by

Lilik Sholihah S.HI*: Benarkah Dispensasi Pernikahan Dini Karena Faktor Ekonomi?

-Opini-29 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pandemi berdampak pada segala aspek kehidupan. tidak hanya aspek kesehatan dan ekonomi, namun kini dampaknya merambah ke ranah kehidupan sosial remaja.

Seperti dilansir laman kompas.com Jumat (7/8/2020), menurut pakar UNPAD angka pernikahan dini melonjak di masa pandemi.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam UU perkawinan no 19 tahun 2019 membatasi usia perkawinan minimal 19 tahun.

Di luar ini maka pengajuannya dimohonkan dispensasi ke pengadilan. Faktanya 90% permohonan ini dikabulkan. Alasan paling banyak karena faktor ekonomi.

Akan tetapi menurut Sonny, Dosen FH UNPAD menjelaskan bahwa di antaranya sebab tersebut adalah karena faktor pandemi dan remaja banyak berkegiatan di rumah dan sosmed.

Disinyalir efeknya adalah banyak remaja yang bergaul secara bebas karena kondisi belajar di rumah. Saat pandemi pembelajaran melalui daring memang sangat memungkinkan ada dampak lain.

Kemudahan mengakses sosmed dan internet yang bisa jadi awalnya untuk keperluan belajar bisa jadi juga digunakan untuk mengakses situs yang lain.

Maka sangat dimungkinkan terjadi hal yang tidak diinginkan termasuk pergaulan bebas yang berujung pada kehamilan di luar nikah.

Ratusan remaja mengajukan dispensasi nikah di berbagai daerah menunjukkan bahwa ada problema yang lahir akibat pergaulan bebas yang terjadi di masa pandemi. Solusi yang diambil dalam mengatasi problem tersebut belum sampai menyentuh akar persoalannya.

Di saat banyak remaja terimbas pergaulan bebas, kebijakan dispensasi nikah dianggap sebagai solusi. Pada UU perkawinan pernikahan hanya dibolehkan saat usia 19 tahun sementara remaja yang berusia dibawahnya justru banyak berkasus pergaulan bebas hingga hamil di luar nikah.

Ini berarti bukan mencari sebab dan menentukan upaya pencegahan agar remaja dapat diselamatkan dari pergaulan bebas, tapi justru ‘hanya’ mencari solusi praktis dengan mengajukan dispensasi nikah dini.

Tentu saja solusi tersebut menuai kontroversi. Setidaknya bisa dilihat dari dua hal. Pertama, pendewasaan usia perkawinan dengan harapan menurunkan angka pernikahan dini, faktanya justru makin membuat pendaftar dispensasi nikah di usia di bawah 19 tahun makin marak. Bahkan Indonesia termasuk rangking tinggi dengan maraknya pernikahan dini.

Kedua, dispensasi nikah dini dikhawatirkan akan menjadi jalan keluar untuk memaklumi fenomena seks bebas dikalangan remaja. Akibatnya mereka leluasa berbuat karena ada pintu keluarnya yaitu jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan maka bisa meminta dispensasi nikah dini.

Persoalan mendasar yang harusnya dipahami adalah mengapa marak pergaulan bebas di dunia remaja yang makin tahun angkanya tak makin menurun.

Jika ditelusuri akar persoalannya paling tidak ada tiga sebab. Pertama, Lemahnya keimanan para remaja terhadap Islam terutama dalam memahami Syariat pergaulan antara laki laki dan perempuan. Begitu pun keluarga masih banyak yang belum memahami sehingga tidak bisa mengedukasi pendidikan ini dari rumah.

Ketika dari rumah lemah tahap berikutnya anak remaja sudah harus berinteraksi dengan dunia luar, kecenderungan remaja di usia yang sudah baligh adalah membentuk per group atau komunitas-komunitas yang dianggap sehati sejalan.

Sampai hari ini terbukti bahwa kedekatan diantara komunitas mereka bisa mengalahkan kedekatan mereka dengan keluarga. Maka jika komunitas per groupnya itu adalah remaja yang sudah terpapar pergaulan bebas maka sangat mungkin bagi remaja menular keinginannya untuk melakukan hal yang sama.

Kedua, pendidikan karakter remaja di sekolah nyatanya belum mampu membendung arus pola hidup bebas remaja. Mengapa? Karena pendidikan agama terpisah dari mata pelajaran yang lain. Pendidikan agama pun cenderung seremonial dengan materi yang sama yang didapat dari SD hingga SMA.

Apalagi diiringi dengan kurangnya ‘rasa’ yang bisa menyentuh problem remaja. Tak jarang anak mengeluhkan banyaknya hafalan tanpa mereka tahu makna dari apa yang dihafalkan. Jadinya pemberian materi agama hanya menjadi sekedar pengetahuan, apalagi jika guru tak pandai dalam membangun kerangka pemahaman.

Ketiga, masyarakat yang permisif, serba boleh. Pergaulan remaja seringkali mendapat pemakluman dari masyarakat. Entah karena alasan ‘sudah dewasa’, ‘anak jaman sekarang’ atau bahkan dianggap ‘wes wayahe dekat dengan lawan jenis’ dan segudang alasan yang lain, yang seolah memberi ijin massal pergaulaan bebas kepada remaja. Hingga jika ada remaja asyik masyuk di pinggir jalan, tidak ada yang berani menegur.

Seluruh faktor tersebut tak lain adalah akibat pemahaman kapitalis liberal yang bercokol di benak remaja, keluarga dan masyarakat.

Hal ini ini makin diperkuat dengan beragam peraturan/UU yang tak “ramah” terhadap remaja dan juga tak ramah dengan syariat Islam. Undang Undang Perkawinan salah satu buktinya.

Kebebasan berperilaku yang menjadi nafas dalam sistem kapitalis liberal telah menjadi racun yang menyebar ke seluruh lini kehidupan yang membawa dampak tak hanya pada remaja.

Tapi juga akan membawa pada lemahnya ketahanan keluarga karena dibangun dari pondasi yang lemah dan salah serta masa depan generasi yang lemah akibat belum mempersiapkan keluarga ideal sebagaimana yang diharapkan.

Inilah buah dari sistem kapitalis liberal yang diterapkan di negeri ini. Maka untuk keluar dari problem pelik tersebut mau tidak mau adalah kembali menggunakan Syariat Islam yang Agung sebagai solusi.

Islam mengajarkan pendidikan agama sebagai pondasi kurikulum dalam sistem pendidikan.

Tujuan sistem pendidikannya adalah membentuk kepribadian Islam bagi semua siswa. Sebelum mendapat ilmu yang lain, aqidah Islam harus sudah ditanamkan, di keluarga dan di sekolah.

Keluarga dan sekolah akan berjalan seiring untuk memberikan pemahaman dan memberi dukungan terbaik untuk keberlangsungan pendidikan anak.

Ada bekal pendidikan bagi anak anak sebelum memasuki usia baligh, berupa pemahaman seputar fiqih pergaulan. Bahkan harus sudah dipahami dan dikenalkan dari usia dini. Misal, bagi perempuan dikenalkan syari’at menutup aurat dengan memakai jilbab dan kerudung.

Baik laki-laki maupun perempuan dijelaskan adanya larangan berkhalwat dan ikhtilat, serta interaksi apa saja yang dibolehkan syariat. Hal ini disampaikan agar anak punya bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupan sekaligus mampu mengkondisikan dan mempengaruhi lingkungan.

Sekolah juga memberikan dukungan dengan pemisahan kelas laki-laki dan perempuan, atau setidaknya aturan yang lebih ketat jika ada pelajar yang melakukan tindakan pelanggaran hukum syara.

Potensi remaja disalurkan kepada hal yang positif untuk fokus belajar dan menyalurkan prestasi baik akademik maupun yang lainnya. Ini tentu membutuhkan konsep kurikulum berbasis aqidah Islam yang mampu membentuk karakter remaja sholih, bukan karakter remaja yang jadi bucin alias budak cinta.

Pembentukan kondisi yang demikian tentu akan sulit diterapkan dalam sistem kapitalisme karena berseberangan dan bertentangan dengan konsep yang ditawarkan. Sehingga Satu-satunya jalan untuk mewujudkannya adalah dengan menerapkan syariat Islam dalam kehidupan.

Akan terbentuk remaja berkarakter Islam, terselenggara pendidikan berkarakter Islam, terbentuk keluarga muslim dan masyarakat yang peduli dan sayang dengan para remaja.[]

*Pemerhati Remaja

Comment

Rekomendasi Berita