by

Putri Hanifah, C.NNLP*: Quarter Life Crisis, Dulu dan Kini

-Opini-16 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Menjelang usia dua puluh tahun banyak millenials dihujani banyak pertanyaan. Biasanya pertanyaan-pertanyaan itu nggak jauh dari bahasan lulus, nikah dan kerjaan. Kalau dah lulus mau jadi apa ya?

Udah kerja belum? Gajinya berapa? Kok belum lulus-lulus sih, ngapain aja?

Usia segini belum bisa cari duit sendiri?; Kapan nikah? Usia segini masih jomblo juga, nggak laku ya? Mendengar pertanyaan seperti ini geleng-geleng kepala saya, ini pertanyaan harus banget dijawab ya? Kayak ujian sekolah saja.

Masa remaja adalah masa-masa pencarian jati diri katanya, di moment ini biasanya remaja mulai menanyakan tentang jati dirinya, menanyakan tentang keberlangsungan hidupnya, menanyakan apa dan bagaimana? Anak muda selama ini kemana aja.

Seperempat abad akan dilalui atau sedang dilalui lha kok baru dicari jati dirinya. Kalau naik kereta telatnya kebangetan, udah telat banget.

Semestinya kita sudah selesai dengan permasalahan pribadi kita ketika menginjak usia baligh, karena pada saat usia baligh (sekitar usia 12-13 tahun) akal kita sudah sempurna. Tapi nggak masalah lah ya, syukur masih mau gelisah dan mencari jawaban daripada yang nggak sama sekali?

Pertanyaan besarnya kepada kita semua mengapa pertanyaan-pertanyaan sederhana tadi menjadikan kita galau, sedih, down bahkan kecewa? Seolah-olah hidup kita tak ada artinya setelah dihujani berbagai pertanyaan oleh teman sekaligus tetangga.

Kalau kita galau kemudian mencari jawaban selamat satu step lebih maju sedang kita lalui. Tapi kalau galau kemudian sibuk dalam pertanyaan itu, galau sampai nggak bisa move on jangan-jangan ada persoalan mendasar yang belum selesai. Persoalan apakah itu?

Yap, apalagi kalau bukan tujuan hidup dan makna kebahagiaan. Coba crosscheck hidup kita masing-masing sudah belum memiliki tujuan hidup? Orang yang nggak punya tujuan hidup bisa jadi depresi nantinya bahkan lebih parah dari itu sampai bunuh diri.

Sadar hidupnya nggak terarah ada tantangan sedikit goyah. Pun dengan makna kebahagiaan, hari ini makna kebahagiaan tiap orang berbeda-beda. Bukankah semestinya bagi seorang muslim memiliki makna kebahagiaan yang sama sebab mereka diciptakan dengan visi yang sama juga. Dua hal ini jika kita belum punya jawaban dan rumus yang tepat ya sudah galau nggak akan ada ujungnya.

Siapa coba yang membuat standar menikah harus diusia 25 tahun? Kalau belum menikah judulnya perawan tua, nggak laku, stigma-stigma inilah yang kadang bikin para perempuan insecure.

Padahal ketika Islam menguasai 2/3 dunia kayaknya nggak ada deh pemuda-pemudi disibukkan oleh urusan hati, urusan pekerjaan atau pertanyaan ringan yang sebenarnya tidak membangun kehidupan. Pernahkah mendengar Shalahuddin Al Ayubbi galau dengan pertanyaan ringan yang digalaukan millenials? Atau Muhammad Al Fatih bingung dengan apa yang harus dia lakuukan di usia quarternya?

Saya rasa tidak, Muhammad Al Fatih 21 tahun sudah menguasai banyak bahasa, sudah berhasil memimpin peradaban, berhasil menaklukkan konstantinopel. Pun dengan Shalahuddin Al Ayubi juga demikian. Yang digalaukan Muhammad Al Fatih bagaimana ya caranya memindahkan puluhan kapal dari satu laut ke laut dalam satu malam. Yang digalaukan beda, yang dirisaukan beda.

Padahal kita sama-sama melantunkan syahadat yang sama, memiliki Nabi yang sama. Kok bisa ya outputnya beda?
Jawabannya ya bisa saja. Hari ini millenials bisa serapuh itu bukan tanpa sebab dan alasan.

Bagaimana tidak? Jika hari ini standar kebahagian dinilai dari materi hidup akan serba kurang. Karena standar kebahagiaan adalah materi nggak heran jika tujuan hidup sebagian besar millenials porosnya juga materi, materi, dan materi. Pencapaiannya juga semua soalan materi. Beginilah hidup dalam sistem kapitalis apapun kondisinya, apapun aktivitasnya semua standarnya materi.

Sudahlah standartnya materi, support sistemnya nggak ada, yang ada pertanyaan-pertanyaan netizen dan tetangga yang malah bikin panas telinga. Wajar kalau nggak tercapai muara pertama stress.

Hal ini berbeda sekali dengan Islam yang makna kebahagiaannya adalah ridha Allah SWT. Semua porosnya apakah Allah ridha atau tidak, sesuai dengan tujuan hidup yang Allah perintahkan atau tidak.

Setelah dua pertanyaan mendasar ini selesai kita beralih pembahasan pada area yang kita kuasai atau tidak. Jika dihujani pertanyaan pada area yang tidak kita kuasai ya nggak usah pusing. Misalnya: Kapan menikah?

Jodoh, rezeki, ajal dan maut semua sudah di siapkan oleh Allah tepat pada waktunya. Tapi bila dihujani pertanyaan yang ada dalam kendali kita, jawab dengan santai dan tenang. Nggak usah gopohan.

Tapi ya menjalankan aktivitas sesuai dengan tujuan hidup yang Allah tetapkan nggak semudah itu dalam sistem kapitalisme liberal, makannya kita butuh support dan peran negara. Taat nggak cuma sekup individu saja, taat dari segi individu, masyarakat sampai negara. Semua berkolaborasi untuk mewujudkan sebuah visi besar yakni beribadah kepada Allah.

Jadi Muhammad Al Fatih 21 tahun bisa menaklukkan konstantinopel tidak lepas dari peran individu negara dan masyarakat. Muhammad Al Fatih ditanamkan keimanan yang kuat semenjak kecil, pendidikannya dijamin oleh negara diupayakan yang terbaik, masyarakatnya aktif mengingatkan satu dengan yang lain.

Maka kalau ingin output keislaman kita sama dengan Muhammad Al-Fatih dan Shalahuddin Al Ayyubi terapkan Islam hingga tataran negara. Jangankan masalah quarter life crisiss masalah ekonomi hari ini saja bisa selesai dengan Islam. Sebab Islam bukan hanya agama melainkan jalan hidup.[]

*Mahasiswi UN Malang

Comment

Rekomendasi Berita