by

Siti Masliha, S.Pd*: Butuh Peran Negara Selesaikan Wabah Corona

-Berita-26 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Wabah corona yang terjadi dan dampaknya saat ini masih sangat tinggi. Susul menyusul daerah terkena wabah ini.

Kondisi ini butuh upaya yang serius agar wabah ini segera berakhir. Tidak hanya dari rakyat namun juga dari semua pihak untuk memutus wabah  yang telah berimbas ke semua sektor ini baik ekonomi, pendidikan maupun sosial dan budaya.

Sektor yang paling terpukul dari wabah corona ini adalah sektor ekonomi. PHK besar-besaran, banyak bisnis rumahan yang gulung tikar, banyak keluarga yang kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya.

Hal ini menginspirasi sekelompok orang untuk membantu masyarakat. Didorong semangat gotong royong, sebuah wadah berbagi pendapatan antarwarga digagas sekelompok anak muda untuk menyokong kondisi keuangan para pekerja yang terdampak pandemi Covid-19.

Wadah daring bertajuk Bagirata.id yang diluncurkan awal April lalu itu telah menjadi perantara ‘redistribusi kekayaan’ lebih dari Rp300 juta kepada lebih dari seribu pekerja.

Lewat medium ini, pengendara ojek online hingga seniman mengaku sudah menerima bantuan uang dari orang-orang yang masih berpenghasilan selama pandemi. Merujuk riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mayoritas pekerja yang kehilangan pekerjaan selama pagebluk berusia 15-29 tahun.

Dijalankan dengan kreativitas dan kolektivitas, wadah berbagi non-profit seperti ini dinilai menjadi harapan nyata di tengah program bantuan pemerintah yang kerap terbelit birokrasi dan tidak tepat sasaran. (BBCIndonesia, minggu 09/08/2020)

Wadah ini bagaikan oasae bagi rakyat ditengah jeritan rakyat yang tercekik masalah ekonomi. Sebelum wabah corona banyak rakyat yang hidup kekurangan. Pada saat wabah corona ini banyak rakyat yang semakin tercekik. Selain itu wadah seperti ini adalah hal positif dan sebagai bentuk meningkatkan rasa kemanusiaan sesama manusia.

Selain itu wadah ini juga bisa menolong rakyat yang terkendala masalah birokrasi atau administrasi. Banyak rakyat yang membutuhkan bantuan dari pemerintah namun karena syarat administrasinya tidak lengkap maka bantuanpun urung diberikan. Padahal secara ekonomi rakyat tersebut sangatlah membutuhkan. Akhirnya bantuan dari pemerintah tidak tepat sasaran. Banyak rakyat yang mampu secara ekonomi justru mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Hal ini seharusnya dapat diatasi dengan meningkatkan kerja sama dengan pemerintah setempat. Ketepatan data yang akurat dibutuhkan oleh pemerintah pusat agar pembagian bantuan tepat sasaran. Selain itu rakyat jangan di persulit dengan masalah administrasi. Rakyat diminta barbagai syarat administrasi agar mendapatkan bantuan. Padahal faktanya tidak semua rakyat memiliki syarat administrasi.

Hal ini sebagaimana terjadi pada seseorang di Banten. Hampir dua bulan Sana (38) tinggal di sebelah kandang kambing miliknya. Warga miskin itu dikabarkan juga luput bantuan dari pemerintah, bahkan saat diusulkan untuk menjadi penerima bantuan sosial tunai (BST) yang bersumber dari Dana Desa (DD) pun tak juga didapatnya.

Kondisi kehidupan Sana yang memprihatinkan, membuat tetangganya, Abdul latif berusaha membantunya untuk mendapatkan bantuan. Lantaran sejak tinggal bersama neneknya, belum pernah ada bantuan dari pemerintah yang didapatnya.

Abdul mengaku pernah meminta kepada pihak desa agar Sana mendapatkan bantuan tahap awal untuk warga yang terdampak Covid-19. Sayangnya, usulannya tak direspon pihak desa. Alasannya, karena terbentur masalah administrasi, yakni Sana tidak memiliki e-KTP.

“Pernah saya sounding-kan, pernah saya bawa ke lurah. Maksud saya supaya yang bersangkutan diperhatikan. Dikarenakan lurahnya bingung karena dia nggak punya KTP. Jadi mentok,” kata Latif saat ditemui di rumah Sana, Rabu (8/7/2020). (Suara.Bantenid (08/07/2020)

Inilah fakta yang terjadi saat ini sekuat apapun lembaga dalam membantu perekonomian rakyat tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhannya. Hilangnya peran negara dalam mengurus rakyatnya membuat masalah ini sulit untuk diuraikan. Negara dengan ideologi kapitalisme melepas tangan terhadap tanggung jawabnya terhadap urusan rakyatnya. Kekayaan negeri kita di keruk oleh para korporat, rakyat hidup dengan melarat. Menangani wabah corona pemerintah terasa tergagap. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri untuk melawan wabah yang mematikan.

Butuh adanya upaya yang serius agar keluar dari masalah ini. Sekuat apapun lembaga untuk mengcover bantuan terhadap kebutuhan rakyat Indonesia, hal ini tidaklah mampu. Pasalnya jumlah rakyat Indonesia yang kekurangan atau miskin sangatlah banyak. Sedang jumlah wadah yang membantunya masih sangat kurang jumlahnya. Di sinilah dibutuhkan peran negara secara langsung dalam mengurus kebutuhan pokok rakyat.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan dalam sistem Islam. Dalam Islam lembaga di perbolehkan untuk membantu rakyat. Namun hal ini tidak bisa menggantikan, negara berperan mengurus rakyatnya. Salah satu bagian terpenting dalam Islam adalah aturan-aturan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pokok bagi rakyatnya. Kebutuhan pokok tersebut antara lain berupa pangan, pakaian, papan, serta lapangan pekerjaan. Dalam memenuhi kebutuhan pokok ini Islam telah mewajibkan laki-laki untuk bekerja untuk mencukupi kebutuhan pokok dirinya, sanak kerabatnya yang tidak mampu, serta istri dan anak-anaknya. Allah SWT berfirman:
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya” (QS. Al Baqarah: 233)

Bagi orang yang tidak mampu bekerja, Islam telah menetapkan nafkah mereka dijamin oleh sanak kerabatnya. Jika sanak kerabatnya juga tidak mampu memenuhi kebutuhannya, maka beban menafkahi diserahkan kepada negara. Negara dengan Baitul Maalnya akan menanggung nafkah bagi orang-orang yang tidak mampu bekerja dan berusaha. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai contoh real Umar Pernah membangun suatu rumah yang di beri nama “daar al-daaqiq” (rumah tepung). Di dalam rumah itu tersedia berbagai macam jenis tepung, kurma, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Tujuannya dibangun rumah tersebut adalah untuk menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang perlu sampai kebutuhannya terpenuhi.

Begitulah cara Islam memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Meski ada lembaga yang memberikan bantuan kepada rakyat. Namun hal ini tidak dapat menggantikan peran negara sebagai penyedia kebutuhan pokok bagi rakyatnya.

Comment

Rekomendasi Berita