by

Sri Mulyati*: Tolak Komunisme Beralih Kepada Totalitas Islam

-Opini-26 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Keresahan masyarakat akan hadirnya RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) yang berpotensi memunculkan paham Komunisme.

Berbagai situs membahas mengenai perkara ini, salah satu pembahasannya adalah menggantikan Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila. Keresahan ini mendorong dan menggerakan hati umat Islam dengan aksi menolak hadirnya RUU HIP pada aksi Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Ribuan orang memenuhi Lapangan Ahmad Yani, diikuti sejumlah Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), PA 212, dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) ulama. (Cirebon.pikiran-rakyat.com, 05/07/2020).

Aksi tersebut bentuk pernyataan sikap atas ketidak setujuannya masyarakat dan para tokoh terhadap RUU HIP. Dalam apel tersebut para peserta diminta berikrar untuk siap jihad qital memerangi kaum komunis dan pihak yang ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila.

Aksi umat Tolak komunis hingga resolusi jihad qital adalah wujud semangat memperjuangkan al-Haq (Islam) dengan jiwa, raga dan nyawa.

Peserta apel juga diminta untuk membaca dua kalimat syahadat dan berucap: “Kami Laskar Aliansi Nasional Anti-Komunis berikrar dan bertekad. Satu, bahwa kami akan menjadi pembela agama, bangsa dan negara.

Dua, siap siaga dan menyiapkan diri untuk jihad qital mempertahankan akidah Islam dan melawan kaum komunis di bawah komando ulama. Tiga, para laskar siap siaga untuk menjaga para ulama dari serangan kaum komunis. Empat, mereka menyiapkan diri dari serangan operasi intelijen hitam yang prokomunis.” (nasional.tempo.co, 05/07/2020)

Semangat membela Islam kian menyentuh jiwa-jiwa yang turut hadir pada aksi tersebut. Namun, apakah hal demikian akan menyelesaikan akar permasalahan yang sesungguhnya.

Umat Islam memang telah tersadarkan akan bahaya pemikiran komunisme jika benar-benar bangkit di negeri ini. Ideologi yang rusak dan tidak sesuai dengan fitrah manusia, meniadakan Tuhan sebagai pencipta yang mudah untuk di pahami akan kesesatannya yang nyata. Terlebih, Indonesia telah mengalami trauma yang cukup mendalam ketika peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Kekejaman mereka mudah untuk menyadarkan umat.

Jika paham Komunisme telah mereka tolak, sudah seharusnya isme-isme yang lainnya ditolak. Seperti sekulerisme, liberalisme, Kapitalisme yang terlahir dari rahim yang sama yaitu sistem kufur buatan manusia. Sistem sekularisme yang menjauhkan nilai-nilai agama dengan kehidupan.

Sistem ini yang menghendaki peraturan peribadahan yang bersifat spritual saja yang dibolehkan. Sedangkan, peraturan tata kehidupan yang lainnya seperti aturan dalam ekonomi, politik, sosial, hukum, pendidikan dan aturan kehidupan yang lainnya, tidak berlandaskan nilai-nilai yang tertuang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dilarang.

Dari sisi ekonomi yang menganut sistem Kapitalisme menghendaki adanya riba dimana-mana dalam transaksi. Selain itu, penguasaan hak milik umum di kuasasi oleh individu yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Sebagai akibatnya yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Diksriminasi sosial terjadi, sulitnya penghidupan dan yang lainnya.

Sekularisme di bidang pendidikan yang menghendaki ketidak jelasan kurikulum yang diajarkan kepada siswa, menjadikan siswa kehilangan arah serta kehilangan jati diri sebagai hamba Allah. Pun secara fitrah dalam pandangan Islam tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia sebagai hamba Allah yang berkewajiban untuk beribadah kepada Allah Swt secara total.

Dengan adanya pendidikan yang sekuler, orientasinya pun berbelok menjadi mendapatkan materi sebagai asas kebahagiaan. Bukan hal yang aneh jika pendidikan kita sekarang ini tidak mengalami perubahan bahkan cenderung berubah menjadi keBarat-baratan dan semakin bobrok seiring berjalannya waktu.

Kemudian, sekulerisme bidang politik dijadikan sebagai wadah untuk meraih kekuasaan yang setinggi-tingginya. Hanya sebatas pemilihan Pilpres dan Pilkada saja rakyat diperhatikan untuk menarik simpati dan dukungan terhadap mereka.

Berbeda dengan Islam politik yang bermakna mengurusi urusan umat.

Oleh sebab itu, penolakan akan bahaya laten Komunisme dan sekulerisme serta isme-isme yang lain, semuanya merupakan sistem kufur yang sudah semestinya kita tolak dan dibuang jauh-jauh.

Sekarang sudah saatnya kembali kepada aturan sang Pencipta dengan semangat jihad yang membara. Menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya landasan dalam berbangsa dan bernegara. Sebagaimana apa yang telah Allah Swt firmankan dalam Qs.ar-Rum:41 apabila kita masih mempertahankan sistem kufur ini akan mengalami kerusakan.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(TQS Ar-Rum: 41).

Tidaklah kita merasakan kerusakan dari berbagai sendi ketika berada di atas jalan bukan jalan Islam. Di tegaskan kembali dalam Qs.ali-Imran [3]: 85.

ومن يبتغ غير الاسلام دينا فمن يقبل منه وهو فى لاخرة من الخسرين

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam. Dia tidak akan diterima, dan diakhirat dia termasuk orang yang rugi” Qs.ali-Imran [3]: 85.

Untuk itu saatnya bagi kita mengajak umat dari berbagai kalangan untuk bersatu padu melawan dengan cara dakwah secara sungguh-sungguh, mengembalikan kejayaan Islam yang telah hilang.

Menggencarkan dakwah Islam kafah di seluruh lapisan masyarakat. Menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Menghapus dan menolak sistem kufur hingga keakar-akarnya.

Mengimplementasikan pemerintahan Rasulullah saw dan Para sahabat dalam mengatur jalannya pemerintahan. Pada akhirnya, kekuatan Islam mampu menghadang Ideologi Komunisme dan Kapitalisme yang rusak. Wallahu a’lam bish shawab.[]

*Mahasiswi

Comment

Rekomendasi Berita