by

Zidny Istiqomah F*: Generasi Milenial Jangan Terjebak Dalam Pusaran Narkoba

-Opini-69 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Mencengangkan. Ternyata ganja menjadi komoditas binaan pertanian di Indonesia. Hal tersebut terjadi setelah Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 (CNBC Indonesia, 29/8/2020).

Bahkan menurut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha, ganja adalah jenis tanaman psikotropika dan selama ini telah masuk dalam kelompok tanaman obat sejak tahun 2006 dengan Kepmentan No.511/2006.

Adapun pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas tanaman obat, hanya bagi tanaman ganja yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengetahuan, dan secara legal oleh Undang-undang (UU) Narkotika.

Namun demikian kata Tommy , saat ini belum dijumpai satupun petani ganja yang menjadi petani legal, dan menjadi binaan Kementan. Pada prinsipnya kementerian memberikan izin usaha budidaya pada tanaman sebagaimana dimaksud pada Kepmentan 104/2020. Namun dengan tetap memperhatikan ketentuan dalam Peraturan Perundang-undangan.

Oleh karena itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memutuskan mencabut sementara Kepmentan No 104/2020 dan segera melakukan koordinasi dengan lembaga terkait. Kementan akan secara aktif melakukan edukasi bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait pengalihan ke pertanian tanaman pangan, hortikutura dan perkebunan, di daerah -daerah yang selama ini menjadi wilayah penanaman ganja secara ilegal (CNBC Indonesia, 30/8/2020).

Sebab lanjut Tommy Nugraha seperti dilansir CNBC Indonesia (29/8/2020), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo konsisten dan berkomitmen mendukung pemberantasan penyalahgunaan narkoba.

Lalu adakah dampak dari keputusan tersebut terhadap generasi muda milenial di Indonesia? Bagaimanakah seharusnya generasi ini menyikapinya?

Generasi Indonesia Terpapar Narkoba

haluanlampung.com (31/8/2020), mensinyalir bahwa di Indonesia hingga kini ganja masih termasuk dalam jenis narkotika golongan 1 menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Karena itu penggunaannya dilarang keras.

Aturan tersebut sebagaimana dikutip IDN Times,( 29/8/2020, seharusnya dilaksanakan secara konsisten.

Pemerintah tidak seharusnya bersikap ambigu dan menimbulkan kebinggungan di kalangan masyarakat dengan menetapkan peraturan Kepmentan RI Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 kemudian mencabutnya kembali.

Seperti ungkapan Dirjen Hortikultural Prihasto Setyanto yang menyatakan pihaknya siap meninjau penetapan itu jika mendapat penolakan. (IDN Times, 29/8/2020)

“Kalau memang aturan ini menurut berbagai pihak bahwa ini lebih banyak tidak bermanfaatnya daripada manfaatnya, ya tentunya kita akan revisi Kepmentan ini.” Kata Prihasto dilansir Antara, Sabtu.

Demikianlah karakter mendasar yang akan tampak pada negara yang mengadopsi azas kapitalis sekuler. Pastilah segala keputusan yang dikeluarkan berorientasi manfaat yang bersifat materi meski pada persoalan krusial yang membahayakan dan mengancam kehidupan masyarakat, seperti halnya ganja.

Buktinya, Badan Pusat Statistik (BPS) punya catatan ekspor-impor produk turunan tanaman yang punya nama julukan cimeng tersebut (CNBC Indonesia, 30/8/2020).

Padahal faktanya tidak sedikit generasi muda yang menjadi korban keganasan ganja. Sebagaimana dilansir di media, Tim Subdit I dan tim khusus Ditresnarkoba polda NTB membongkar penyalahgunaan narkoba di lingkungan Kampus Universitas Mataram. (Lombok post, 17/7/2020).

Dari hasil penggeledahan ditemukan sebanyak 19 paket ganja dari tiga orang serta lintingan ganja di dalam toples yang dibuang ke selokan.

Demikian juga yang ditulis dalam suarajogja.id, selasa 14 juli 2020. Jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Sleman mengungkap penyalahgunaan ganja dan psikotropika, yang diduga menyeret anak seorang Pejabat di Sleman sebagai salah satu pemakai.

Dari pengungkapan kasus tersebut, terkumpul barang bukti ganja seberat 2,5 kilogram dan narkotika lainnya. (suara jogja.com, 14/7/2020).

Karena itu wajar jika ketua Persaudaraan Tani Sumut, Toni Togatorop mengingatkan Kementan (Kementerian Pertanian) supaya jangan coba-coba menciptakan generasi bangsa Indonesia menjadi generasi pemabuk dan pemalas, dengan memasukkan ganja ke dalam komoditas binaan jenis tanaman obat. (Sinar Indonesia, 03/9/2020).

Sebab saat ini kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta generasi muda Indonesia yang terpapar narkoba. Sebagaimana dilansir di media bahwa angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar tahun 2018 ( dari 13 ibukota provinsi di Indonesia) mencapai angka 2,29 juta orang. (bnn.go.id, 12/8/2019).

Sedangkan tahun 2019 sebagaimana dinyatakan Kepala Badan Narkotika nasional (BNN), Komisaris Jenderal polisi Heru winarko, penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja makin meningkat. Dimana ada peningkatan sebesar 24 hingga 28 persen remaja yang menggunakan narkotika. (bnn.go.id, 12/8/2019).

Sementara kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi milenial.

Generasi Milenial Menyikapi Narkoba

Masa muda merupakan salah satu episode runtutan waktu kehidupan seseorang. Di awali masa kanak-kanak dan diakhiri masa tua. Setiap masa memiliki potensi dan masalahnya masing-masing. Pada usia ini tersimpan kekuatan yang tidak di miliki oleh masa usia yang lain. Al-Qur’an sebagai manual book yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia menggambarkan usia muda sebagai sebuah kekuatan di antara dua kelemahan.

“Allah Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (TQS Ar rum 54).

Masa muda seseorang bisa diumpamakan sebagai voucher belanja bernilai triliun rupiah. Voucher itu bisa dipakai untuk membeli apapun yang diinginkan. Bisa dihabiskan untuk hal-hal tidak bermanfaat atau bisa juga diinvestasikan untuk sesuatu yang bermanfaat di masa kini dan masa depan.

Namun, voucher itu memiliki batas waktu. Jika masa berlakunya sudah habis, maka tidak bisa dipakai lagi. Jadi, sungguh rugi orang yang tidak mengetahui kalau sesungguhnya ia memiliki sebuah voucher yang nilainya sangat besar dan mahal.

Berdasarkan hal ini sudah sepatutnya generasi muda milenial bersikap waspada terhadap bahaya penyebaran narkoba. Berpegang pada prinsip yang kuat untuk menjauhi narkoba dan tidak terjebak di dalamnya. Sebab Islam telah jelas memberikan batasan, mana yang halal untuk di konsumsi dan mana yang diharamkan.

Meskipun dalam pandangan manusia sesuatu yang haram itu mengandung manfaat besar bagi kehidupan manusia. Sebagaimana disampaikan dalam firman Allah SWT :

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir” (TQS Al Baqarah 219)

Di dalam hadits Rasulullah SAW juga disebutkan secara tegas tentang larangan ganja dan narkoba yang termasuk dalam kategori khamr ini. Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Nabi SAW. bersabda, “Setiap hal yang memabukkan itu khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram.” (H.R Muslim)

Oleh karena itu, pengalaman pahit dengan banyaknya remaja yang terjebak narkoba, dan kehilangan masa depannya sungguh merupakan pelajaran berharga, yang layak menjadi bahan berfikir.

Bahwa jika masih ingin menjadi generasi pembangun masa depan, agen of social change, maka jangan pernah dekati NARKOBA. Buatlah hidup yang lebih berwarna dan sarat makna.

Memberi manfaat kepada sesama, bagi bangsa dan agama melalui ketinggian ilmu dan beragam inovasi. Salurkan energi pada aktivitas positif yang berbuah pahala dari Allah swt.

Namun untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah, sebab ini bukan sebuah jalan yang indah, dan bertabur bunga di kanan kirinya. Karena itu dibutuhkan jalinan kerjasama dari semua pihak yang masih punya jiwa, merasa memiliki dan ingin menyelamatkan para generasi muda milenial dari bahaya narkoba.

Baik itu keluarga, masyarakat, terlebih lagi negara. sebagai bagian terpenting dari kehidupan remaja dan masyarakat secara keseluruhannya.

Sebab negara dalam Islam adalah perisai, sebagai penjaga keselamatan umat termasuk para generasi muda milenial. Baik menjaga akalnya agar tidak terkontaminasi dengan berbagai obat terlarang, berbahaya serta diharamkan oleh agama. Juga menjaga jiwanya agar senantiasa dapat lurus mengabdi dan beribadah sebagai hamba dari Sang Maha Pencipta dan pengatur manusia, Allah swt. ()

*Siswa Kelas IX, SMP Bina Insan Mandiri Baron Nganjuk, Banyuwangi.

Referensi :

http://detik.id/6TQkIr

http://detik.id/60EPto

https://sulsel.idntimes.com/news/indonesia/vanny-rahman/kementan-resmi-tetapkan-ganja-sebagai-komoditas-tanaman-obat-regional-sulsel

https://lombokpost.jawapos.com/kriminal/17/07/2020/polisi-gerebek-narkoba-di-universitas-mataram-10-orang-ditangkap/

https://jogja.suara.com/read/2020/07/14/133045/anak-pejabat-sleman-diduga-pakai-ganja-terseret-kasus-peredaran-narkotika

https://haluanlampung.com/2020/08/31/kontroversi-tanaman-ganja-dalam-pusaran-obat/

https://hariansib.com/Tajuk-Rencana/Kontroversi-Ganja-Sebagai-Tanaman-Obat

https://bnn.go.id/penggunaan-narkotika-kalangan-remaja-meningkat/

Bara Dakwah Para Pemuda, Untaian Motivasi Nafsiyah Untuk Pemuda, M. Iwan Januar.

Menjadi Pemuda Hebat Reborn, Empat Kualitas Pemuda Hebat Penuh Cinta, Amir Ma’ruf.

Comment

Rekomendasi Berita