by

Imas Sunengsih,S.E: Idul Adha sebagai bukti Pengorbanan Total dan Persatuan Umat

-Opini-13 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Hari Jum’at kemarin, umat Islam di seluruh dunia telah disatukan oleh Allah Swt sebagai satu umat. Kita merayakan Hari Raya ‘Idul Adha bersama-sama, sebagai umat Islam. Bukan sebagai bangsa Arab, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia. Kita merayakan hari agung yang suci ini sebagai satu umat. Kita diikat oleh akidah yang sama. Kita pun diatur dengan hukum yang sama.

Sayang, kesatuan umat ini hanya sesaat. Begitu selesai mengerjakan shalat Idul Adha dan menunaikan ibadah haji, kesatuan itu pun sirna. Lebih dari satu setengah miliar umat Islam yang kini tengah merayakan ‘Idul Adha itupun kembali menjadi buih.

Tak berdaya menghadapi berbagai persoalan yang terus-menerus menimpa mereka. Perpecahan, pertikaian, perselisihan, pelanggaran hak-hak kemanusiaan, ketidakadilan, kemiskinan dan berbagai problem lainnya begitu nyata di depan mata.

Realitas ini menunjukkan kepada kita bahwa inilah jatidiri umat Islam yang sebenarnya. Satu kesatuan yang utuh dan kokoh.

Realitas ini pun menunjukkan bahwa umat ini adalah umat yang satu. Diikat oleh akidah yang sama, akidah Islam. Diatur oleh hukum yang sama, yaitu syariah Islam. Memiliki kitab yang sama, al-Quran al-Karim. Juga menghadap kiblat yang sama, yakni Ka’bah.

Pada Hari Idul Adha 1441 H ini, biasanya kita diingatkan dengan peristiwa agung. Itulah pengorbanan Nabi Ibrahim as. dalam menaati perintah Allah Swt untuk menyembelih putranya, Ismail as.

Bagi Nabi Ibrahim as., Ismail adalah buah hati, harapan dan cintanya yang telah sangat lama didambakan. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim as. untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Allah Swt berfirman:

﴿قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

“Anakku, sungguh Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih kamu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.” (QS ash-Shaffat [37]: 102).

Menghadapi perintah itu, Nabi Ibrahim as. mengedepankan kecintaan yang tinggi, yakni kecintaan kepada Allah Swt. Ia menyingkirkan kecintaan kepada selain-Nya, yakni kecintaan kepada anak, harta dan dunia.

Demikian pula dengan Ismail as., putranya. Perintah untuk taat itu disambut oleh Ismail as. dengan penuh kesabaran dan ketaatan. Demikian sebagaimana yang dikisahkan di dalam firman Allah Swt:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

“Ayah, lakukanlah apa saja yang telah Allah perintahkan kepada engkau. Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat [37]: 102).

Kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. tersebut telah menjadi teladan bagi kaum muslim saat ini. Teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban. Juga teladan dalam ketaatan, perjuangan dan pengorbanan demi mewujudkan ketaatan pada aturan Allah Swt secara kâfah.

Ketaatan kepada Allah Swt tentu tidak hanya sebatas pada hukum-hukum ibadah ritual saja, melainkan menaati seluruh syariah Islam yang mulia.

Tentu kita yakin bahwa seluruh aturan hukum Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta ini pasti merupakan solusi bagi problematika umat manusia dan pasti mendatangkan maslahat.

Wujud ketaatan kepada Allah Swt itu adalah penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita: mulai individu, keluarga, ekonomi, pendidikan, politik hingga negara. Sangat tegas Allah Swt memerintah kita agar terikat dengan seluruh aturan Allah Swt secara kafah Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

Saat menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahulLah berkata, “Allah Swt memerintah para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariah (Islam); melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/565).

Patut diingat, ketaatan total terhadap syariah secara kafah itu merupakan konsekuensi keimanan. Hal ini didasarkan pada banyak dalil al-Quran maupun as-Sunah. Di antaranya adalah firman Allah Swt:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang telah engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS al-Nisa` [4]: 65).

Ayat ini dengan jelas menafikan keimanan seseorang hingga dia mau menjadikan Rasul saw. sebagai hakim dalam semua urusannya, disertai dengan sikap tunduk dan pasrah terhadap keputusan tersebut. Itu artinya, keimanan meniscayakan ketaatan pada syariah secara kafah.

Sungguh tidak pantas seorang mukmin menolak penerapan syariah Islam secara kafah,termasuk menolak apalagi sampai mengkriminalkan sebagian ajaran Islam, ajaran Islam tentang jihad dan khilafah. Misalnya, khilafah dituduh mengancam bangsa dan disamakan dengan ajaran Komunisme. Padahal Komunisme itu anti Tuhan, anti agama dan anti ulama.

Islam adalah agama dari Allah Swt. Ajarannya sangat mulia dan sesuai dengan fitrah yang tidak perlu ditakuti apalagi dijadikan sebagai sebuah ancaman. Islam dan syariahnya justru untuk memperbaiki kehidupan manusia. Itulah juga yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw.

Semestinya, itu pula yang harus dilakukan oleh umatnya. Seorang muslim tidak boleh bersikap cuek dengan kondisi masyarakat. Sebaliknya, hendaknya ia dengan penuh keberanian hidup dan beramal di tengah masyarakatnya, mempertahankan dan menyampaikan kebenaran keyakinannya kepada orang lain dan penguasa zalim, serta menjadi saksi atas realitas kehidupan manusia.

Dalam kondisi sekarang, kaum muslim juga wajib berjuang keras melenyapkan sistem kufur yang membelenggu mereka seperti Kapitalisme, liberalisme, sekularisme, sosialisme dan komunisme. Lalu mereka harus menggantikan semua itu dengan syariah Islam. Syariah Islam pasti menghadirkan kedamaian dan ketenteraman, mewujudkan kesejahteraan, serta mendidik manusia agar memiliki kesantunan-akhlak mulia.

Seorang muslim harus peduli terhadap keadaan lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, ia tidak membiarkan tetangganya kelaparan, sementara dia tahu. Rasulullah saw. bersabda:

« مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَانً وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمْ بِهِ »

Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan dan dia tahu (HR ath-Thabarani dan al-Bazzar).

Nyatalah, tak ada yang patut ditakuti dari ajaran Islam. Ini juga dibuktikan dalam sejarah. Islam memiliki peran yang sangat besar dalam membangun peradaban dunia melalui sejarah panjang Khilafah Islam. Mulai dari Khulafaur Rasyidin sampai Khilafah Utsmani.

Selama seribu tahun lebih Islam menghadirkan peradaban dunia modern, kedamaian, kesejahteraan, ketenteraman bagi umat manusia yang bermacam suku, bangsa, ras, agama dan kepercayaan karena syariah Islam yang ditaati.

Islam adalah way of life. Islam adalah pedoman dan solusi bagi kehidupan kita. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Pada titik inilah masyarakat harus didorong untuk mengamalkan Islam dengan sempurna dalam dirinya sendiri, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.

Ketaatan total terhadap syariah Islam, sekaligus mewujudkan penerapannya secara kaffah dalam Khilafah Islam, adalah konsekuensi keimanan kita sebagai muslim.
Kini saatnya kita menghimpun seluruh potensi umat untuk melahirkan generasi shalih dan bertakwa.

Insya Allah, generasi hari ini suatu saat akan memimpin manusia menuju kedamaian, berkeadilan dan kesejahteraan dengan syariah Islam yang kafah. Generasi yang mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin dalam naungan Khilafah Islam.

Marilah kita memohon kepada Allah Swt. semoga mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah Swt pun memberi kita kesabaran dan keikhlasan serta menguatkan ketaatan dan persatuan kaum nuslim dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan syariat Islam kaffah sesuai dengan kemuliaan Islam sebagai rahmatan lil ’alamiin. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Comment

Rekomendasi Berita