by

Rina Devina*: Belum Membaca Berarti Belum Merdeka

-Opini-69 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Bulan Agustus baru saja berlalu, namun membicarakan kemerdekaan bukan hanya harus di bulan Agustus saja, apalagi memasuki bulan September ini, kita akan memasuki bulan Gemar Membaca, maka tak ada salahnya saya menulis unek-unek yang mungkin bisa menjadi sebuah renungan bagi kita semua.

Sebagai seorang pustakawan otomatis adalah soerang penggerak literasi, dan literasi adalah awal dari gerakan kemerdekaan itu sendiri.

Tanpa gerakan literasi rasanya mustahil kita dapat merasakan alam kemerdekaan seperti yang sekarang kita nikmati.

Sudah selayaknya kita harus berpikir dan menyadari bahwa kemerdekaan yang telah diproklamirkan 75 tahun yang lalu bukanlah akhir dari perjuangan, namun adalah awal dari perjuangan kita semua untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang akan mengangkat harkat dan derajat bangsa ini di hadapan dunia Internasional.

Telah banyak cara yang ditempuh oleh pemimpin bangsa ini untuk mengisi dan memajukan bangsa ini agar lebih dihargai dan dapat bersanding dengan sejajar di antara negara-negara maju lainnya di dunia, namun kenyataannya masyarakat kita sendiri masih enggan untuk terus berbenah dan mengubah image negatif yang sampai sekarang masih melekat kuat di diri bangsa ini.

Image bangsa ini yang dulunya dianggap primitif dan bodoh akan terus melekat apabila kita tidak terus berusaha dan merawat makna kemerdekaan itu sendiri.

Kemerdekaan yang telah kita nikmati saat ini bukan saja harus kita syukuri, namun juga harus kita rawat dan isi dengan terus melakukan berbagai aktivitas dan terobosan di segala bidang, apalagi bidang yang memang saat ini sedang digalakkan untuk terus ditingkatkan, yaitu gerakan literasi.

Gerakan literasi adalah gerakan inti dalam membangun bangsa ini di segala bidang, tak ada satupun pembangunan yang dapat bergerak dan maju tanpa dibarengi dengan gerakan literasi yang mumpuni.

Bila kita mundur kebelakang dan membaca sejarah, kita pasti tahu bahwa founding father bangsa ini adalah tokoh-tokoh yang sangat gemar membaca. Para pemuda penggagas dan penukung pergerakan kemerdekaan juga adalah para pemuda yang terpelajar yang tinggi tingkat literasinya pada zamannya.

Maka fakta bahwa literasi adalah bahan baku pergerakan dan modal awal untuk mengisi kemerdekaan adalah tidak dapat disangkal lagi. Namun mirisnya adalah bahwa kenyataannya, saat ini tingkat literasi Indonesia masih rendah, bahkan untuk kawasan Asia, Indonesia masih berada di bawah negara tetangga, Malaysia yang merdeka jauh setelah bangsa ini merdeka.

UNESCO pada tahun 2012 pernah merilis bahwa indeks baca masyarakat Indonesia hanya 0.001 (%), yang berarti bahwa diantara 1000 orang, yang benar-benar membaca buku hanya satu orang saja.

Bahkan ada semacam riset yang menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia hanya mampu membaca 27 halaman dalam setahun, tentu ini adalah fenomena yang sangat mengerikan dan akan sangat mengkhawatirkan. Karena apa yang kita lakukan saat ini adalah cerminan untuk masa yang akan datang. Apa kabar bangsa ini dengan bonus demografinya kalau tidak kita benahi mulai saat ini juga?

Melansir situs katadata.co, Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) RI telah pula menyusun Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca). Kegiatan Alibaca ini meliputi beberapa faktor, yaitu Kecakapan, Akses, Alternatif, dan Budaya. Kategori Indeks Alibaca terbagi atas lima kategori, yakni sangat rendah (0-20,00), rendah (20,01-40,00), sedang (40,01-60,00), tinggi (60,01-80,00), dan sangat tinggi (80,01-100). Dan rata-rata indeks Alibaca nasional berada di titik 37,32%, yang artinya “tergolong rendah”. Data ini semakin menegaskan bahwa bangsa ini harus bergegas mengejar ketertinggalan dengan negara lain dari sisi literasinya.

Melihat kenyataan ini, sudah selayaknya kita saling bahu membahu dan bekerjasama dalam mendukung dan mengembangkan minat baca dan aktivitas literasi lainnya. Kita sebagai warga negara yang cinta pada bangsa ini dan berharap tidak akan ada penjajahan model baru untuk bangsa ini pasti akan segera berupaya dan berusaha untuk membuat perubahan sekecil apapun.

Perubahan ini dapat bermula dari diri sendiri untuk bertekad menumbuhkan minat dan kebiasaan gemar membaca dan menulis, menanamkan semangat kemerdekaan dengan menggunakan produk dalam negeri dan berbagai upaya lainnya yang menumbuhkan dampak yang positif bagi kemajuan bangsa kedepannya.

Padahal bangsa ini dibangun oleh generasi yang cinta baca, Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua sosok yang sangat mencintai buku. Kita masih bisa mengingat kata-kata mutiara dari seorang Bung Hatta yang berkata “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”.

Kita juga masih dapat melacak minat baca Bung Karno yang sangat tinggi dari buku karya Cindy Adams yang menceritakan tentang biografi Bung Karno yang sangat gila baca, sehingga diruangan manapun didalam rumahnya terdapat buku-buku untuk dibaca tak terkecuali didalam toilet rumahnya.

Sungguh paradoks, apabila dizaman sekarang, di mana informasi dan kemudahan mendapatkan akses informasi belum dapat membuat kita untuk mau menambah pengetahuan, utamanya pengetahuan yang berkaitan dengan upaya peningkatan budaya literasi dan gemar membaca.

Kita wajib bercermin pada peradaban bangsa Arab di Mekkah, yang semula dianggap primitif dan sangat tidak berpendidikan bisa berkembang bahkan menjadi cikal bakal berdirinya peradaban Islam yang besar hanya berawal dari perintah Allah, yaitu wahyu pertama Al-Quran, ‘Iqra’. Perintah membaca dalam kitab suci kaum Muslim inilah yang telah menjadikan Mekkah sekarang menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia.

Ray Douglas Bradbury, seorang sastrawan berkebangsaan Amerika Serikat pernah berujar “Tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, bikin saja orang-orangnya berhenti membaca”.

Ini adalah teguran keras untuk bangsa ini, bangsa yang tingkat literasinya sangat rendah, hanya setingkat lebih tinggi dari Botswana, negara di ujung benua Afrika. Mari baca kembali sejarah bangsa, pelajari strategi perjuangan merebut kemerdekaan dan mulailah berjuang mengembangkan potensi diri yang ada.

Ajak anggota keluarga lainnya untuk mencintai aktivitas literasi dan tanamkan dalam diri untuk terus berjuang melalui tulisan dan prestasi yang positif untuk kemajuan diri, lingkungan dan bangsa.

Kini, di usiaa 75 tahun kemerdekaan, mari kita niatkan dalam diri untuk mengisi kemerdekaan ini dengan mulai membiasakan aktivitas gemar membaca.

Generasi sekarang ini adalah generasi yang melimpah dengan sumber daya informasi dan teknologi, mari kita isi kemerdekaan ini dengan meningkatkan interaksi dan budaya literasi.

Ayo kaum muda, para Milenial harapan bangsa, ayo Ibu, srikandi dalam rumah tangga, dan Ayo Bapak, pahlawan dalam rumah tangga, mari kita bersama dan bergotong royong membumikan gerakan literasi di bulan Gemar Membaca, September. Karena belum membaca berarti belum merdeka. Salam Literasi.[]

*Pustakawati

Comment

Rekomendasi Berita