by

Ratu Rianti*: Kemerdekaan Hakiki Bagi Negeri, Mungkinkah?

-Opini-91 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus 2020, masyarakat Indonesia sibuk dengan segala persiapan untuk merayakan hari kemerdekaan. Di setiap ruas jalan terlihat pedagang bendera merah putih menjajakan dagangannya. Rumah-rumah pun terlihat semarak dengan beragam hiasan bendera terpasang menyiratkan kebahagiaan akan datangnya peringatan hari kemerdekaan kemerdekaan tersebut, tak lupa aneka lomba disiapkan. Lapangan, desa, dan alun-alun kota ditata rapi disertai tulisan “Merdeka” terpasang di segala penjuru kota.

Jika mengingat betapa sulit dan kehidupan dalam cengkraman penjajah, tentu saja kemerdekaan saat ini perlu disyukuri bersama. Jerih payah para pahlawan yang rela mengorbankan nyawa demi mengusir penjajah dari bumi Indonesia harus dihargai meski dengan cara paling sederhana yaitu memperingati hari di saat proklamasi itu dibacakan. Namun, harusnya ungkapan syukur tersebut tidak berhenti dan tidak cukup dengan perayaan seremonial saja.

Demi mempertahankan kemerdekaan ini hingga akhir hayat, seluruh masyarakat Indonesia harus memastikan negara tercinta ini dalam kondisi bebas, berdikari, tanpa cengkraman pihak lain yang menyetir jalannya pemerintahan dan perpolitikan negara ini sebagai bentuk penjajahan alias imperialisme gaya baru.

Indonesia, negeri tercinta yang kita tinggali ini adalah sebuah negeri yang kaya raya, diberi julukan sebagai Zamrud Khatulistiwa. Negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tenrem Kerto Raharjo. Begitulah gambaran betapa kayanya negeri kita ini dengan sumber daya alam yang melimpah rumah mulai dari Sabang hingga Merauke.

Tidak ada satu negeri di seantero dunia yang memiliki kekayaan alam luar biasa seperti yang ada di Indonesia. Bahkan saking suburnya negeri ini, kayu yang dilempar ke sembarang tempat pun akan tumbuh menjadi pohon. Sebuah kondisi yang mendeskripsikan betapa Indonesia bak surga dunia sebagai karuniaNya.

Belum lagi jika kita tengok kekayaan hutan Indonesia yang begitu luas ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Selain tumbuh berbagai tanaman, di dalam hutan tersebut hidup berbagai satwa yang beraneka ragam bahkan yang tak dijumpai di belahan bumi yang lain.

Begitu pula kekayaan laut Indonesia yang terhampar luas dengan kandungan kekayaan yang luar biasa. Ribuan jenis ikan dan hewan laut yang halal dimakan sebagai sumber protein, mutiara, terumbu karang yang indah, hingga minyak bumi sebagai sumber energi tersimpan di dalam perut bumi seluas samudra Indonesia.

Beralih ke penjuru dunia lain, masih ada sumber kekayaan yang Indonesia miliki, dari lahan tambang dan energi, Indonesia memiliki banyak tambang emas yang hasilnya begitu besar.

Bayangkanlah, PT. Freeport menambang emas setiap hari sejak tahun 1947 hingga kini belum juga habis emas yang ada di dalam perut bumi Indonesia. Belum lagi minyak bumi, gas, nikel, batubara, mineral, dan lain sebagainya. Wahai begitu besar karunia itu, maa syaa Allah.

Namun, segala anugerah yang Allah limpahkan di negeri  ini belum menjadikan penduduk yang tinggal di dalamnya merasakan arti kesejahteraan. Saat ini, kekayaan alam tersebut tidak dimiliki dan diolah negara, tetapi diserahkan kepada swasta dan asing. Tak ada yang diperoleh bangsa ini kecuali hanya sedikit bagian pajak dari keseluruhan kepemilikan kekayaan tersebut.

Mereka mengangkut seluruh harta kekayaan alam Indonesia ke negerinya dan menyisakan penderitaan dan kesulitan ekonomi rakyat.karena sumber pendapatan utama yang berasal dari alam Indonesia habis tak bersisa dan dimiliki dan dikelola negara lain.

Sebelum merdeka tanggal 17 Agustus 1945, penjajahan yang terjadi di Indonesia maupun negara lain adalah penjajahan dalam bentuk fisik. Namun setelah menyatakan kemerdekaannya, penjajahan yang dilakukan oleh imperialisme asing berubah dalam bentuk dan dimensi yang berbeda.

Sistem keuangan dan ekonomi menjadi salah satu bentuk imperialisme asing gaya baru terhadap negara lain dengan cara memberi pinjaman dan dengan bunga.

Dengan demikian, negara-negara peminjam menjadi terjajah oleh lilitan hutang yang terus membengkak hingga berada pada posisi lemah dalam segi politik dan ekonomi sehingga dengan mudah dapat dikendalikan oleh pihak pemberi hutang.

Selanjutnya, sistem perekonomian negara-negara terjajah (debitur)  akan diarahkan oleh negara kreditur sebagai pemberi pinjaman.

Pencabutan subsidi berbagai sektor vital, lepasnya tanggung jawab negara atas rakyatnya kemudian digantikan dengan konsep gotong-royong dan subsidi silang, serta penetapan pajak yang besar dalam setiap sendi kehidupan menjadi usulan yang dijalankan dengan patuh oleh negeri-negeri terjajah.

Lihatlah, tak sedikitpun negeri terjajah menjadikan kekayaan yang begitu melimpah di negerinya menjadi sumber pendapatan bagi kas negara. Maka masyarakat hanya dapat menatap keindahan negerinya tanpa bisa menyentuhnya apalagi menikmatinya, ibarat anak ayam yang mati di lumbung padi.

Begitulah sistem kapitalis berjalan dengan baju imperialisme gaya baru dan mencengkeram negeri-negeri terjajah secara nyata saat ini telah menjadikan penguasa sesungguhnya adalah para pemilik modal yang menancapkan kekuatannya melalui kaki tangan yang dipilih untuk menjadi boneka. Inilah yang terjadi di dunia empiris yang kita tinggali di abad milenial ini.

Sebagai realitas sejarah,  imperialisme dan penjajahan itu hanya berganti baju dan rupa saja karena sesungguhnya secara nilai ia masih tetap berlangsung dalam bentuk dan dimensi yang berbeda.

Dalam konteks dan tinjauan nilai, sesungguhnya kita belumlah merdeka. Jika dulu di masa pendudukan, penjajah tampak wujudnya, saat ini sang penjajah itu tak tampak secara fisik. Namun yang pasti,  kehidupan ekonomi dan keadilan yang timpang dan kesenjangan yang dalam menjadi indikasi bahwa penjajahan secara intrinsik masih ada dan berlangsung dalam sebuah sistem kapitalisme.

Sistem inilah yang menghidupkan kembali penjajahan nonfisik di seluruh negeri. Kapitalisme juga menjadikan para pemilik modal memiliki hak mengatur bumi ini. Penjajahan yang lebih banyak memakan korban dibandingkan dengan korban dalam perang fisik sesungguhnya.

Akibat yang ditimbulkan oleh sistem ini adalah merjalelanya kemiskinan, kelaparan,  dan kebodohan di dalam kehidupan masyarakat.

Maka ketika dahulu kita berjuang habis-habisan mengusir penjajah, saat ini harusnya kita pun melakukan hal yang sama, mengusir sistem hidup kapitalisme sebagai penyebab kesengsaraan umat manusia.

Berbeda dengan kapitalisme yang bersifat menjajah, Islam menjadi alternatif penting dengan sifat dasar yang memberi kesejahteraan.

Di dalam Islam, pemerintah bertanggung jawab atas pengelolaan kekayaan alam yang ada dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan negara dan rakyat.

“Seorang iman (kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa negara (di bawah kekuasaan Khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, termasuk pengelolaan sumber daya alam yang ada sehingga dalam Islam negara akan mampu menghidupi diri dan rakyatnya. Karena seluruh kekayaan alam yang ada dikelola oleh negara.

Islam dalam penerapannya, memiliki pos-pos yang jelas berdasarkan syariah dalam mengatur kekayaan alam. Seperti hadits yang menyatakan:

“Manusia berserikat atas tiga hal, air, api, dan padang gembalaan” (HR. Abu Dawud).

Ini menunjukkan keharaman penguasaan pribadi/swasta akan sumber daya air, migas (api) dan hutan (padang gembalaan) dan ini tak boleh dilanggar karena merupakan perintah Allah SWT.

Islam dalam penerapannya juga memastikan bahwa negara tidak boleh dipengaruhi oleh negara lain dalam bentuk apapun.

Sebaliknya Islam memiliki kewajiban menyiarkan syariahnya ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah yang justeru mempengaruhi negara-negara lain agar juga merasakan sinar hidayah Islam.

Hubungan kerjasama dengan negara di luar Islam pun dilakukan dengan pertimbangan kemaslahatan kaum muslimin yang menjadi asasnya, jika ada secuil ketentuan yang akan mendatangkan kerugian bagi kaum muslimin, maka tak ada kerjasama dengan alasan apapun.

Itulah gambaran betapa Islam dapat menjaga kemerdekaan hakiki itu dapat diperoleh baik dari sudut konsep hingga pelaksanaan yang begitu detail.

Islam menjauhkan diri dan membentengi masyarakatnya dari segala bentuk intervensi dan penjajahan asing. Maka untuk meraih kemerdekaan sejati, marilah kembali pada Islam, pada syari’ah dan hukum ilahi yang mampu menjadi cahaya keadilan dan kesejahteraan bagi umat manusia secara keseluruhan tanpa membedakan – bedakan agama,  suku dan kebangsaan.

Semoga Indonesia mendapatkan hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita