by

Shafayasmin Salsabila*: Bansos Diincar, Rakyat Makin Lapar

-Opini-22 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Mengejutkan, 102 kasus penyelewengan dana bansos (bantuan sosial) dipublikasikan oleh Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri. 13 diantaranya, dilaporkan oleh Polda Jawa Barat. (tribunnews.com, 28/7/2020).

Dari 13 kasus di Jawa Barat, Indramayu menjadi salah satu kabupaten dengan temuan kasus dugaan penyelewengan dana bansos Covid-19, terbanyak. Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Saptono Erlangga menyampaikan, modus dalam penyelewengan bansos itu yakni pemotongan atau penggelapan dana bansos (radarcirebon.com, 28/7/2020).

Tentu, tindakan pelaku penyelewengan amat keji. Semestinya membantu dan mempermudah penyaluran bansos, malah “bermain kotor” dan oportunis. Apalagi di tengah terjangan pandemi.

Perekonomian rakyat sekarat, bansos serasa menjadi angin segar untuk menyambung nyawa. Nyatanya, pungli (pungutan liar) masih dijumpai. Saat sebagian harus mengantri dengan berdesakan, sebagian rakyat kecil lainnya mengeluhkan tidak kebagian jatah akibat tidak terdata.

Bila sudah demikian, ke mana rakyat mencari keadilan. Penyelewengan bansos, tidak boleh dipandang sebelah mata, harus segera dibenahi. Karena janggal, bila bansos justru dinikmati oleh pihak tertentu. Karena sasaran bansos adalah rakyat kurang mampu.

Rakyat butuh kepastian, bukan diberi harapan palsu, ataupun digantung nasibnya. Perut keroncongan tidak bisa ditunda sampai bulan depan. Inilah yang dinamakan kebutuhan pokok. Mutlak diperlukan bagi semua manusia.

Program pemerintah terkait pemberian bansos patut diapresiasi. Tapi perlu dikaji dan dievaluasi. Setidaknya dipikirkan ulang keefektifannya. Dapatkah dipastikan terserap sempurna, dalam arti sampai ke tangan yang tepat. Plus, mampukah untuk dijadikan solusi bagi perekonomian warga secara permanen.

Sampai detik ini belum ada kepastian kapan pandemi berakhir. Lantas, mampukah anggarannya bertahan? Di sisi lain, utang luar negeri sudah sedemikian menumpuk. Tidakkah niscaya, jika program ini pupus di tengah jalan, padahal pandemi belum juga usai.

Bahkan, adanya 102 dugaan kasus penyelewengan dana bansos, menjadi tamparan tersendiri. Alih-alih menjadi solusi, justru menimbulkan masalah baru. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Syahwat pada dunia, menguat sejak perisai umat dihancurkan seabad yang lalu. Bahkan sudah mulai meracuni benak pada saat ke-khilafahan masih tegak. Datangnya dari pengaruh pandangan Barat. Mereka bukan hanya mengimpor gaya hidup namun sepaket bersama pemikirannya.

Hidup bebas demi mengejar kesenangan, tanpa peduli halal haram, berdampak pada keringnya iman. Sehingga berlakulah peribahasa “Dunia seperti meminum air laut, semakin diminum semakin menambah haus”. Itulah yang terjadi, hingga saat ini. Oknum pemakan bansos bukan sembarang orang. Bukan pula karena kemiskinan tapi rasa rakus dan membuncahnya syahwat pada harta dunia.

Padahal Allah Ta’ala sudah mengingatkan dalam surat Ali Imran ayat 14, agar seorang Muslim waspada dengan fitnah syahwat. Segala kenikmatan dunia, menjadi kecenderungan hati manusia. Berasal dari wanita, anak dan harta. Boleh dipuaskan, namun jangan melampaui batas.

Larangan memakan hak orang lain juga disampaikan dalam QS. Al Baqarah ayat 188. “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu, dengan jalan yang bathil…”

Terlebih lagi, jika ditilik dari sisi ideologis. Perkara mendasarnya bukan pada bansos itu sendiri. Tapi kesadaran posisi pemimpin sebagai raa’in (pengurus rakyat). Jika bansos diberikan hanya pada sebagian kalangan, maka perlu diluruskan bahwa hak mendapatkan pelayanan dan pemenuhan hajat hidup adalah milik seluruh warga. Terlepas dari miskin atau sudah mapan, tidak juga melihat kondisi dalam terpaan wabah atau tidak.

Rasulullah Saw. mencontohkan hal tersebut, pada saat beliau memimpin di Madinah. Sistem yang dibangun sangat manusiawi. Meskipun masyarakat saat itu plural, akan terapi Rasul Saw. tidak memilih dan memilah. Hak seluruh warga adalah diurusi segala keperluannya. Baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan dasarnya.

Dalam kondisi normal atau wabah sekalipun, Rasul Saw. menekankan kepengurusan terhadap warga harus terlaksana. Kebutuhan sandang, pangan, papan dijamin. Hak pendidikan, kesehatan dan keamanan disamaratakan.

Cara bernegara, bukannya di-skip dalam ajaran agama, sebaliknya Rasul Saw. sangat menaruh perhatian. Hal ini sebagaimana tugas kerasulan yang Allah berikan. Menjadi rahmat bagi semesta alam. Tujuan ini hanya akan terwujud lewat keberadaan institusi resmi.

Aturan Allah yang ter-maktub dalam Alquran semuanya akan dapat direalisasikan dengan keberadaan negara. Maka eksistensi negara sejatinya demi menerapkan seluruh hukum-hukum Allah secara legal.

Imam Al-Ghazali menuturkan, agama dan kekuasaan ibarat saudara kembar. “Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar, agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang..”

Maka dapat disimpulkan bahwasannya, permasalahan bansos adalah permasalahan cabang. Muncul sebagai imbas dari tatanan sosial yang kehilangan sentuhan ruhiyah.

Penyelewengan terjadi karena ada kesempatan. Sementara kesempatan itu muncul dari solusi bercorak kapitalis-sekuler yang “basah”, rawan kepentingan. Ujung-ujungnya rasa lapar di perut rakyat masih menetap.
Wallahu a’lam bish shawwab.[]

*Anggota Forum Muslimah Peduli Umat

Comment

Rekomendasi Berita