by

Adira, S.Si*: Refleksi Idul Qurban, Mewujudkan Pengorbanan Hakiki

-Opini-128 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pilu mendalam dirasakan masyarakat terdampak bencana banjir badang di tengah perjuangan melawan pandemi covid-19.

Banjir bandang membawa lumpur setinggi 2,5 meter ini membuat panik masyarakat di wilayah Kabupaten Luwu Utara dan sekitarnya, saat sebagian besar warga masyarakat sedang tertidur pulas. Tak sedikit pemukiman yang tenggelam dan hanyut terbawa air. Beberapa kampung rata, hilang dari penglihatan.

Kondisi korban yang tertimbun lumpur dan pepohonan, serta akses jalan yang hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki, membuat proses evakuasi cukup sulit dilakukan. Para tim gabungan harus bekerja keras di medan yang berlumpur dan semakin memadat.

Total korban jiwa menjadi 37 orang (Sabtu, 18/07), korban meninggal 36 orang, 40 orang hilang, 58 luka-luka dan 14.483 jiwa mengungsi di 76 titik di tiga kecamatan (Bbc.com, 20/7/2020).

Duka ini adalah ujian pengorbanan bagi para warga yang terdampak bencana agar tetap bersabar, meski harus kehilangan jiwa dan harta benda.

Bagi warga masyarakat seluruhnya juga merupakan ujian untuk turun tangan membantu meringankan penderitaan saudaranya. Rida pada qada atau ketetapan Allah SWT adalah salah satu bukti keimanan yang benar.

Selain sebagai ujian, sebuah bencana didatangkan oleh Allah SWT untuk memberi peringatan atas kemungkaran yang dilakukan oleh kaum yang mendurhakai Allah SWT.

Peristiwa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh merupakan banjir besar sepanjang sejarah, karena hanya meyisakan mereka yang berada di atas kapal Nabi Nuh.

Banjir itu untuk menguji siapa yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, sebab orang-orang yang ingkar pada saat itu enggan untuk mendengarkan perintah Nabi Nuh AS. Hal ini diabadikan Allah di dalam Al Quran surat Asy-Syu’ara ayat 117-120.

Pengorbanan Hakiki

Allah SWT berfirman,
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS.Al Ankabuut: 2).

Para nabi dan rasul telah melalui berbagai ujian terberat dalam kehidupan yang tidak mampu dipikul oleh seorang manusia biasa. Nabi Ibrahim as membuktikan ketaatan kepada Allah SWT dengan mempersembahkan putera kesayangannya, Nabi Ismail as. Bukan hal yang mudah untuk memenuhi permintaan Allah mengorbankan buah hati yang telah lama dinanti kehadirannya.

Nabi Ismail pun begitu ikhlas menerima perintah Allah yang dikabarkan kepadanya. Beliau berbaik sangka kepada Allah SWT, bahwa apapun yang diperintahkan Allah SWT adalah hal yang terbaik baginya. Bahkan beliu tidak sedikitpun menghakimi atau mempertanyakan tentang perintah yang disampaikan orang tuanya. Wujud bakti kepada orang tua dan penghambaan tertinggi kepada Allah SWT.

Untuk saat ini manusia tak lagi diminta untuk mengorbankan nyawa anak-anaknya, tetapi diperintahkan untuk menyembelih qurban di hari raya idul adha, meskipun perintah itu status hukumnya sunnah dan bukan wajib, tetapi bagi umat islam yang mampu sangat dianjurkan untuk melaksanakannnya.

Rasulullah Muhammad SAW, juga tidak luput dari ujian Allah sepanjang hidup beliau, berdakwah untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia dengan cahaya Islam. Rasulullah dan para sahabat tak henti-hentinya mendapat perlawanan keras dari orang-orang kafir Mekkah.

Penyiksaan fisik, penghinaan dan tuduhan-tuduhan keji sampai pada pemboikotan terus digencarkan oleh orang-orang musyrik untuk menghentikan penyebaran islam. Namun hal itu tak sedikit pun melemahkan semangat dakwah Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadist shahih, dari Khabab bin Al-arat, ia menceritkan, kami tanyakan:

“ Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak memohon pertolongan untuk kami, dan mengapa engkau tidak mendoakan kami?” maka beliau pun bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, ada diantara mereka yang digergaji di tengah-tengah kepalanya hingga terbelah sampai kedua kakinya, namun hal itu tidak memalingkan dirinya dari agama yang dipeluknya. Ada juga yang tubuhnya disisir dengan sisir besi sampai terpisah daging dan tulangnya, namun hal itu tidak menjadikannya berpaling dari agamanya.” Selanjutnya beliau bersabda, “ Demi Allah, Allah benar-benar akan menyempurnakan perkara (agama) ini sehingga seseorang yang berkendaraan dari Shana menuju Hadramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah SWT, dan hanya mengkhawatirkan serigala atas kambingnya. Tapi kalian adalah kaum yang tergesa-gesa.”

Bagi umat Islam yang hidup saat ini, dari sekian ujian bencana yang didatangkan Allah, bencana terbesar adalah saat aturan Allah SWT semakin jauh dari kehidupan. Munculnya berbagi kerusakan di darat dan di laut akibat ulah manusia yang tidak mau tunduk kepada aturan pencipta.

Allah SWT, juga berfirman:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembal (ke jalan yang benar) (QS. Ar-Rum: 41).

Bulan Zulhijjah adalah bulan haji dan qurban. Setiap tahun umat islam berlomba-lomba menunaikan haji dan mempersembahkan qurban terbaik.

Selain pelaksanaan dua amalan mulia itu, hendaknya umat Islam juga menyibukkan diri meraih keridaan Allah SWT dengan upaya yang sungguh-sungguh menerapkan seluruh perintah Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan.[]

*Praktisi pendidikan dan penggiat literasi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + eleven =

Rekomendasi Berita