by

Noor Hidayah, SIP, MPA*: Perjodohan Kampus dan Industri, Pendidikan Minus Visi

-Opini-14 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memulai gerakan ‘Pernikahan Massal’ (link and match) antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja.

Sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ditargetkan melakukan pernikahan massal pada tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri.

Program ini akan diteruskan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi (http://kagama.co)

Strategi ‘perjodohan’ ini dinilai penting agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi untuk saling memperkuat keduanya.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, Kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha.

Pemerintah memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak Kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian (https://www.lensaindonesia.com).

‘Perjodohan massal’ antara pihak Kampus dan industri ini dilakukan hingga tahap kontrak rekrutmen mahasiswa di perusahaan, terkait peluang usaha.

‘Perjodohan’ ini disinyalir dapat menguntungkan banyak pihak. Dengan adanya link and match tersebut, lulusan pendidikan vokasi akan semakin dihargai oleh industri dan dunia kerja bukan semata-mata karena ijazahnya melainkan karena kompetensinya yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Pihak industri juga akan diuntungkan karena tidak perlu lagi mengadakan training yang memakan banyak waktu dan berbiaya mahal bagi para pekerja barunya, karena materi pelatihan di industri sejak awal sudah dimasukkan ke dalam kurikulum dan diajarkan dosen bersama praktisi dari industri.

Sekilas, nampak bahwa kebijakan ini memang bermanfaat dan tepat sasaran. Di era kapitalis saat ini, arahan hidup memang ditujukan kepada perolehan materi.

Materi menjadi standar kebahagiaan dan kesuksesan hidup; punya mobil mewah dan rumah megah adalah ukuran sukses. Tak terkecuali di dunia pendidikan. Pendidikan tak lagi bervisi pada penciptaan pribadi-pribadi yang cerdas, berkarakter unggul, berakhlakul karimah serta berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, namun beralih pada terciptanya tenaga terdidik yang siap terjun ke dunia kerja. Tak heran, produk Pendidikan pun minim visi, yang penting lulus dan langsung diterima di dunia kerja.

Akibatnya, banyak orang pintar secara akademik namun tidak didukung dengan akhlak yang baik. Menjadi professor tapi juga koruptor, lulusan sarjana tapi tak peduli sesama, bergelar doktor tapi berprofesi manipulator.

Sekularisasi Pendidikan

Nampak bahwa Pendidikan di sistem kapitalis lebih memilih orientasi kompetensi, daripada karakter. Yakni bagaimana membekali peserta didik agar siap menghadapi era disrupsi dalam konteks siap memasuki dunia kerja yang terus berkembang.

Pendidikan akhirnya berorientasi menghasilkan generasi pekerja dan budak teknologi. Padahal, ketika teknologi kini lebih banyak dikuasai korporasi, maka apa yang bisa mereka dapatkan dan kembangkan, selain hanya memberi keuntungan kepada pihak korporasi atau pemilik modal?

Maka harus dipahami, bahwa yang digarap oleh pendidikan sejatinya bukan hanya masalah kompetensi. Kalaupun dalam program prioritasnya, pendidikan akan diarahkan pada revolusi mental melalui suatu konten pembelajaran yang diharapkan bisa membangun karakter anak, maka perlu dipertanyakan konten yang bagaimana, dan apa program kerjanya agar bisa betul-betul membentuk SDM yang berkarakter sahih di tengah derasnya arus sistem kapitalisasi dan liberalisasi di berbagai bidang lainnya.

Sehingga, pendidikan harus dirancang untuk menuntaskan persoalan SDM bangsa secara umum. Dan jika ditelusuri, maka problem karakter bahkan lebih menonjol ketimbang kompetensi.

Sampai di sini, dapat dikatakan bahwa konsep Pendidikan kapitalis telah memisahkan (mengesampingkan) pembentukan kepribadian dari kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi. Atau dengan kata lain, terjadi sekulerisasi pendidikan. Yakni tercipta manusia-manusia yang mumpuni teknologi, namun minim kepribadian Islamnya.

Ini tentu tidak boleh dan berbahaya. Mereka akan mudah menjual kemampuannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk membangun masyarakat. Padahal, pendidikan diselenggarakan untuk membangun masyarakat.

Dan dengan ‘perjodohan’ ini, Pemerintah akan semakin mengokohkan peran Lembaga Pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi industri. Pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian utuh manusia sebagai hamba Allah khalifah fil ardhi, dikerdilkan hanya mencetak manusia bermental buruh.

Arah Pendidikan Islam

Islam menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan pokok bagi seluruh manusia yang wajib dipenuhi oleh Negara. Oleh karena itu, Negara menjamin warganya baik laki-laki maupun perempuan dari segala kalangan untuk dapat mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan tanpa membebankan biaya serta demi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dengan pendidikan itu pula, manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal kehidupannya.

Asas pendidikan dalam konsep pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.

Dalam Islam, kurikulum pendidikan harus berdasarkan aqidah Islam. Mata pelajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikitpun dalam pendidikan dari asas tersebut.

Pendidikan ditujukan untuk mewujudkan manusia berkepribadian Islam dengan pola pikir dan pola sikap Islami, di samping membekali manusia dengan ilmu dan pengetahuan berkaitan dengan kehidupan.

Dengan tujuan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi bertaqwa, tunduk dan patuh pada hukum Allah.

Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban.

Jadi Pendidikan tidak sekedar menjadi faktor produksi untuk menghasilkan tenaga kerja dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha. Produk pendidikan tak hanya mencetak buruh, tapi juga pengusaha-pengusaha yang handal, yang mampu menguasai teknologi dan menciptakan inovasi.

Fenomena inovasi dan kemajuan teknologi dalam Islam berfungsi sebagai sarana untuk memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan. Berbagai tantangan yang muncul sebagai dampak dari kemunculannya dihadapi dengan landasan iman dan taqwa.

Dengan sistem pendidikan Islam yang visioner sejak dari level dasar, menengah sampai pendidikan tinggi dimana falsafah dan tradisi keilmuannya bersumber hanya dari aqidah Islam, generasi yang lahir adalah generasi berkualitas yang bermental pemimpin dan berintegritas Mukmin, dengan berbagai keahlian dan bidang kepakaran dengan memanfaatkan sarana inovasi dan kemajuan teknologi yang ada.

Di era keemasan Islam, sejarah telah mencatat bahwa dari sistem ini terlahir para cendekiawan/ilmuwan peletak dasar ilmu-ilmu sains dan teknologi, yang akhirnya mampu membawa Islam mengalami kejayaan dan menjadi mercu suar dunia.

Berbagai kemajuan sains dan teknologi yang pernah dicapai oleh kaum Muslim pada masa tersebut antara lain di bidang ilmu bumi, ilmu astronomi, ilmu matematika/ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu sejarah alam maupun ilmu kedokteran.

Masyarakat dan generasi penerus Islam tidak lantas tergerus dengan kemajuan berbagai sains dan teknologi tersebut. Namun sebaliknya, kemajuan Islam itu mewarnai peradaban lainnya.

Dalam sebuah buku berjudul _“What Islam did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization”_ (London: Watkins Publishing, 2006) karya Tim Wallace-Murphy, dipaparkan data tentang bagaimana transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada zaman yang dikenal di Barat sebagai Zaman Pertengahan (the Middle Ages).

Penulis menyebutkan bahwa Barat telah berutang kepada Islam. Utang Barat terhadap Islam adalah hal yang tak ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun.

Demikianlah sistem pendidikan Islam diarahkan. Karena itu, di tengah arus ‘perjodohan’ kampus dan industri di era milenial ini, masyarakat harus dicerdaskan tentang sistem pendidikan sahih.

Dan perubahan signifikan dalam pendidikan bisa diharapkan terwujud, ketika negara diatur dengan syariat Islam kaffah. Wallahu a’lam.[]

*ASN-tinggal di Puspiptek

 

Comment

Rekomendasi Berita