by

Wulan Citra Dewi, S.Pd*: Ilusi Perbaikan Generasi Melalui Moderisasi Agama

-Opini-51 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!”

Kalimat ini tentu tidak asing di telinga kita. Rangkaian aksara yang memiliki makna istimewa. Sebuah ucapan sungguh-sungguh dari seorang Soakrano, kepala negara pertama Republik Indonesia. Ya, bahwa pemuda adalah simbol kekuatan sekaligus harapan bagi sebuah bangsa.

Sesungguhnya bukan hanya pada masa Soekarno, bahkan jauh sebelum bumi terbelah menjadi banyak bangsa, sosok pemuda juga telah diperbincangkan di dalam Alquran yang mulia. Adalah surat Al-Kahfi, secara heroik berkisah tentang perjuangan seorang pemuda dalam melawan kezaliman yang ada. Begitupula dalam literatur sejarah perjuangan Rasulullah Saw., peran pemuda memang mendominasi adanya.

Demikianlah pemuda, dari masa ke masa selalu layak menjadi pusat perhatian. Karena hakikatnya, warna sebuah peradaban di masa yang akan datang sangat tergantung bagaimana kualitas generasi mudanya. Maka tidak mengherankan jika berbagai kalangan membidik generasi muda untuk digerakkan sesuai arah kepentingan yang ada.

Generasi Kita Hari Ini

Di era digital ini begitu mudah kita dapati potret realita generasi muda. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa generasi kita tengah dihantam badai sunami persoalan yang mengerikan.

Dari mulai persoalan pergaulan bebas, tawuran, premanisme, narkoba, pornografi, pornoaksi, kecanduan game, perundungan, bahkan sampai pada taraf menghilangkan nyawa adalah kasus harian para remaja yang dapat kita jumpai di media masa.

Peristiwa pengeroyokan yang di alami oleh seorang guru di Kupang pada Maret 2020 lalu tentu masih segar dalam ingatan kita. Sebagaimana yang diberitakan TribunManado.co.id (3/3), pahlawan tanpa tanda jasa tersebut dikeroyok oleh tiga pemuda yang tidak lain adalah muridnya sendiri. Motif pengeroyokan adalah karena siswa tidak terima mendapat teguran dari sang guru. Sungguh memprihatinkan!

Akhir 2019 pun kita juga dikejutkan oleh aksi dua remaja SMP di Yogyakarta. Bukannya bersungguh-sungguh menggoreskan pena dalam belajar, dua siswa ini justru menyabetkan golok kepada salah satu siswa kelas 12 SMA. Menurut Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta Kompol Sutikno, motif ABG tersebut adalah ”Sengaja mencari lawan”. (Kumparan, 2/12). Jelas, ini sangat mengerikan!

Baru-baru ini jagad sosial media juga dihebohkan oleh ulah siswa-siswi di Riau. Segerombolan remaja berseragam putih abu-abu ini merayakan kelulusan sekolah dengan kegiatan yang tidak etis.

Foto-foto sensual mereka juga beredar di dunia maya dan sama sekali tidak mencerminkan etika sebagai kaum yang terpelajar. Telak, kasus ini membelalakkan mata semua pihak. Miris!

Tentu kasus-kasus ini hanyalah sekelumitnya saja. Sebagaimana fenomena gunung es, apa yang ada di dasar jauh lebih besar daripada yang tampak dipermukaannya. Mau atau tidak, kita harus menerimanya sebagai realita.

Pada intinya, kita harus menyadari bahwa inilah potret generasi bangsa saat ini. Hampir menyeluruh di setiap wilayah nusantara, generasi muda kita kehilangan moralitasnya. Cenderung bergaya hidup bebas dan tidak peduli pada aturan.

Mudah sekali terombang-ambing pada arus kekinian tanpa mempunyai prinsip sebagai pegangan kehidupan. Mengejar ketenaran adalah tujuan utama tanpa peduli sekeji apa untuk meraihnya. Ya, inilah potret generasi kita hari ini. Butuh solusi!

Moderasi Agama dalam Pendidikan, Solusi atau Ilusi?

Fakta kondisi generasi muda hari ini memang meresahkan berbagai kalangan. Banyak pihak yang kemudian merumuskan strategi apa yang mesti dipakai untuk menyelamatkan generasi. Lantas, benarkah moderasi agama bisa menjadi solusi atas moralitas remaja yang telah tergilas?

Jika kita menilik lebih cermat, persoalan generasi saat ini justru terletak pada minimnya pemahaman agama mereka. Sikap ingin bebas, hedonisme, premanisme, dan berbagai tindakan amoral lainnya adalah akibat dijauhkannya peran agama dalam kehidupan (Sekularisme). Sehingga generasi muda hanya memahami agama sebatas ibadah ritual yang bersifat privasi semata.

Sekularisme telah menggiring pemahaman bahwa manusia harus menjunjung kebebasan. Tidak boleh ada batas yang menghalangi kebebasan setiap individu. Termasuk adanya Tuhan, tidak boleh menjadi penghalang dalam setiap pilihan hidup manusia. Ini jelas berbahaya!

Sebab, ketika kebebasan sudah dituhankan maka yang terjadi adalah hukum rimba. Tidak ada beda dengan hewan bahkan bisa lebih nista lagi. Mengerikan!

Faktanya, sadar atau tidak paham sekularisme ini disebarkan secara masif dalam berbagai konten yang ada. Perfilm-an, musik, bacaan-bacaan, bahkan juga aplikasi game di sosial media tidak luput dari nilai-nilai sekularisme. Perlahan tapi pasti, kita dibiasakan untuk menerima bahkan melakukan kesalahan (kemaksiatan) dengan mengkonsumsi konten-konten rusak yang beredar bebas tersebut atas nama hak asasi manusia.

Hal ini jelas berbahaya dan tidak boleh dibiarkan. Sekularisme inilah yang sesungguhnya menjadikan generasi kehilangan eksistensi dalam menjaga bangsanya. Sekularisme menggiring siapa saja untuk berpikir pragmatis dan serba instan.

Hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Lebih pada foya-foya dan mengejar kesenangan semata. Tidak jarang yang kemudian mati sia-sia baik jiwa maupun raganya. Jelas, sekularisme ini adalah bahaya laten yang mesti dimusnahkan.

Maka demikian, semestinya kita tidak gagal fokus dalam memberikan solusi bagi nasib generasi.

Jika memang hal ini benar-benar ditujukan untuk mewujudkan generasi yang beriman, bertakwa, serta berakhlak mulia demi mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana disebutkan dalam konstitusi pasal 31 ayat 3, kita harus fokus membidik akar persoalan yang sesungguhnya yakni sekularisme. Bukan justru sibuk memoderasi agama yang bahkan tidak ada kaitannya dengan persoalan generasi kita.

Generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia ini hanya bisa terwujud ketika islam dipahami secara menyeluruh.

Tidak ada pengkebirian dalam proses pengajarannya kepada seluruh peserta didik. Baik di sekolah umum ataupun di bawah pengawasan Depag seperti RA-MI, MTS, dan MA. Konsep Islam harus diberikan secara utuh tanpa ada yang ditutupi atau dikaburkan.

Pembahasan soal toleransi, misalnya. Maka islam telah jelas memberikan batasan. Agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku. Artinya, tidak ada paksaan dalam memeluk agama.

Saling menghormati dan mengharagai agama masing-masing tanpa harus ikut terlibat apapun di dalamnya. Inilah toleransi yang diajarkan dalam islam dan telah terbukti mampu menebarkan kedamaian lebih dari 13 abad pada masanya.

Nah, jangan sampai yang sudah jelas ini justru menjadi rancu nantinya dengan moderasi agama.

Kemudian materi ajar soal Khilafah. Ini juga harus dijelaskan sebagaimana mestinya. Bahwa khilafah tidak sekadar sejarah semata, melainkan ia merupakan ajaran islam yang seharusnya dilaksanakan sebagaimana salat, puasa, dan lainnya.

Tidak boleh ada pengkerdilan dalam memahami konsep khilafah. Harus benar sesuai dengan apa yang telah Allah Swt. wahyukan dan Rasulullah Saw. kabarkan.

Pemahaman islam secara menyeluruh inilah yang akan menumbuhkan sikap peduli pada diri genarasi. Bukan hanya peduli pada diri sendiri, tetapi juga pada sesama manusia, bangsa, bahkan juga peradaban dunia. Kenapa demikian? Sebab pemahaman islam yang sempurna akan menumbuhkan keimanan paripurna.

Keimanan inilah yang mendorong setiap jiwa untuk berlomba-lomba dalam melakukan amal saleh. Termasuk menjaga keutuhan bangsa dari tangan-tangan dzalim, jelas menjadi amal mulia yang pasti dilakukan oleh orang beriman. Bukankah ini yang kita harapkan?

Sebagaimana para pemuda pada era perjuangan mengusir penjajah, maka demikianlah semestinya kita tempah pemuda kita hari ini. Seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponogoro, dan Bung Tomo. Berjiwa kesatria, berpikiran cerdas, serta memiliki iman dan takwa yang tidak diragukan.

Melalui pekikan takbir, mereka berhasil mengobarkan semangat juang para pemuda mengusir para penjajah dan meraih kemerdekaan.

Inilah generasi pemuda yang kita harapkan. Generasi yang layak dijadikan sebagai simbol kekuatan sebuah bangsa. Berjiwa pemimpin dan siap mengukir peradaban gemilang di masa yang akan datang.

Tentu saja, karakter ini dapat terwujud jika islam dipahami secara sempurna. Bukan dengan moderasi agama. Wallahu’alam.[]

*Pemerhati Pendidikan dan Remaja

Comment

Rekomendasi Berita