by

Yuni Auliana Putri, S.Si: Menelusuri Jejak Khilafah Di Nusantara

-Opini-36 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA. – Sedang ramai di perbincangkan sebuah film dengan judul “Jejak Khilafah di Nusantara”. Kata ‘khilafah’ di beberapa tahun belakangan ini memang sering menjadi sorotan.

Masih ada anggapan dan sebuah framing yang mengarahkan khilafah pada isu radikalisme, atau mencoba membenturkan pada pancasila maupun NKRI.

Seolah-olah kita sebagai rakyat Indonesia jika menyampaikan atau setuju dengan kekhilafahan, sebagai seorang yang intoleran dan tidak cinta terhadap Indonesia.

Pembenturan tersebut seakan ingin menghapus ingatan kita mengenai sejarah kekhilafahan. Padahal secara historis khilafah Islamiyah telah berhasil menunjukkan kegemilangannya dan memberikan kontribusi besar terhadap dunia. Bahkan, jejak kekhilafahan tersebut ternyata juga dapat kita jumpai di Nusantara.

Allah SWT telah memberikan syariat kepada kita dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari perkara diri sendiri, hubungan kita dengan Allah yaitu ibadah mahdah, maupun bagaimana berinteraksi dengan orang lain.

Salah satunya mengenai sebuah sistem kepemimpinan dalam Islam. Sistem kepemimpinan dalam Islam atau Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh penerapan syariat Islam kaffah dengan tegaknya daulah islam di Kota Madinah. Kemudian, setelah wafatnya Rasulullah SAW kepemimpinan ummat tersebut digantikan oleh Khulafaurrasyidin dan khalifah-khalifah seterusnya.

Kepemimpinan tersebut bertugas untuk melakukan ri’ayah (pengurusan) ummat dengan Islam. Masa-masa kekhilafahan tersebut pun meluas, bahkan mampu menguasai 2/3 dunia di bawah satu kepemimpinan Islam dan menjadikan Khilafah Islam sebagai superpower dunia sejak abad ke-7 M.

Kegemilangannya pun nampak dari berbagai bidang, bukan hanya luas wilayah yang terus bertambah, namun daam sains dan teknologi pun menjadi mercusuar dunia kala itu.

Misalnya dengan banyak sekali ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Sina, Alkhawarizmi, Jabir Ibnu Hayyan dan yang lainnya.

Bukti Jejak Khilafah di Nusantara

1. Adanya pengakuan dari Kesultanan Sriwijaya.

Ketika Kekhilafahan Bani Umayyah (660-749 M), penguasa di Nusantara yang saat itu beragama Hindu, mengakui kebesaran Khilafah. Pengakuannya tampak pada adanya dua pucuk surat yang dikirimkan Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayah.

Surat pertama dikirim kepada Muawiyah dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. Ditemukan dalam sebuah diwan (arsip) Bani Umayah oleh Abdul Malik bin Umair yang disampaikan kepada Abu Ya‘yub ats-Tsaqafi, yang kemudian disampaikan kepada Haitsam bin Adi.

Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Haitsam menceritakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:

“Dari Raja al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah…” (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi ).

Surat kedua didokumentasikan Abd Rabbih (246-329/860-940) dalam karyanya, Al-Iqd al-Farîd. Potongan surat tersebut ialah sebagai berikut:

“Dari Raja Diraja…, keturunan seribu raja… Kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.” (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi (Jakarta: Prenada Media, 2004).

2. Dokumen Kesultanan Aceh

Dokumen tersebut juga berisi laporan soal armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merompak kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya. Laksamana Turki untuk wilayah Laut Merah, Selman Reis, dengan cermat terus memantau tiap pergerakan armada perang Portugis di Samudra Hindia. Hasil pantauannya itu dilaporkan Selman ke pusat pemerintahan Kekhalifahan di Istanbul, Turki.

Salah satu bunyi laporan yang dikutip Saleh Obazan:

“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau yang disebut Syamatirah (Sumatra). Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai).

Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuan Malaka yang berhadapan dengan Sumatra. Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, Insya Allah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak akan terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.”

Jejak khilafah di Nusantara memang sangat terasa. Masih banyak bukti-bukti lainnya yang menunjukkan adanya jejak-jejak kekhilafan di Nusantara.

Bukti sejarah ini semestinya menguatkan suasana dan ghirah perjuangan Islam kita. Bukan justru menyudutkannya. Terlebih khilafah merupakan ajaran Islam yang semestinya kita fahami, amalkan dan dakwahkan.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita