by

Nabillah Syifauzzuhrah, S.Kom*: Resesi Ancaman Nyata Negara

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sepekan terakhir, berseliweran kata resesi. Hal ini dipicu negara tetangga seperti Singapura sudah mengalaminya. Sehingga dikhawatirkan ancaman resesi di Indonesia kian nyata.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga telah mengingatkan para menterinya beberapa kali soal ancaman tersebut karena pandemi Covid-19 ini yang tak kunjung henti.

Sebelum resesi benar-benar terjadi, akhirnya banyak dari para ahli yang mulai menghimbau masyarakat untuk mencegahnya.

Seperti yang dilansir detikcom, Jumat (17/7/2020), Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi.

Senada dengan itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan bahwa di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan.

Jika dilihat dari himbauan di atas, apakah cukup untuk menyelesaikan secara tuntas resesi pada suatu negara? Apakah solutif? Karena, jika negara tak cepat menyelesaikan ini, resesi bisa berlangsung dalam jangka waktu panjang sehingga menimbulkan depresi.

Faktanya, di tengah wabah global Covid-19 ini, ‘kemajuan ekonomi dan bisnis’ pada sistem ekonomi kapitalis gagal mewujudkan solusi nyata untuk menyelesaikan problem ekonomi imbas pandemi. Sistem Kapitalisme juga gagal mewujudkan kesejahteraan umat manusia serta kemiskinan bagi mayoritas penduduk dunia.

Dalam sejarah perekonomian dunia, banyak negara pernah melalui resesi. Tak hanya menghantam negara-negara berkembang, resesi ekonomi juga pernah dialami oleh beberapa negara maju seperti Prancis, Spanyol bahkan Rusia yang dikenal sebagai negara super power tandingan Amerika Serikat sepanjang tahun 2015.

Kekacauan ekonomi yang cenderung diciptakan oleh ekonomi kapitalis disebabkan karena berdiri di atas sektor non riil dan sistem ribawi. Sektor non-riil ini dikembangkan oleh negara-negara kapitalis untuk melakukan investasi secara tidak langsung, yaitu melalui pasar modal dengan membeli saham-saham yang ada di pasar modal.

Itulah tabiat dari sistem ekonomi kapitalis membuat regara menjadi resesi hingga depresi. Hal ini disebabkan sistem ekonomi kapitalis dibangun pada struktur ekonomi semu yakni ekonomi sektor non riil. Bukan ekonomi yang sesungguhnya, yaitu ekonomi sektor riil.

Maka solusi resesi bukan hanya menghimbau rakyat untuk menabung, menjauhi sikap boros atau hidup hemat. Hidup hemat memang merupakan ajaran Islam tapi itu saja tidak cukup. Sebab, solusi-solusi tersebut hanya bersifat individual saja. Sedangkan resesi ini adalah masalah yang sistemis.

Sistem ekonomi Islam adalah satu-satunya pilihan untuk menata ekonomi bangsa ini. Sistem ekonomi yang bersumber dari Allah inilah yang akan mewujudkan ekonomi yang tumbuh, stabil dan bebas krisis serta berkeadilan. Selain berbasis ekonomi riil dari sektor pertanian, industri, perdagangan dan jasa, sistem ini akan menghapus segala bentuk riba dan badan usaha yang akadnya tidak sesuai syariah.

Dalam sistem ekonomi Islam terdapat tiga unsur-unsur kepemilikan, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Kepemilikan publik merupakan seluruh kekayaan yang sudah Allah tetapkan kepemilikannya bagi kaum Muslim sehingga kekayaan tersebut menjadi milik bersama kaum Muslim.

Individu-individu boleh mengambil manfaat dari kekayaan tersebut, namun terlarang memilikinya secara pribadi seperti fasilitas umum, barang tambang. Sedangkan Kepemilikan individu dibatasi oleh kepemilikan negara dan kepemilikan umum. Individu tidak boleh memiliki harta yang terkategori harta milik negara dan harta milik umum.

Jika semua potensi tersebut dikelola dengan Islam akan mampu membangun ketahanan Negara sehingga membawa kesejahteraan bagi rakyat serta akan mengeluarkan rakyat dari krisis dengan segera.

Sistem ekonomi Islam juga akan memberlakukan mata uang berbasis emas dan perak (dinar-dirham) yang tidak bergantung pada mata uang lain sehingga bebas krisis moneter.

Demikianlah gambaran sistem ekonomi Islam, sejatinya merupakan solusi bagi umat manusia untuk keluar dari krisis dan hidup sejahtera. Untuk itu, kita membutuhkan Khilafah Islamiyah sebagai institusi yang menerapkannya.

Sebaliknya, sistem kapitalisme sungguh nyata kegagalannya menyejahterakan manusia sekalipun tanpa wabah pandemi. Apalagi saat wabah seperti ini, ketika kekhawatiran bahkan kekacauan telah terjadi di mana-mana sementara solusi yang benar tak kunjung hadir.

Benarlah firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (TQS Al Anfaal: 24).

Semoga umat makin sadar kebaikan sistem Islam dan berjuang mewujudkannya demi kehidupan sejahtera dan diberkahi Allah SWT. Aamiin. Wallahu a’lam bishshawab. []

Comment

Rekomendasi Berita