by

Ummu Amira Aulia Sp: Dispensasi Sebuah Kebijakan Sarat Ambigu

-Opini-53 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pengadilan Agama Jepara, Jawa Tengah, menjelaskan, sebanyak 240 permohonan dispensasi nikah tidak semuanya karena hamil terlebih dahulu. Melainkan, ada yang karena faktor usia belum genap 19 tahun sesuai aturan terbaru. Menurut Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara Taskiyaturobihah, sesuai Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang Perkawinan bahwa batas minimal calon pengantin putri berusia 19 tahun.

Sementara pada Undang-Undang Perkawinan sebelumnya, batas minimal calon pengantin putri berusia 16 tahun. Sehingga, warga yang berencana menikah namun usianya belum genap 19 tahun harus mengajukan dispensasi nikah. (Jawapos.com).

Angka pernikahan dini di Indonesia melonjak selama masa pandemi Covid-19. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penyumbang angka perkawinan bawah umur tertinggi di Indonesia berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional tahun 2020.(kompas.com).

“Para pekerja yang juga orang tua tersebut sering kali mengambil alternatif jalan pintas dengan menikahkan anaknya pada usia dini karena dianggap dapat meringankan beban keluarga,” papar Susilowati dalam Webinar “Dispensasi Nikah pada Masa Pandemi Covid-19: Tantangan Terhadap Upaya Meminimalisir Perkawinan Anak di Indonesia” yang digelar FH Unpad, Jumat (3/7/2020), seperti dilansir dari laman Unpad. (kompas.com).

Dispensasi kawin adalah untuk perkawinan yang calon mempelai laki-
laki ataupun perempuannya masih di bawah umur dan belum diperbolehkan
untuk menikah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Batasan umur dalam melakukan perkawinan yang diatur Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan terdapat pada pasal 7 ayat (1) yakni:

“Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (Sembilan
belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 (enam belas) tahun.”
(www.pa-tasikmalaya.go.id/sop-dispensasi-kawin)

UU No. 16/2019 tentang Perubahan atas UU No. 1/1974 tentang Perkawinan telah menaikkan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Dengan demikian, usia kawin perempuan dan laki-laki sama-sama 19 tahun.(bisnis.com).

Namun, UU Perkawinan tetap mengatur izin pernikahan di bawah usia 19 tahun. Syaratnya, kedua orang tua calon mempelai meminta dispensasi ke pengadilan.

“Memang ternyata setelah ditetapkan UU tentang menaikkan usia kawin itu bagi perempuan, intensitas perkara dispensasi meningkat,” kata Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Busra, dalam uji kelayakan dan kepatutan hakim MA di Jakarta, Rabu (22/1/2020). (bisnis.com).

Dua permasalahan yang muncul setelah pengesahan UU dispensasi nikah adalah :
1. Banyaknya pengajuan dispensasi nikah, mensinyalir terdapat banyak sekali usia muda yang menikah dini. Pernikahan dini memang tidak identik dengan pergaulan bebas. Namun beberapa fakta di lapangan menunjukkan hal itu.

Dikutip dari Semarang, IDN Times – Kasus pernikahan yang melibatkan anak-anak saat ini terus menunjukan grafik peningkatan yang signifikan. Bahkan, selama pandemi virus corona (COVID-19), jumlah pengajuan dispensasi nikah di Kota Semarang telah menyentuh angka 100 kasus.

Permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama Wonogiri meningkat dan jumlahnya mencapai 89 perkara dalam lima bulan terakhir.Ketua PA Wonogiri, Muhammad Syafi, mengatakan, penyebab orang mengajukan dispensasi kawin di Wonogiri rata-rata karena hamil di luar nikah. Sehingga jika akan melangsungkan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA), mereka harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari PA.(Solo-pos).

Per Januari – Februari 2020 sudah ada pengajuan dispensasi sebanyak 40 perkara.
“Bisa saja ini akan melonjak tajam, dua bulan saja sudah 40.
Memang yang paling banyak karena hamil di luar nikah,” imbuh Tazky.

2. Kebijakan yang Ambigu.
Pasalnya dengan aturan dispensasi menikah, tidak memberikan solusi yang signifikan terhadap pergaulan remaja. Pernikahan dini seakan dikekang, pergaulan bebas dibiarkan.

Menikah adalah sunah Rasulullah Saw. Bagi yang sudah mampu menafkahi adalah salah satu syarat bagi laki-laki. Sudah mencapai akil baligh bagi perempuan. Islam telah mengatur sedemikian rupa batasannya. Simpel dan mudah pelaksanaanya. Apakah nikah dini dilarang dalam Islam?

Perkawinan menurut hukum Islam yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaaqqan ghaliizhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Rasululah Shallallahu’alaihi wassallam bersabda: Annikaahu sunnati faman raghiba ‘an sunnati falaisa minnii.

“Nikah itu sunnah ku, siapa yang membenci sunnahku maka bukan dari golonganku”.(muslimah news id).

Usia pernikahan pun sudah jelas aturannya dalam Islam. Ustazah Ratu Erma menjelaskan, definisi dewasa (baligh) sudah amat familiar di tengah masyarakat, usia 15 tahun bagi laki-laki dan perempuan, atau anak laki-laki yang sudah bermimpi (ihtilam), meski belum 15 tahun, dan perempuan yang sudah mendapat haid.

“Mereka itu sudah terkena berbagai kewajiban tanpa bisa mengelak, sama halnya dengan orangtua. Andai mereka bersepakat untuk melakukan pernikahan, maka hukumnya sah, karena mereka sudah baligh (dewasa) dan sempurna akalnya.”

“Jika dianggap tidak sah karena mereka masih kanak-kanak menurut standar HAM, gender, konvensi anak, dan sebagainya, yang menetapkan bahwa usia seseorang disebut dewasa adalah 21 tahun untuk laki-laki dan 19 atau 18 tahun untuk perempuan, ini pandangan naif. Tindakan mempertentangkan agama dengan akal manusia yang terbatas,” tegas Ustazah.

Peran orang tua dalam mengarahkan anak, menjadi salah satu point yang signifikan. Mempersiapkan pernikahan anak, sama pentingnya dengan mempersiapkan pendidikannya.

Orang tua akan mengarahkan teman pergaulan yang baik untuk anaknya. Sebagaimana dalam aturan nizhomul ijtima’i dalam Islam, bahwa hukum asal pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam adalah wajib.

Ada batasan kondisi, yang memang bisa mempertemukan laki-laki dan perempuan, misal dalam pendidikan, muamalah di pasar, dsb. Dengan pengaturan yang tegas seperti ini, akan lebih tertata dengan baik pergaulannya. Terhindar dari perzinahan.

Kehidupan sekuler telah melegalkan segalanya. Kerusakan akibat sekulerisme ini telah nampak dimana-mana. Sudah saatnya, mengganti aturan yang rusak saat ini, dengan aturan Islam yang mulia dan agung. Wallahu a’lam bisshowab.
(Tulungagung, 3 Agustus 2020).

Comment

Rekomendasi Berita