by

Lulu Nugroho*: Ibrahim as, Nabi Bestari

-Opini-10 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA —  Video thawaf qudum adalah thawaf pembukaan atau thawaf selamat datang dari Haramain Syarifain beredar di media massa. Tampak keindahannya tatkala ribuan manusia berputar mengelilingi kabah, dengan formasi social distancing, berjarak, berpakaian ihram yang sama, gerakan yang rapi dan teratur disertai lantunan doa.

Masjidil haram tampak lengang. Orang-orang yang terpilih ziarah ke Baitullah tentu menikmati ibadah tanpa berdesakan. Namun di balik itu, ada kesedihan yang amat sangat sebab pandemi covid-19 menyebabkan terhalangnya sebagian besar saudara mereka sesama muslim yang juga rindu bertandang ke rumah Allah.

Tahun ini hanya 1000 jemaah haji. Akan tetapi menurut sumber berita lain, 10.000 jemaah. Sementara biasanya kala tidak terjadi pandemi, sekitar 2 juta orang. Seluruh yang hadir tahun ini merupakan warga Arab Saudi atau warga negara asing yang sudah bermukim di kerajaan atau ekspatriat, yang diizinkan melaksanakan haji.

Para peziarah diminta menggunakan masker dan menjaga jarak. Mereka pun mendapat perlengkapan untuk menjalani tahapan ibadah haji, mulai dari kerikil yang sudah disterilkan untuk lempar jumrah, disinfektan, masker, sajadah hingga ihram. (Kompas.com, 29/7/2020)

Pemerintah Arab Saudi memberlakukan protokol kesehatan yang ketat terhadap para tamu Allah. Mereka juga harus menjalani karantina sebelum dan sesudah haji. Apalagi di Arab saudi sendiri terdapat lebih dari 270.000 kasus virus corona dengan hampir 3.000 kematian, bahkan merupakan salah satu yang terbesar di Timur Tengah. (BBC.com, 19/7/2020)

Inilah akibat tidak adanya satu negara pun di dunia yang menerapkan Islam kafah. Sehingga tata cara hidup di tengah pandemi ala Rasulullah, tidak dijadikan sebagai panduan. Alhasil tidak ada penjagaan terhadap umat dan menyebabkan banyak manusia yang terpapar Covid-19. Sampai-sampai ibadah pun terhambat, salah satunya adalah ibadah haji.

Padahal di masa Rasulullah saw, momen haji selalu beliau manfaatkan untuk berdakwah, menyebarkan opini Islam, menyatukan pemikiran dan perasaan umat agar hati dan pikiran mereka senantiasa tercurah pada Islam. Hal ini pun kemudian dilakukan kaum muslim dari seluruh dunia, saling bertukar informasi untuk merekatkan ikatan akidah.

Maka kini meskipun hanya sejumlah kecil jemaah yang menginjakkan kakinya di baitullah, namun upaya pencerdasan umat dan saling bertukar info, tetap harus dilakukan melalui dakwah daring yang terus berkelanjutannya. Agar umat tidak berpaling ke solusi lain selain Islam dan persatuan umat terwujud.

Rasulullah bersabda, ”Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).

/Keluarga Teladan/

Mekah yang mempunyai 11 nama lain seperti Bakkah, Al Balad Al-Amin, Um Al-Qura, dan sebagainya, merupakan kawasan yang dikelilingi bukit gersang, kering dan berbatu dengan ketinggian sampai 300 meter di atas permukaan laut. Kini bagaikan magnit dunia, menjadi tujuan umat melabuhkan hatinya.

Maka doa Nabi Ibrahim as, ketika meninggalkan Siti Hajar dan bayi kecil Ismail, tercapai. Terdapat pada Alquran surat Ibrahim ayat 37,

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Sungguh tampak dalam doa tersebut, kecintaannya kepada umat. Tidak hanya itu, keluarga Abul Anbiya (bapaknya para nabi) pun menjadi teladan terutama karena pengorbanannya yang luar biasa. Mereka menempatkan Allah di posisi tertinggi, sehingga tidak menyembah pada selain Allah. Serta tidak mencintai hal lain, di atas kecintaan kepada Allah.

Betapa tidak, Ibrahim as baru memiliki anak di usia lanjut. Tapi tak lama kemudian, ia harus meninggalkan anak dan isterinya di gurun pasir serta kemudian menyembelihnya, sebagaimana diperintahkan Allah. Ketaatan Ibrahim pada Allah menjadikannya kekasih Allah (Khalilullah). Rela mengorbankan yang dicintainya, demi Allah semata.

Tak berbeda dengan Ibrahim, isterinya pun memiliki kesabaran saat berjalan dalam ketundukan pada Rab yang Maha Tinggi. Seperti diriwayatkan ketika Nabi Ibrahim AS hendak pergi, Siti Hajar menahannya dan berkata, “Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini tanpa bekal untuk mencukupi kebutuhan kami?”
Nabi Ibrahim AS tidak menjawab dan hendak beranjak.

Siti Hajar kembali bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal ini?”

Nabi Ibrahim AS menjawab, “Ya.”
Siti Hajar kemudian berkata, “Kalau begitu Dia tidak akan membiarkan kami.”

Dialog tersebut menunjukkan kondisi keimanan Siti Hajar. Berbekal takwa pada Allah, ia siap menerima konsekuensi ditempatkan di situasi sulit. Ia pun tidak diam, tapi mencari solusi dengan bolak balik berlari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah. Demikian terjadi berulang kali seraya memohon pertolongan Allah.

Padahal area perbukitan itu kering dengan udara panas terik membakar, berjarak 3,15 km dengan kontur bukit bebatuan, tentu bukan perkara mudah baginya.

Akan tetapi usahanya membuahkan hasil. Allah perkenankan air zam-zam memancar, yang sampai kini tidak habis, sekalipun diambil jutaan peziarah. Buah yang manis dari sebuah kesungguhan.

Begitupun Ismail as, tidak jauh berbeda dengan ayah bundanya, pengorbanannya pun tak kalah hebatnya.

Di usia belia, Ismail kecil siap menerima ketentuan Allah. Hatinya menjadi lembut sebab dibentuk dalam keluarga yang penuh dengan suasana keimanan. Hingga pada akhirnya menjadi pribadi gemilang, rela berkorban demi tegaknya agama Allah.

Keluarga Ibrahim adalah gambaran keluarga tangguh dengan kecintaan yang tinggi kepada Allah. Hal inilah yang patut diteladani, yaitu kesediaan untuk terikat dengan syariat dan mengerahkan segenap daya, baik itu harta, tenaga dan pikiran untuk memperjuangkan yang haq. Sembari terus mengamati kondisi umat serta menjaganya agar umat senantiasa berada dalam ketinggian berpikir.

Di samping itu, mengarahkan umat pada identitas muslim yang dibawanya sejak lahir. Pada Islam, yang sejatinya merupakan akidah sempurna. Tidak hanya berupa ibadah ritual, namun lengkap dengan solusi sahih bagi seluruh permasalahan umat. Dengan ini seluruh kerusakan akan sirna, dan umat kembali menjadi pemeran utama peradaban.

Seperti halnya Ibrahim as ketika berharap kebaikan pada diri umat, seperti itulah aktivitas kaum muslim untuk mengembalikan umat pada jati dirinya sebagai ‘Khoiru ummah’ atau umat terbaik. Menyatukan mereka dengan meluruhkan semua sekat nasionalisme yang menghalangi ikatan akidah. Pada akhirnya, Ummatan waahidatan adalah sebuah keniscayaan.

Sketsa kehidupan umat yang rapi dan teratur, tampak pada jemaah haji yang menanggalkan seluruh atributnya tatkala berhaji. Menghadap kabah yang sama, berpakaian ihrom yang sama, hanya memiliki satu identitas yaitu sebagai muslim.

Satu tubuh, aturan, pemikiran dan perasaan, serta kepemimpinan yang satu, yang kelak akan mengantarkan umat pada posisinya sebagai pemimpin peradaban. Allahumanshurnaa bil Islam.

*Muslimah pengemban dakwah dari Cirebon

 

Comment

Rekomendasi Berita