by

Indri Ngesti R: Kontroversi Klaim Obat Corona

-Opini-50 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belakangan ini, publik tengah diramaikan oleh video wawancara antara Anji dengan Prof. Hadi Pranoto.
Kepada Anji, Hadi Pranoto mengaku sudah menemukan antibodi Covid-19 berbahan herbal.

Pria yang diperkenalkan Anji sebagai seorang pakar mikrobiologi itu mengklaim bahwa antibodi Covid-19 tersebut dapat memulihkan pasien terinfeksi hanya dalam hitungan hari. Wawancaranya diunggah oleh sang musisi dalam kanal YouTube pribadinya, dunia MANJI pada Jumat, 31 Juli 2020 lalu.

Sontak saja hal ini mengundang beragam reaksi dari publik maupun dari satgas penanganan Covid-19. Kemenkes pun menegaskan hingga saat ini belum ada negara di dunia maupun lembaga yang menemukan obat atau vaksin untuk menangkal virus Corona (Covid-19).
Masyarakat dibuat bingung dengan berbagai statement yang bergulir di media.

Sedari awal tingkat kepercayaan masyarakat sudah rendah terkait penanganan Covid-19, ditambah lagi dengan berita penemuan obat virus Corona. Masyarakat akhirnya cenderung apatis terhadap solusi-solusi yang ditawarkan pemerintah.

Penanganan pandemi seharusnya menduduki top rated dalam list kerja pemerintahan sedari awal munculnya wabah.

Namun melihat fakta yang ada, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pemerintah abai pada nasib rakyat. Pada rezim yang mengadopsi sistem kapitalis fokus utama mereka bukan pada penyelamatan nyawa rakyat, namun pada penyelamatan ekonomi.

Sistem kapitalisme telah terbukti tidak mampu melindungi rakyat dari epidemi Covid-19, ditunjukan dengan jumlah kasus yang bertambah setiap harinya. Ini karena kapitalisme dirancang bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia tetapi untuk meraup profit.
Perlu adanya evaluasi sistem penanganan Covid-19 yang ada di Indonesia.

Urgensi penyelamatan nyawa rakyat tidak boleh dikesampingkan. Pemerintah harus segera membentuk instrument baru guna menekan pertambahan kasus positif Covid-19. Isi dan semangat kebijakan yang ada harus dirubah, yang sebelumnya adalah hitung-hitungan materi sekarang harus diubah menjadi melayani urusan umat.

Ruh kebijakan yang mengutamakan urusan rakyat dapat kita temukan dalam sistem Islam.

Islam memandang bahwa kebutuhan atas pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Rumah sakit, klinik, obat-obatan dan fasilitas kesehatan lainnya termasuk kebutuhan akan alat tes kesehatan merupakan fasilitas publik yang diperlukan oleh kaum Muslim.

Jadilah pengobatan itu sendiri merupakan kemaslahatan dan fasilitas publik. Kemaslahatan dan fasilitas publik (al-mashalih wa al-marafiq) itu wajib disediakan oleh negara secara cuma-Cuma dan berkualitas sebagai bagian dari pengurusan negara atas rakyatnya. Ini sesuai dengan sabda Rasul saw.:
“Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari).

Salah satu tanggung jawab pemimpin adalah menyediakan layanan kesehatan dan pengobatan bagi rakyatnya secara cuma-cuma.

Sebagai kepala negara, Nabi Muhammad saw. pun menyediakan dokter gratis untuk mengobati Ubay. Ketika Nabi saw. mendapatkan hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau menjadikan dokter itu sebagai dokter umum bagi masyarakat (HR Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa serombongan orang dari Kabilah ‘Urainah masuk Islam. Mereka lalu jatuh sakit di Madinah. Rasulullah saw. selaku kepala negara kemudian meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba’. Mereka diperbolehkan minum air susunya secara gratis sampai sembuh (HR al-Bukhari dan Muslim).

Saat menjadi khalifah, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. juga menyediakan dokter gratis untuk mengobati Aslam (HR al-Hakim).

Semua itu merupakan dalil bahwa pelayanan kesehatan dan pengobatan adalah termasuk kebutuhan dasar yang wajib disediakan oleh negara secara gratis dan berkualitas untuk seluruh rakyat tanpa memperhatikan tingkat ekonominya. Perhatian penuh pemerintah terhadap sector kesehatan juga akan menekan munculnya berbagai klaim pengobatan yang belum teruji klinis, sehingga masyarakat dapat dipastikan mendapatkan treatment pengobatan yang sesuai dengan penyakitnya.[]

 

Comment

Rekomendasi Berita