by

Yuli Ummu Raihan*: Angka Perceraian Tinggi Selama Pandemi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap pasangan yang memutuskan menikah tentu tidak ingin terjadi perceraian. Membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah tentulah menjadi dambaan setiap pasangan.

Kehidupan yang harmonis ditambah kehadiran buah hati sebagai penyejuk mata serta mewujudkan mimpi-mimpi dan menua bersama hingga maut memisahkan menjadi dambaan semua. Namun, realitas tidak selamanya sesuai dengan harapan manusia.

Perceraian menjadi ancaman bagi setiap keluarga dengan berbagai alasannya. Dilansir dari SuaraBanten.Id, (Jumat, 10/07/2020), ada 2000 suami istri di Serang-Banten bercerai selama pandemi corona sejak awal tahun 2020. Masalah ekonomi menjadi pemicunya.

Mayoritas mereka berada di Kabupaten dan Kota Serang. Menurut Dalih Effendy (Ketua Pengadilan Agama Serang) dimasa pandemi ini kemungkinan angkanya akan terus meningkat menyentuh angka 5000 pasangan.

Menurutnya, banyak yang kehilangan pekerjaan karena pandemi ini. Corona menjadi salah satu penyebab utamanya. Hal ini rentan menimbulkan perselisihan diantara pasangan suami istri yang berujung pada perceraian.

Hal yang sama terjadi di Kabupaten Bandung. Selama Juni 2020 saja tercatat 1.120 kasus perceraian. (tribuncirebon.com, 08/06/2020)

Menurut Ahmad Sadikin (Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung) angka ini naik sekitar 40 persen. Motifnya sama, didominasi masalah ekonomi dan sebagian lainnya karena adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Angka ini tentu tidak bisa disepelekan. Jumlah riilnya tentu lebih besar, karena banyak pasangan yang bercerai tanpa mengurusnya ke Pengadilan Agama.

Pandemi memang telah memberikan efek domino dalam kehidupan manusia. Sektor ekonomi adalah yang paling terdampak. Akibatnya, resesi ekonomi melanda seluruh dunia tak terkecuali Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi yang rendah ditambah pandemi hampir satu semester ini, membuat iklim ekonomi menurun. Pandemi memaksa manusia membatasi aktivitas sosialnya membuat sektor ekonomi terpuruk. Mulai dari hulu hingga hilir terdampak. Banyak perusahan, pabrik, mall dan sektor ekonomi publik lainnya mengalami penurunan omset, bahkan tidak sedikit yang terpaksa tutup.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di mana-mana. Tingkat pengangguran meningkat dan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup yang semakin besar dan mencekik.

Rasa bosan hanya berdiam diri di rumah saja dan tekanan ekonomi, rentan membuat seseorang menjadi stres. Akibatnya, mudah sekali tersulut emosi ketika terjadi perselisihan. Kurangnya pemahaman mengenai kewajiban dan hak sebagai suami dan istri menambah pelik masalah ini.

Semua ini terjadi karena masyarakat dipengaruhi oleh paham kapitalis sekular. Individu yang rapuh dan jauh dari nilai agama terwarnai pemikiran sekular dan menomorsatukan materi.

Standar kebahagian diukur dengan seberapa banyak mendapatkan kesenangan duniawi berupa tercukupinya kebutuhan jasmani dan naluri.

Kehidupan rumah tangga yang merupakan perjanjian yang agung tidak lagi bernilai ibadah sehingga sangat mudah memutuskan perceraian. Gaya hidup barat yang liberal, sedikit demi sedikit mulai mendominasi. Beragam tontonan yang tidak mendidik telah menjadi tuntunan hidup sebagian besar masyarakat.

Ketika terjadi perselisihan, begitu mudah tersulut emosi, melakukan perselingkuhan, KDRT dan berakhir pada perceraian. Seolah perceraian adalah solusi permasalahan keluarga. Padahal, perceraian justru menimbulkan berbagai macam efek. Seperti anak-anak kehilangan kasih sayang, perebutan hak asuh, penelantaran anak dan lainnya.

Masyarakat yang cenderung bersikap individual membuat amar ma’ruf nahi mungkar tidak lagi terjadi. Sikap cuek dan tidak mau tahu dengan kondisi sekitar bahkan tetangga sendiri begitu mudah kita indra.

Masalah semakin kompleks karena negara abai terhadap nasib rakyatnya. Penguasa rasa pengusaha, sehingga berhitung rugi dalam melayani rakyatnya. Rakyat dipaksa berjuang sendiri memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Belum lagi sederet kebijakan penguasa negeri ini yang menzalimi rakyat.

Seperti kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), harga sembako, pajak dan lainnya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, pandemi yang belum pasti kapan berakhir menambah beban rakyat.

Ketahanan keluarga, khususnya keluarga Muslim sedang diuji saat ini. Agama sebagai pondasi telah tergerus oleh paham sekular. Negara sebagai penjaga pun telah berlepas tangan dari tanggung jawabnya. Padahal negara adalah benteng utama di dalam Islam. Inilah yang saat ini tak ada, sejak 1924 lalu.

Saat ini, benteng terakhir umat islam yaitu keluarga. Namun benteng terakhir ini pun mulai dihancurkan.

Islam sebagai agama yang sempurna telah menyiapkan seperangkat aturan guna menjaga ketahanan keluarga. Dalam surat At-Tahrim ayat 6 Allah swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Suami sebagai kepala keluarga memiliki tanggung jawab yang besar. Membangun dan mendidik keluarga dengan akidah yang kokoh agar mampu menghadapi segala macam kondisi kehidupan, termasuk saat pandemi ini.

Akidah yang kokoh akan melahirkan pribadi yang kokoh pula. Keyakinan bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah swt. Tugas manusia hanyalah ikhtiar yang maksimal dengan menempuh cara-cara yang dibenarkan syariat. Suami bertanggung jawab penuh untuk penafkahan keluarga.

Suami bersungguh-sungguh mencari rezeki yang halal. Istri sebagai sahabat suami, membantunya untuk mengatur keuangan keluarga dan mendorong suami memaksimalkan potensinya dalam mencari nafkah.

Istri boleh saja membantu mencari nafkah, tapi bukan pengganti. Peran utamanya tetaplah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Akidah haruslah menjadi fondasi dasar setiap manusia untuk melakukan berbagai aktivitas.Termasuk dalam berumah tangga.

Melewati kehidupan Rasulullah saw dan para Salafus Shaleh dalam membangun kehidupan rumah tangga. Terus belajar dan menambah tsaqofah Islam serta introspeksi diri.

Saling menerima kekurangan pasangan dan berlapang dada atas kekurangannya selama tidak melanggar aturan agama.

Masyarakat juga harus senantiasa memiliki kepedulian sosial. Karena umat Islam itu bagaikan satu tubuh. Maka, ketika ada yang mengalami kesusahan sudah selayaknya saudaranya membantu.

Negara juga sebagai pelayan harus menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu. Menyediakan lapangan pekerjaan, dan memberikan subsidi demi meringankan beban rakyat terlebih saat pandemi seperti sekarang.

Dengan adanya harmonisasi antara suami dan istri, sikap peduli masyarakat dan peran negara diharapkan perceraian tidak mudah diambil meski terkadang tidak bisa dihindari. Wallahu a’lam bishashawab.[]

*Member AMK dan Pemerhati Kebijakan Publik

Comment

Rekomendasi Berita