by

Nurlinda: Kebijakan Dispensasi Nikah Akan Berdampak Seks Bebas 

-Opini-11 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Angka pernikahan dini di Indonesia melonjak selama masa pandemi Covid-19. Jawa barat merupakan salah satu provinsi penyumbang angka perkawinan bawah umur tertinggi di Indonesia berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional tahun 2020.

Dosen Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Susilowati Suparto mengatakan,peningkatan angka pernikahan dini dimasa pandemi Covid-19 salah satunya ditengarai akibat masalah ekonomi, kehilangan mata pencaharian berdampak pada sulitnya kondisi ekonomi keluarga.

Kurangnya pengawasan orangtua terkait kebijakan penutupan sekolah dan pemberlakuan belajar dirumah juga menjadi salah satu pemicu maraknya pernikahan dini.

Susilowati menuturkan, aktivitas belajar dirumah mengakibatkan remaja memiliki keleluasaan dalam bergaul di lingkungan sekitar. Ini terjadi karena pengawasan orang tua terhadap anaknya sangat lemah.

Dispensasi Nikah Melegalisasi Seks Bebas

Praktik pernikahan dini masih tetap marak didapati walaupun pemerintah telah merevisi batas usia minimal perkawinan di Indonesian menjadi 19 tahun malalui Undang-undang Nomor 19 tahun 2019.

Selain itu, ada juga aturan yang menetapkan penyimpangan batas usia minimal dalam pernikahan hanya bisa dimohonkan dispensasi kepengadilan. Namun faktanya ini belum mampu menekan praktik pernikahan dini di Indonesia.

Menurut Dosen FH Unpan Sonny Dewi Judiasih, praktik perkawinan dibawah umjur rentan terjadi pada perempuan di pedesaan yang bersal dari keluarga miskin serta tingkat pendidikan yang rendah .

Selain dari itu ada lagi beberapa faktor yang mempengaruhi praktik pernikahan dini yaitu adanya faktor geografis, terjadinya insiden hamil diluar nikah, pengaruh kuat dari adat istiadat dan agama, hingga minimnya akses informasi kesehatan reproduksi.

Dengan maraknya seks bebas yang mengakibatkan kehamilan di luar nika ini yang menjadi masalah yang perlu di perhatikan. Apa lagi jumlahnya semakin meningkat. Sehingga ini menimbulkan keresahan bersama.

Masalah seks bebas ini bagaikan gunung es yang terlihat hanya sedikit namun faktanya banyak generasi di Indonesia bahkan sampai kepelosok pun sudah marak dengan seks bebas dan bahkan sudah pada tingkat yang parah.

Sehingga tidak dapat dipungkiri pergaulan bebas ini menyeret para remaja tidak mengenal sopan santun, rasa malu, tidak tahu aturan dan bahkan tidak takut dengan peraturan.

Ini semua terjadi karena kurangnya kontrol dan komunikasi orang tua, lingkungan pergaulan, gaya hidup, dan kurangnya sosialisasi juga menjadi penyebab maraknya zina. Hal ini juga diungkap oleh Ketua Panitera Kabupaten Jepara,

Tasik dalam pernyataannya bahwa maraknya dispensasi nikah karena pengawasan orang tua dirumah sangat rendah.

Dimana sistem pendidikan yang sekarang diterapkan pun berpengaruh terhadap generasi negeri. Sistem pendidikan saat ini berusaha menjaukan kaum muslim dari agamanya.

Walaupun pendidikan agama diajarkan namun hanya sebatas formalitas saja. Sehinnga hasilnya agama hanya sebatas dipelajari saja namun tidak dipahami dan di amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat juga kurang mengontrol pergaulan para remaja, ketidakpedulian masyarakat seakan-akan bentuk persetujuan atas perbuatan haram ini. Terlebih lagi hukum yang diterapkan di negeri ini memandang seks bebas bukan tindakan kriminal selama dilakukan atas dasar suka sama suka, tanpa paksaan dan selama tidak ada pengaduan.

Akibatnya walaupun sudah banyak program dan solusi yang diusahakan untuk memberhentikan seks bebas namun faktanya selalu berujung pada kegagalan. Walaupun banyak pihak yang menginginkan permasalahan seks bebas ini segera di hentikan.

Namun sayangnya kebanyakan solusi yang di tawarkan oleh pemerintah selalu berujung kepada ide kebebasan dan ide hak reproduksi. Sehingga wajar apabilah solusi yang di diajukan pemerintah selalu berujung pada kegagalan.

Ini semua bisa terjadi karena sistem diterapkan adalah sistem kapitalisme sekuler yang selalu mengaungkan tentang kebebasan individu termasuk dalam berperilaku dan beragama.

Islam solusi Atas Seks Bebas

Berbeda dengan islam ketika diterapkan dimuka bumi ini, dengan sistem islam mampu mencetak generasi yang hanya takut kepada Allah SWT dan memiliki kepripadian islam yang jauh dari seks bebas.

Kewajiban negara, orang tua dan masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai akidah dan mendorong mempunyai ketakwaan. Serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para remaja.

Dimana keluarga adalah lembaga yang paling utama dalam mewujudkan pribadi yang bertakwa. Keluarga mempunyai kewajiban dalam menanamkan akidah islam dan mendidik anak-anaknya agar memiliki kepribadian islam.

Masyarakat sebagai pengontrol yang berfungsi mengawasi dan mencegah terjadinya kemaksiatan. Sedangkan negara berperan untuk menerapkan sanksi yang tegas terhadap pelaku kemaksiatan dan menjaga akhlak masyarakatnya.

Apabila ada remaja yang sudah baligh dan belum menikah kedapatan melakukan perzinahan maka negara wajib memberikan sanksi yang tegas yang mampu membuat jerah dengan cambukan 100 kali.

Sehingga tidak ada lagi yang berani untuk melakukan kemaksiatan yang sama. Bila seseorang yang sudah menikah dan kedapatan sedang berzinah maka diberi sanksi dengan hukuma rajam. Allah SWT berfirman:

“perempuan dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya dengan seratus kali dera…” (TQS. An-Nur: 2)

 

Comment

Rekomendasi Berita