by

Irmadel Aurelliana*: Kalung Anti Corona, Ampuhkah?

-Opini-40 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Jarang menjadi sorotan media massa apalagi masyarakat, Menteri Pertanian syahrul Yasin Limpo tiba-tiba mengeluarkan pernyataan yang bikin heboh.

Beliau bicara soal kalung yang bernama ‘Anti Virus Corona Eucalyptus’, dibuat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ( Balitbangtan) Kementerian Pertanian.

Dilansir Kompas.com.com, Kementerian Pertanian (Kementan) berencana memproduksi massal kalung antivirus corona (Covid-19). Kalung tersebut dibuat dari tanaman eucalyptus, antivirus yang dipercaya bisa ampuh mematikan virus corona.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan, Fadjry Djufry, mengklaim kalung “ajaib” dari eucalyptus ini sudah teruji di laboratorium Balitbangtan.

“Setelah kita uji ternyata Eucalyptus sp yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus, mulai dari avian influenza hingga virus corona model yang digunakan. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus,” kata dia dikutip dari Antara, Selasa (7/7/2020).

Berdasarkan uji molecular docking dan uji vitro di Kementan, minyak atsiri eucalyptus citridora dapat menginaktivasi virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus sehingga mempunyai kemampuan antivirus.

“Minyak eucalyptus ini juga sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya, tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi,” jelas dia.

Menurut dia, kalung eucalyptus tersebut bukan digunakan sebagai obat yang diminum. Bukan pula berbentuk vaksin.

Menurut dia, eucalyptus selama ini dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut.

“Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan,” tegas Fadjry.

Kementan mengklaim, dalam berbagai studi disebutkan, obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya dengan konsentrasi 1 persen saja sudah cukup membunuh virus 80-100 persen.

Bahan aktif utamanya, terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro. M pro adalah main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus corona.

Sejumlah kalangan pun heran di tengah produk yang masih tahap awal penelitian dan belum diujicobakan pada makhluk hidup, Kementan sudah menggandeng pihak swasta untuk pengembangan dan produksi masalnya.

Padahal tugas Kementan itu adalah mengoptimalkan produksi dan mendistribusikan hasil pangan kepada masyarakat secara menyeluruh di tengah krisis pangan saat pandemi bukan anti virus.

Jika narasi kalung antivirus ini terus dimasifkan, tentu hal ini adalah bentuk penyesatan informasi sistematis di tengah-tengah masyarakat.

Bukan kali ini saja, pejabat negara mengeluarkan statement yang asal asalan, inkonsisten bahkan tidak linier dengan jabatannya.

Inilah gambaran rezim Ruwaibidhah, yaitu orang bodoh yang bicara urusan banyak ( HR ibnu majah sunan ibnu majah no 4036).

Penguasa yang tidak memiliki kapabilitas mengurus rakyat tidak lepas dari sistem bathil yang sedang diterapkan saat ini, yaitu sistem demokrasi kapitalis sekular.
Sistem yang tanpa disadari mengarahkan para penguasa untuk berperilaku bak pengusaha yang memperoleh keuntungan dari jabatan dan atau pekerjaannya.

Padahal rakyat sedang butuh pemimpin yang mampu mengurusi mereka melalui kebijakan-kebijakan yang benar, tepat dan solutif.

Tentu pemimpin seperti ini dilahirkan dari sistem yang baik pula, sistem Islam. Negara dalam Islam memiliki mekanisme khusus yang akuntabilitas dalam mencetak pemimpin berkualitas. Syarat pemimpin dalam islam diantaranya muslim laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka, dan mampu.

Syarat mampu ini menjadikan penguasa haruslah orang yang amanah dalam menjalankan kepemimpinannya.
Yakni menjalankan urusan rakyat sesuai Al-Qur’an dan as-sunah.

Dan penguasa akan mampu memilih pejabat-pejabat negara yang amanah dan berkapabilitas.

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap warga negara muslim dan non muslim, kaya atau miskin, yang wajib dipenuhi oleh negara. Sehingga saat terjadi wabah negara akan mengerahkan potensinya untuk menemukan vaksin atau antivirus dalam menanggulangi wabah.

Negara akan mengerahkan para pakar intelektual di bidang kesehatan, khususnya virologi-molekuler untuk melakukan riset.

Negara akan memberikan dukungan pendanaan besar dalam menemukan antivirus ini.

Membangun laboratorium-laboratorium berkualitas dan menyokong peralatan canggih dan memadai yang mempercepat penemuan vaksin.

Jika vaksin sudah ditemukan, maka negara akan memproduksinya dalam skala besar secara mandiri dan mendistribusikannya kepada rakyat secara gratis.

Negara pun membolehkan pihak swasta berkontribusi dalam meracik dan memperjualbelikan obat kepada masyarakat. Namun, negara pun akan membentuk badan pengawas obat-obatan, mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotik secara teliti dan mengukur akurasi berat dan kemurnian dari obat yang digunakan. Wallahu’alam.[]

*Mahasiswi UPI,  Bandung

Comment

Rekomendasi Berita