by

Yuchyil Firdausi, S. Farm., Apt: Ancaman Ledakan Kasus Era New Normal, OTG millenial Dan Dugaan Sebaran Melalui Udara 

-Opini-26 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hingga kini pandemi Covid-19 di dunia, khususnya di Indonesia masih belum berakhir. Bulan Juli yang sebelumnya diprediksi menjadi bulan dimana kurva akan melandai ternyata faktanya justru kebalikannya. Angka penambahan kasus covid-19 tak kunjung turun, bahkan entah apakah sudah mencapai puncak kurva atau belum.

Angka kasus covid-19 semakin hari semakin meningkat dan bertambah secara signifikan, penambahan kasus per harinya bisa mencapai 1000 lebih. Angka yang fantastis!

Berbagai algoritma memprediksi harusnya bulan Mei menjadi Puncak kurva peningkatan angka kasus Coivd-19 dan bulan Juli harusnya sudah melandai, namun melihat angka fantastis tersebut kurva melandai akan sulit rasanya dicapai.

Peningkatan kasus terjadi setelah diberlakukannya new normal ala pemerintah. Seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa virus corona ini tak dapat diusir dari kehidupan dan masyarakat dipaksa untuk hidup berdampingan dengan virus kecil tak kasat mata ini.

Pun untuk memulihkan ekonomi yang lumpuh dalam beberapa bulan terkahir ini maka diberlakukan New Normal dimana pusat-pusat perbelanjaan boleh dibuka, transportasi umum mulai beroperasi lagi, tempat kerja sudah mulai boleh masuk, bahkan beberapa sekolah pun memulai aktivitasnya secara offline.

Semua itu dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Namun, kenyataannya skenario new normal tidak berjalan dengan baik di masyarakat. Masih banyak pelanggaran masyarakat yang tidak disiplin dengan protokol kesehatan.

Banyak ditemukan masyarakat yang sudah tidak mengenakan masker lagi jika keluar rumah, tak ada lagi social distancing di tengah masyarakat, tak ada lagi batasan keluar masuk kota dari dan ke zona merah maupun hitam, penggunaan hand sanitizer dan kesadaran mencuci tangan pun juga sudah mulai menurun.

Bagai buah simalakama, alih-alih ingin memulihkan ekonomi namun kasus covid-19 tak semakin menurun. Upaya pencegahan penyebaran dan memutus mata rantai penularan covid-19 pun menjadi sia-sia.

Angka kasus yang terus meningkat belakangan ini lebih banyak dari orang-orang yang tak bergejala (OTG). Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif virus corona (Covid-19) yang baru ditemukan hari ini kebanyakan berstatus sebagai orang tanpa gejala (OTG).

Yurianto menyatakan pasien dengan status OTG sama sekali tak merasakan keluhan dan tak merasakan sakit apapun meski sudah dinyatakan positif Covid-19 (cnnindonesia.com/12/07/2020).

Begitupula kasus baru di DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan 66 persen dari kasus positif Covid-19 baru di Ibu Kota merupakan orang tanpa gejala atau OTG (metro.tempo.co/12/07/2020).

Dari sebagian besar kasus OTG ternyata dialami oleh kalangan milenial. Kasus ribuan siswa-siswi Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) terpapar virus corona (COVID-19) membuktikan penyebaran virus tersebut tidak pandang bulu.

Terlebih dari siswa yang kini dinyatakan positif, rata-rata merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG) dengan usia muda atau millenial (jabar.idntimes.com/09/07/2020).

Calon siswa Secapa AD mesti berusia di bawah 26 tahun bagi yang berijazah D3, 30 tahun bagi yang berijazah S1, dan 32 tahun bagi yang berijazah S1 Profesi. Ini menunjukkan sebagian besar siswa yang terpapar adalah kalangan milenial dan dari ribuan kasus positif covid-19 tersebut hanya 17 yang dirawat dengan gejala terpapar corona, selebihnya adalah OTG (jabar.indtimes.com/09/07/2020).

Kasus secapa AD tersebut membuktikan bahwa kalangan milenial OTG lebih berbahaya dan berpotensi menyebarkan virus dengan cepat, sebab dirinya sendiri tak menyadari bahwa mereka membawa virus corona dalam tubuhnya.

Belum selesai dengan kasus OTG milenial yang terus melonjak, dunia dikejutkan lagi dengan penemuan baru dari World Health Organization (WHO). WHO kembali memperbarui, ringkasan ilmiah Transmisi SARS-CoV-2 yang diterbitkan sejak 29 Maret 2020.

Isinya terkait, COVID-19 bisa menular melalui udara dan pola pencegahannya. Sebelumnya, 239 ilmuwan dari beragam negara mendapati, Virus Corona bisa menular melalui udara. Hal itu berdasarkan riset mereka yang bertajuk: It is Time to Address Airborne Transmission of COVID-19.

Temuan-temuan baru terhadap sebaran virus Covid-19 sudah semestinya diiringi tindakan nyata pemerintah untuk memastikan putus rantai penularan. Sebab OTG milenial dan temuan baru oleh WHO menjadi ancaman ledakan kasus covid-19 di era new normal ini.

Jika tak segera dihentikan maka bukan tidak mungkin kurva angka kasus covid-19 tak akan pernah bisa melandai. Namun sangat disayangkan, harapan akan antisipasi dari pemerintah seakan pupus, sebab hingga hari ini pun tidak ada kebijakan antisipasi terhadap kantoran, pegawai BUMN, bahkan PNS.

Mereka tetap harus masuk kerja seperti biasa dan hanya mengandalkan protokol kesehatan yang kenyataannya untuk menjalankannya dikembalikan pada kesadaran individunya.

Semua rekomendasi berpulang pada kesadaran dan kehati-hatian individu. Jika semua dikembalikan pada kesadaran individu saja maka sama saja membiarkan rakyat berjuang sendiri melawan covid-19 tanpa ada pengamanan dari pemerintah.

Siapa yang kuat dia yang bertahan, siapa yang lemah dia yang kalah. Pemerintah semestinya juga tidak menganggap sepele kasus OTG karena alasan tidak membebani RS, karena OTG terutama dari kalangan milenial di era pelonggaran bisa menjadi sumber ledakan baru. Sungguh ini adalah bentuk pengabaian pemerintah atas keselamatan rakyat.

Jauh sekali dengan penanganan islam dalam mengatasi wabah menular yang berbahaya. Islam telah terlebih dahulu pernah mengalami masa-masa wabah dan memiliki solusi yang telah terbukti mampu menghentikan wabah tersebut. Solusi tersebut sudah berlaku sejak zaman Rasulullah SAW.

Tidak ada yang mengingkari keberhasilan Rasulullah SAW dalam menangani wabah. Selain sebagai seorang utusan Allah SWT, Nabi Muhammad juga sebagai seorang pemimpin yang bijak.

Beliau telah mencontohkan bahwa seorang pemimpin harus amanah dan bertanggungjawab atas yang dipimpinnya, beliau menjadi pengayom umatnya. Amanah dan tanggungjawab yang diembannya dilaksanakan dengan penuh kesadaran bahwa semua ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat di hadapan Allah SWT.

Sehingga dalam memimpin rasa keterikatan dengan hukum-hukum Allah selalu tepaut dalam hati dan terealisasi dalam aksi. Memimpin bukan karena tuntutan materi namun karena tuntunan Ilahi.

Tentu contoh dari Rasulullah SAW ini seharusnya menjadi teladan yang baik bagi para pemimpin negeri ini jika menginginkan kebaikan untuk negeri. Allah SWT berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 96:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Bisa jadi covid-19 ini adalah teguran dari Sang Pencipta kehidupan karena lalainya manusia terhadap hukum Allah. Maka sudah seharusnya kita kembali pada hukum Allah yang sempurna dan menyeluruh dan mengembalikan segala sendi kehidupan pada aturan Sang Pencipta.

Menjadikan apa yang dibawa Rasulullah SAW bukan sebagai teori belaka di sekolah namun juga harus diterapkan dalam segala aspek dan sendi kehidupan baik politik, ekonomi,  sosial dan Budaya. Wallahu’alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita