by

Nita Savitri, drg*: Menjamurnya Islamophobia dan Penistaaan Islam Di Eropa

-Opini-47 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Marah dan geram. Adanya aksi kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin yang ternyata masih belum sirna. Penghinaan terhadap agama yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad ini mencuat kembali dengan penistaan terhadap kitab suci-Nya.

Negara Skandinavia dilanda kerusuhan yang dipicu oleh demonstrasi anti-Islam. Demo ini diwarnai dengan aksi membakar dan meludahi Al-Quran.
Seperti dilansir detik.com, Selasa (1/9/2020), sekitar 300 orang turun ke jalanan wilayah Malmo, Swedia pada jum’at (28/8).

Kemudian terjadi bentrokan antara aparat dengan pengunjuk rasa pasca kelompok ekstrimis sayap kanan membakar Alquran pimpinan Rasmus Paludan.

Rasmus Paludan, pemimpin kelompok anti-Islam Tight Direction (Stram Kurs), bersama para pendukungnya membakar Alquran pada Jumat (28/8) malam. Setelah rekaman itu muncul di internet, kelompok anti rasis di Malmo bereaksi terhadap kejadian tersebut dan para aktivis memblokir lalu lintas dan membakar ban di jalan.

Polisi menahan tiga orang yang membakar Alquran. Pemimpin rasis Denmark Paludan dilarang memasuki Swedia selama dua tahun.

Menyusul keesokan harinya, Sabtu (29/8) hal yang serupa terjadi di Oslo, Norwegia. Kelompok Stop Islamisasi Norwegia (SIAN) bersitegang dengan kelompok yang kontra setelah aksi seorang wanita merobek halaman ayat Al-Qur’an dan meludahinya. Bertempat di gedung parlemen Norwegia, wanita ini berseloroh bahwa dia akan menodai Al-Qur’an.

Wanita ini sebelumnya pernah didakwa kemudian dibebaskan atas tuduhan ujaran kebencian. Aparat pun menangkap kurang lebih 30 orang akibat ketegangan tersebut dan menembakkan semprotan merica dan gas air mata untuk memisahkan kelompok-kelompok yang bentrok.

Adanya aksi tersebut membuat pemerintah Turki melalui Kementerian Luar negerinya mengutuk keras tindakan rasis dan mengecam Rasmus Paludan, politisi anti-Islam yang disebut sebagai provokator aksi ini.

Kementerian meminta politisi dan otoritas Eropa untuk menanggapi masalah ini dengan serius dan melakukan upaya pencegahan agar tidak terulang hal serupa.

Kemenlu Turki menyebut adanya penistaan terhadap Islam, dan kasus Islamophobia yang marak beberapa tahun terakhir. Padahal negara-negara Skandinavia telah mengklaim mereka memimpin dalam sistem demokrasi, di mana hak asasi manusia dan supremasi hukum dijunjung tinggi (detik.news, 1/9/20).

Pemicu Maraknya Islamophobia dan Penistaan Islam

Penistaan Islam terjadi karena adanya kebencian yang nyata dari musuh-musuh Islam. Orang-orang kafir, musyrik dan munafik. Tindakan yang mereka lakukan selalu berulang, demi memancing kemarahan kaum muslimin.

Kebencian yang didukung dengan kebebasan berpendapat, walau menimbulkan ketakutan sekelompok pihak (Islam) seakan menafikan slogan yang selalu mereka dengungkan adanya kedamaian dan perlindungan HAM.

Masih teringat akan nobel perdamaian yang diprakarsai Norwegia sebagai negara pencetus ide tersebut. Tetapi kenyataannya mereka menjilat ludahnya sendiri, banyak kerusuhan yang dipicu kebencian nyata terhadap Islam dari ajaran maupun pemeluknya.

Negeri-negeri muslim seperti Turki, Saudi, termasuk Indonesia hanya berani mengutuk dan mengecam. Tidak ada kekuatan real yang mampu membungkam mulut beracun mereka. Adanya hukuman kepada penista, tidak memberi efek jera dan terus mengulangi perbuatan.

Bahkan dukungan politisi setempat terhadap aksi kebrutalan terhadap Al-Qur’an menjadi bukti keseragaman sifat yang mereka miliki. Kecaman dan kutukan pemimpin negeri muslim ibarat tak mereka gubris sama sekali.

Ketidakberdayaan dan ketakutan menghadapi kekuatan Barat masih menggejala. Inilah yang menjadi faktor penguat terulangnya penistaan serupa.

Islam Butuh Pelindung Hakiki Umat

Berulangnya kejadian penistaan dan pelecehan, membuktikan gagalnya sistem kapitalis mewujudkan harmoni antar umat beragama.

Kebebasan berpendapat dan berperilaku, beragama menjadi slogan lips service bagi nasib kaum muslimin. Tindakan sewenang-wenang terhadap muslim Uyghur-China, Rohingya-Birma, Palestina, Suriah belum reda hingga saat ini.

Penistaan terhadap Al-Qur’an yang terjadi di Swedia dan Norwegia, juga karikatur Nabi Muhammad yang rencana mau diterbitkan ulang oleh majalah Charlie Hebdo membuat daftar panjang penghinaan dan penistaan umat Islam.

Hal tersebut bisa terjadi karena kesatuan kaum muslim terpecah dalam sekat nasionalisme. Masing- masing sibuk mengurusi urusan dalam negerinya sendiri yang memang juga carut-marut. Tidak ada satu kepemimpinan Islam yang merangkul seluruh negeri muslim sedunia dalam satu naungan sistem Islam, yang memberi perlindungan hakiki terhadap umat, bak seorang ibu terhadap anaknya. Seperti tergambar dalam hadits

انّما الامام جنّةٌ يقاتل من ورائه ويتقى به

Sesungguhnya fungsi pemimpin itu adalah perisai. Orang – orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim).

Adanya penghinaan dan penistaan terhadap Islam seharusnya membuat seorang pemimpin Islam maju tuk memimpin menghentikannya dan memberi sanksi hukum yang membuat jera.

Hal ini dicontohkan oleh Khalifah Sultan Hamid II ,(1876-1918) yang sangat marah ketika ada rencana pemutaran drama karya Voltaire, yang menghina Nabi Muhammad SAW oleh Prancis dan Inggris. Dengan diplomasi yang kuat, Prancis pun membatalkan. Berbeda dengan Inggris, yang masih berkeinginan melawan.

Akhirnya berkat ketegasan sang Khalifah, untuk mengobarkan jihad melawan Inggris apabila drama tersebut diteruskan pemutarannya membuat Inggris terpaksa menghentikan rencana jahat itu sehingga kehormatan Nabi Muhammad pun tetap terjaga (hidayatullah.com).

Sistem Islam yang terbukti selama 13 abad lebih melindungi umat manusia, baik muslim maupun non muslim dalam hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Penjagaan yang diberikan atas non-muslim (kafir dhimmi, yang tunduk pada syariat Islam) tertuang jelas dalam Al-Qur’an :

“Wahai orang-orang beriman, Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena agama kalian. Mereka juga tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (TQS. al-Mumtahanah: 8).

Juga dalam hadits riwayat Imam al-Thabrani, Rasulullah Saw juga menyebutkan:

“Siapa menyakiti dzimmi, maka sungguh ia menyakitiku. Dan siapa menyakitiku, maka sungguh ia menyakiti Allah.”

Hal tersebut dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab yang berpihak kepada Yahudi yang mengadukan rumahnya akan digusur paksa oleh gubernur Amr bin Ash. Umar pun mengirim sepotong tulang yang digaris horizontal dan vertikal kepada gubernurnya. Serta merta, Sang gubernur pun membatalkan penggusuran. Sang Yahudi akhirnya masuk Islam, berkat keadilan sistem waktu itu.

Maka hal tersebut membuktikan hanya dengan sistem Islam yang menerapkan syariat Islam Kaffah sajalah, dunia terbebas dari Islamophobia. Sekaligus lenyapnya segala penistaan dan penghinaan Islam dan kaum muslimin. Wallahua’laam bishawabb.[]

 

Comment

Rekomendasi Berita