seorang sejarawan Barat. Dalam buku yang dia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, dia mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah (pemimpin) itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas.

Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka,

Oleh karena itu, solusi terbaik mewujudkan generasi emas bebas stunting adalah dengan menerapkan sistem ekonomi Islam secara total.

Sistem ekonomi Islam memiliki mekanisme distribusi yang mumpuni salah satunya dengan mengatur kepemilikan. Ada kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara, yang masing-masing tidak boleh dilanggar.

Sementara negara berperan melayani umat dan memastikan mekanisme tersebut berjalan dengan baik.

Hal ini hanya bisa terwujud dalam sistem islam yang telah terbukti selama lebih dari 13 abad mensejahterakan umat manusia.

Maka selayaknya sistem inilah yang kita perjuangkan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat sejahtera yang sesungguhnya.

Dalam konsep Islam, mewujudkan generasi emas berkualitas bukan hanya isapan jempol belaka. Wallahu`alam bisshawab.[]

*Pemerhati Generasi di Deli Serdang

 

Comment

Rekomendasi Berita