by

Menjadi Kebutuhan, Dua Tokoh Pendidikan Bertemu Gagas Dan Sepakati Sekolah Virtual

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Heru B. Arifin,  Direktur Sekolah Virtual Nusantara (Sevin), sebuah sekolah virtual yang berada di bawah naungan masyarakat profesional NU (NU Circle), dan Bambang Pharmasetiawan selaku Ketua Yayasan Budaya Luhur yang menaungi SMP-SMA Garuda Cendekia, sebuah sekolah berwawasan kebangsaan yang didirikan oleh dua orang begawan pendidikan Dr. Daoed Joesoef dan Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd, bertemu di Sekolah Garuda Cendekia l, Jakarta Selatan, Ahad (1/9/2020).

Dalam Pertemuan tersebut dua Tokoh Pendidikan ini sepakat mengawal pendidikan berbasis Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau dikenal sebagai pembelajaran daring.

Bambang menegaskan, kegiatan ini sekaligus sebagai tindak lanjut implementasi dari naskah akademik Sistem Kebudayaan dan Pendidikan Nasional (Sisbuddiknas) yang sudah direrahkan pada Komisi X DPR RI awal Juli yang lalu.

Ditambahkan Bambang. delegasi gabungan beberapa organisasi yang berjuang di bidang kebudayaan dan pendidikan, yang dipimpin oleh Pontjo Sutowo, Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, bertamu ke Komisi X DPR RI dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). 

Usai pertemuan, HB Arifin dan Bambang dalam keterangan pers bersama mengatakan bahwa Sevin yang merupakan sekolah berbasis daring dan SM Garuda Cendekia bersepakat untuk menjalankan PJJ tersebut untuk menjangkau daerah-daerah yang masih kekurangan guru yang mumpuni maupun daerah-daerah 3T, bahkan di luar negeri yang membutuhkan layanan ini.

HB Arifin menambahkan bahwa anak-anak Indonesia di luar negri bukan saja yang tinggal di kota-kota besar namun juga anak-anak yang orangtuanya bekerja di sektor seperti perkebunan. 

Di tempat yang sama,  Bambang mengatakan bahwa SMP-SMA Garuda Cendekia pada masa pandemi Corona ini beroperasi secara penuh dengan PJJ. Namun saat pandemi usai tidak menutup kemungkinan akan memiliki opsi hibrid, yaitu sebagian pelajaran dilakukan dengan tatap muka dan sebagian lagi dilakukan dengan PJJ. 

Lebih lanjut dikatakannya bahwa pada dasarnya manusia itu adalah mahluk sosial sehingga tatap muka antara guru dan murid tetap sangat diperlukan dan tidak dapat digantikan secara daring. Dilain pihak kemajuan teknologi informasi memungkinkan tempat dan waktu tidak lagi menjadi hambatan, sehingga pembelajaran dapat dilakukan secara “live” atau siaran langsung (sinkronous) maupun berupa hasil rekaman yang di simpan di jaringan (asinkronous) sehingga dapat dilihat berulang-ulang oleh seorang murid jika dia tidak memahami materi dalam sekali melihatnya, ini adalah kelebihan akibat adanya teknologi.

“Kombinasi pembelajaran tatap muka dan PJJ dimungkinkan karena pembelajaran seperti olah raga, seni, praktikum, pembinaan karakter, dan lainnya harus secara tatap muka, sedangkan pemberian materi secara konsep dan mengerjakan soal dapat dilakukan secara daring baik yang langsung maupun rekaman.”Jelas Bambang. 

Kunci dari PJJ menurut Bambang ada empat yaitu pertama penyiapan dan pemberian materi yang menarik, efisien dan efektif. Kemudian yang kedua adalah perangkat keras yang handal dan jika memungkinkan khusus untuk PJJ. Ketiga adalah kemampuan dari seorang guru dalam mengoperasikan perangkat lunak berupa platform dan media digital yang ada secara maksimal, dan yang terakhir adalah keberadaan jaringan internet yang dapat diandalkan.

Kesemua inilah  kunci keberhasilan dari PJJ. Pembelajaran yang dilakukan secara integrasi pun dapat dengan mudah dijalankan. Sehingga tipe pembelajaran modern berbasis STEAM (Science Technology Engineering Art and Mathematic) tetap dapat diaplikasikan, karena saat ini adalah eranya multidisiplin.

Dalam Pertemuan itu, HB Arifin menegaskan bahwa Sevin akan menyiapkan basis data rekaman pembelajaran, mungkin untuk satu topik ada beberapa guru yang mengajar sesuai dengan gaya masing-masing, seorang murid nanti dapat memilih dengan guru siapa diajarkannya sesuai dengan pilihannya.

Guru dari berbagai daerah tambahnya, akan mengajar sesuai dengan logatnya masing-masing namun materi sama, inilah kebhinekaan dalam pendidikan dan tetap satu dalam materi dan modul evaluasinya.

“Dengan demikian setiap murid berkesempatan diajar oleh guru-guru terbaik yang dimiliki Indonesia dan guru-guru pun dapat menjadikan guru-guru tersebut menjadi teladannya dan meniru cara mengajar mereka yang baik dan benar.” Ucapnya.

Sevin, lanjutnya, selain beroperasi sendiri juga akan bekerjasama dengan sekolah-sekolah nasional (dinamakan sekolah induk) juga akan merambah madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren di seluruh nusantara.

“Saat ini peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk payung hukumnya, terutama apabila seorang anak dari daerah A mengikuti sekolah virtual di daerah B, bagaimana status ijazahnya apa mengikuti daerah A atau daerah B. Belum lagi muatan lokalnya ikut kemana.” terangnya lagi.

Saat ini Sevin sudah bekerjasama dengan berbagai institusi dan organisasi, karena tanpa gotong royong dengan peran serta semuanya mustahil upaya besar dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa ini dapat diterapkan secara maksimal di selutuh nusantara.

Pandemi Corona ini dapat dijadikan momentum dan diambil hikmah demi mempercepat berjalannya sekolah yang dilakukan secara virtual di Indonesia.

Mengakhiri keterangan persnya dua pakar pendidikan ini mengatakan bahwa sekolah virtual akan mengawal kurikulum inti yaitu Agama dan Trimatra Pendidikan.

Trimatra terdiri dari Kebangsaan, Etika, dan Logika. Sedangkan Logika sendiri terdiri dari literasi bahasa, matematika, dan sains (sain sosial maupun sains murni). Pembelajaran Logika akan dilaksanakan secara kontektual dan bernalar.

Inilah dasar menjadi warganegara unggul/paripurna jika nalar para siswa jalan, bukan sekedar menghafal saja. Jadi bukanlah hal yang mustahil dapat mengejar secara cepat ketertinggalan Indonesia dari berbagai negara yang dilihat dari perolehan nilai PISA (Programme for International Student Assessment) yang naik secara tajam.  []

Comment

Rekomendasi Berita