by

Aisyah, S.H*: Sistem Pendidikan Khilafah dan Ilusi Sistem Zonasi Bapak Menteri

Aisyah, S.H
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pendidikan berperan strategis dalam memajukan suatu bangsa. Sejarah mencatat, kemajuan dunia – termasuk negara-negara Barat – ternyata berasal dari dunia Islam. Sejarawan Barat, Jacques C. Reister, mengakui secara obyektif bahwa selama 500 tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi. Menurut Montgomery Watt dalam bukunya, The Influence of Islam on Medieval Europe (1994), Peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenarasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya.
Peradaban Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah telah memiliki andil besar dalam kehidupan. Khilafah Islam sangat memperhatikan perkembangan ilmu dan dunia pendidikan, karena keduanya merupakan hak yang mendasar yang harus diberikan oleh negara kepada rakyat. Inovasi-inovasi para  ilmuwan dihargai dan diimplementasikan dalam pembangunan kekhilafahan. Bahkan ilmu, mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan. Tidak heran jika Khilafah pada saat itu banyak membangun sarana pendidikan dan keilmuan, seperti masjid, sekolah, universitas, perpustakaan, pusat kajian, menara astronomi, dan kantor-kantor baitul Hikmah (Ensiklopedia Khilafah dan Pendidikan).
Tidak hanya itu, Dalam Khilafah Islamiyah, kemajuan ilmu dan teknologi ini diiringi dengan kemuliaan derajat dan martabat manusia. Inilah peradaban emas dimana kemajuan teknologi beriringan dengan masyarakat beradab yang memiliki akhlak terpuji dan ketakwaan tinggi, yang menunjukan jatidiri manusia sebagai hamba Allah yang berakal. Khilafah Islamiyah telah menjadikan peradaban dunia sebagai peradaban emas yang dipenuhi dengan keadilan, kemajuan, akhlak yang agung, kesejahteraan dan perdamian. Peradaban emas dari dunia Islam ini menyebar ke seluruh pelosok dunia demi mengeluarkan dunia dari kegelapan menuju cahaya.
Ketika dunia Islam tak lagi dalam naungan Khilafah Islamiyah kondisinya demikian hina. Realitas ini berbanding terbalik dengan kondisi Barat, pada saat kaum muslimin telah tersilaukan pandangannya terhadap dunia Barat dengan kemajuan semu yang senantiasa dipropagandakan secara masif. Realitas inipula yang saat ini sedang menimpa Indonesia. Dengan alasan mengikuti negara maju seperti Jepang dan Eropa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy telah mengimplementasikan  sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang kemudian disempurnakan melalui Permendikbud Nomor 14 tahun 2018.
Kini seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tidak lagi bersandar kepada Nilai Rapor dan Ujian Nasional melainkan berdasar pada lokasi domisili peserta didik. PPDB dibagi menjadi tiga jalur yakni zonasi dengan kuota penerimaan 90 %, prestasi 5% dan pemindahan orang tua 5%. Sistem zonasi diklaim dapat menghilangkan stigma sekolah favorit dan mewujudkan pendidikan yang berkeadilan.
Sebagaimana yang kita saksikan, sistem ini justru menuai masalah dan polemik tak berkesudahan, mulai dari kekecewaan orang tua peserta didik baru yang dilampiaskan dalam bentuk demonstrasi, penyegelan gedung sekolah, penyanderaan, bahkan berimbas pada anak yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena khawatir tidak dapat diterima di sekolah negeri. Banyak calon peserta didik yang tidak tertampung di zona padat penduduk namun minim sekolah bahkan tak ada sekolah negeri diwilayah tersebut. Sebaliknya ada ratusan sekolah yang kekurangan siswa seperti yang terjadi di  Kabupaten Jember Jawa Timur, yaitu sebanyak 685 Sekolah Dasar Negeri di 31 Kecamatan mengalami krisis peserta didik baru (cnnindonesia.com). 
Telah dipahami secara luas bahwa masalah pendidikan di negara ini tidak pernah rampung. Meski undang – undang terus terbit bahkan saling tumpang tindih satu dengan yang lain. Pengamat Pendidikan Darmaningtyas menyatakan bahwa sistem zonasi PPDB ini berpotensi melanggar undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penerimaan murid baru menjadi kewenangan sekolah, dengan kata lain kebijakan zonasi itu melanggar UU Sisdiknas yang seharusnya (aturan itu) dilakukan Kemendikbud (tribunnews.com).
Ombudsman Republik Indonesia menolak sistem zonasi yang diterapkan kemdikbud dalam PPDB 2019. Penolakan tersebut dilakukan setelah mendapat banyak aduan dari masyarakat. Penolakan ini juga diputuskan oleh Ombudsman dengan alasan belum meratanya fasilitas dan mutu sekolah.  Mentalitas favoritisme itu disebabkan kurangnya penyebaran dan pemerataan fasilitas dan mutu sekolah di seluruh pelosok Indonesia sehingga sebagian masyarakat mengkhawatirkan akan mutu pendidikan anaknya.
Jadi kata kunci dari kesiapan pelaksanaan sistem zonasi  adalah apabila telah tersedianya sarana prasarana sekolah bermutu yang tersebar luas dan merata di seluruh wilayah di republik ini. Hanya saja ini mustahil terwujud karena negara ini tegak diatas  sistem kapitalisme, termasuk sistem pendidikannya.  Setiap kebijakan diatur berdasarkan untung rugi.  Apapun yang tidak menguntungkan penguasa meski terkait dengan masa depan anak bangsa, maka akan sangat sulit terealisasi. Negara abai dari masalah pendidikan rakyatnya. Laksana menggantang asap, mustahil pemerataan dan keadilan pendidikan dapat diwujudkan. Kapitalisme telah menyandera cita-cita itu, menjadi Ilusi yang tak berujung. Jelas Sistem Zonasi bukanlah solusi untuk masalah pendidikan di negara ini, karena akar masalah itu terletak pada kesalahan paradigma dan sistem yang dijalankan.
Menteri Pendidikan dan Budaya Muhadjir Effendi beragumentasi bahwa sistem ini telah diterapkan di luar negeri.  Sistem pendidikan di luar negeri seperti di Jepang, Korea Selatan dan Eropa telah berhasil karena sistem zonasi. Siswa menjadi lebih sehat karena dapat berjalan kaki dari rumah, orang tua lebih tenang karena dapat memantau pendidikan anak. Demikian pula sekolah menjadi maju dan situasi pendidikan lebih kondusif karena siswanya  yang homogen, berasal dari lingkungan yang sama dan saling mengenal satu sama lain. Benarkah demikian ? Mari sejenak melihat realitas pendidikan di Barat, agar kita tidak tersilaukan oleh prestasi nisbi peradaban Barat hari ini.
Kegagalan Pendidikan Barat
Dilaporkan dalam Guardian – Sebuah media Inggris berpengaruh – bahwa pemotongan biaya pendidikan dan anggaran dari otoritas pendidikan lokal, telah memindahkan sumber daya sekolah lokal ke akademi-akademi yang baru, yang kebanyakan berada di wilayah-wilayah menengah atas. Menurut mantan Guru Kepala dan Konselor Liberal Demokrat Peter Downes – seorang kritikus yang sengit terhadap koalisi kebijakan pendidikan -, “Hal ini berarti mengarahakan sumber daya kepada pihak yang paling diistimewakan. Dengan cara ini kehidupan akan menjadi keras bagi sekolah-sekolah yang ada pada tumpukan terbawah.” Downes menemukan terdapat reduksi (pengurangan) yang signifikan terhadap pelayanan pada orang-orang miskin, lemah dan etnik minoritas. Sementara pemerintah menghabiskan jutaan poundsterling  untuk pembangunan sekolah bebas biaya yang baru.
Kualitas Guru Rendah
Hasil penelitian Organisation for Economic Co-Operation and Development  (OECD), 67 % guru merasa tidak dihargai dengan layak, 74 % mengatakan bahwa mereka tidak dibayar dengan layak dibandingkan dengan profesi yang lain. Menurut jaringan Guru Guardian dan survei pekerjaan di Guardian terkait kehidupan guru, 82% guru menyatakan bahwa beban pekerjaan mereka sudah diluar batas  kemampuan, 73 % menyatakan bahwa pekerjaan mereka mempengaruhi kesehatan fisik mereka, dan 76 % menyatakan bahwa pekerjaan mereka mempengaruhi kesehatan mental mereka. Sepertiga guru dilaporkan bekerja lebih dari 60 jam/minggu, 1 dari 5 orang meninggalkan pekerjaannya karena beban kerja tersebut.
Lima Kampus AS Telah Membuat Survey Kadar Stress
Hasil Survey yang dilakukan universitas North Western, universitas Harvard, universitas Columbia, universitas Pennsylvania, universitas Washington bahwa Kesehatan emosional mahasiswa Amerika telah menurun sepanjang 25 tahun terakhir. Pada tahun 1985 ada 64 % mahasiswa yang kesehatan mentalnya diatas rata-rata. Namun pada 2010, angka ini tersisa hanya 52 %. Faktor penyebab stress antara lain karena persaingan ketat, biaya kuliah, tingginya grade masuk universitas, kejahatan kampus dan faktor ekonomi.
Tes yang Menghasilkan Ketakutan
John Holt (1923-1985) menyatakan kecemasan yang dirasakan anak-anak saat di tes secara terus-menerus, rasa takut gagal, takut hukuman dan aib dengan sangat parah mengurangi kemampuan mereka untuk memahami dan mengingat. Membuat mereka jauh dari materi yang dipelajari lalu mencari strategi untuk membodohi guru agar yakin bahwa siswa tahu apa yang sebenarnya mereka tidak tahu.
Peringkat yang Menghasilkan Bayang-bayang Gelap
Dunia mungkin memandang bahwa Korea Selatan sebagai model untuk pendidikan – siswa-siswinya menempati ranking terbaik pada tes pendidikan Internasional – namun sisi gelap sistem pendidikan membuat bayang-bayang panjang. Didominasi oleh tiger moms (ibu yang sangat disiplin dan menuntut), sekolah yang menjejali pengetahuan, dan guru yang sangat otoriter, pendidikan Korea Selatan menghasilkan barisan siswa over-prestatif yang harus ditukar dengan harga mahal : kesehatan dan kebahagiaan. Keseluruhan program pendidikan sama seperti kekerasan pada anak. Demikian pernyataan Se-Woong Koo, dosen Kajian Korea di universitas Yale (The New York Times).
Menghasilkan Ketakutan
Di Jepang, masalah bullying atau ijme dalam bahasa Jepang, disebutkan sebagai alasan sesungguhnya mengapa angka bolos di Jepang sangat tinggi. Menurut mantan Perdana Menteri Ryutaro Hashimoto bahwa 100.000 siswa menolak pergi sekolah karena takut. Menurut statistik, sepertiga siswa sekolah negeri telah melaporkan sebagai korban bullying dalam berbagai bentuk seperti diejek dan mendapatkan ancaman.
Keboborokan sistem Pendidikan Barat
Pendidikan di Barat dibangun diatas prinsip yang membingungkan, ketidakpastian tujuan pendidikan dan meraih pendidikan hanya untuk nilai dan pekerjaan yang bagus. Aristoteles (ditulis 350Sm) menyatakan, “Tidak ada kejelasan apakah pendidikan lebih mementingkan intelektual atau nilai moral. Praktek yang terjadi justru membingungkan ; tidak ada yang tahu tentang prinsip apa yang seharusnya dijalankan – harus berguna dalam kehidupan, atau moral, ataukah harus pengetahuan yang lebih tinggi, yang akan menjadi tujuan dari pelatihan kami;ketiga opini tersebut telah disuguhkan.”
“Kelemahan paling serius dalam pendidikan modern adalah ketidakpastian tentang tujuannya. Sekilas membuka sejarah akan mengingatkan kita bahwa, sistem pendidikan yang paling penting dan efektif telah memberikan solusi dengan jelas dalam hal kualitas pribadi dan kondisi sosial. Sebaliknya, pendidikan di negara-negara demokrasi liberal menyedihkan, tidak jelas tujuannya” – Galnon, 1950.
Tom Hodgkinson menyatakan, “Pendidikan itu sendiri adalah penangguhan, penundaan ; kita dinasehati agar bekerja keras supaya mendapatkan nilai bagus. Kenapa ? Supaya kita bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Apa itu pekerjaan yang bagus ? Pekerjaan yang gajinya tinggi. Oh. Itu saja ? Semua penderitaan ini, hanya agar kita bisa mendapatkan banyak uang, yang bahkan jika kita berhasil mendapatkannya pun tidak akan menyelesaikan masalah kita, bukan ? Ini adalah ide sempit yang tragis tentang untuk apa hidup ini sesungguhnya.” 
Kemajuan dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan di Barat meraka genggam dengan meletakkan pondasi dasar sekularisme (paham yang meniadakan agama dalam kehidupan). Akibat paham sekulerisme inilah, kemajuan ilmu dan pengetahuan telah dipisahkan dari kemuliaan peradaban manusianya. Kemajuan ilmu di Barat telah melahirkan lubang besar krisis kemanusiaan dan kehidupan yang penuh masalah.
Dunia tidak bisa menutup mata, bahwa saat ini terjadi dekadensi moral terhadap para  pelajar dan generasi yang teramat parah, terutama di Barat yang kemudian menjalar luas ke negeri-negeri kaum muslimin. Narkoba, alkohol, kekerasan, bullying, seks bebas, aborsi, HIV/AIDS, depresi dan bunuh diri. Inilah potret pendidikan dunia saat ini. Ketika negara yang maju sistem pendidikannya, ternyata tidak seiring dengan kemajuan derajat dan martabat manusia.
Pendidikan maju ala Barat telah turut mengekspor kemunduran peradaban manusia kedunia Islam. Pembaratan melalui pendidikan telah menggerus kecemerlangan anak-anak kaum muslimin, menjadikan mereka asing terhadap aqidahnya, bahkan telah melucuti jati diri keislaman mereka. Saat ini dunia membutuhkan sistem pendidikan yang mampu memajukan peradaban dunia dan memuliakan manusia penghuni bumi, menjadi rahmatan lil`alamin. Sistem pendidikan Islam dengan kekhasannya, yang mampu mewujudkan integrasi ilmu dan agama, jelas sangat dibutuhkan dunia. Sistem yang mampu mengubah potret kelam dunia pendidikan sekuler ala Barat menjadi realitas pendidikan agung yang memuliakan manusia.[]
*ASN di Aceh

Comment

Rekomendasi Berita