by

Arief Poyuono, Wakil Ketua Umum Gerindra Tanggapi Cuitan SBY

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? SBY,” kata SBY lewat akun Twitter @SBYudhoyono

Ini cuitan mantan presiden SBY yang mengekspresikan sebuah kekecewaannya terkait masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa dan negara. Ini menurut saya hal yang wajar sebagai orang yang pernah memimpin negara ini mengeluh dan menungkapkan rasa kecewa beliau di twitter

Memang sangat jauh berbeda penyelesaian masalah sosial dan politik yang dilakukan oleh mantan presiden SBY dengan cara yang dilakukan Joko Widodo. Saat SBY yang berlatar belakang militer itu, meyelesaikan masalah yang timbul di negeri ini bukan dengan cara represif, main tangkap dan menahan yang justeru bertentangan dengan kebebasan berdemokrasi

Bila dibandingkan saat SBY berkuasa, berita hoax dan fitnah juga banyak, seperti halnya SBY sudah menikah dan punya anak sebelum menikah dengan Ibu Ani Yudhoyono bahkan isu menggulingkan SBY. Namun oleh SBY, semua didengar dan diatasi dengan bijak sehingga tidak mengarah pada perpecahan anak bangsa

Pernyataan oposisi terhadap SBY pada waktu itu sangat kerasn tapi mereka semua diajak bicara oleh SBY satu demi satu tanpa main lapor polisi atau meminta polisi menangkapnya.

Di era SBY, tidak satupun aktivis buruh yang melakukan aksi demo menuntut kaknya saat itu yang dibawa ke meja hijau. Di zaman Joko Widodo 26 Aktivis buruh hampir saja terancam dipenjara,  untungnya hakim masih bijak dan baik sehingga memvonis bebas mereka.

Sangat disayangkan institusi Polri, akibat tekanan dari Joko Widodo dan antek anteknya berakhir bentrok dengan masyarakat serta menarik Polri untuk berpolitik seperti TNI saat Orde Baru.

Sebesar besar hoax meyebar tidak lepas dari macetnya saluran komunikasi yang dibangun oleh Joko Widodo dengan masyarkat terutama kelompok yang tidak berkecimpung di parpol yang sebenarnya memiliki pengaruh lebih besar dari Parpol, seperti Serikat Buruh, Ormas dll.

Perlu diingat bahwa kondisi seperti lahirnya sentimen anti RRC dan propaganda hitam itu semua tidak lepas juga dari pemerintahan yang dipimpin oleh SBY selama 10 tahun terakhir yang banyak meninggalkan masalah sosial, politik dan ekonomi yang mau tidak mau harus dijalankan oleh Joko Widodo dengan kemampuan yang terbatas. Karena keterbatasa itulah akhirnya jalan represif dan jalan pintas dengan menabrak semua aturan di ambil oleh Joko Widodo, baik dalam membuat kebijakan ekonomi, politik dan Sosial

Jadi SBY yang menabur dengan bibit membangun bangsa dan negara yang kurang berkualitas, Joko Widodo menuai badai hoax dan fitnah. Rakyat lemah kurang mendapat perhatian dan rakyat makin miskin.


Saat ditanya soal strategi Gerindra mengatasi persoalan hoax dan fitnah, Wakil Ketua Umum Gerindra ini mengatakan, “Gampang cara ngatasinya,  cuekin aja, sebab selama ini berita-berita kan memang hoax bukan kenyataan. Dari pada nanggapin berita hoax, lebih baik Joko Widodo kerja yang kongkrit” Ujar Arief singkat melalui hubungan WhatsApp kepada radarindonesianews.com, Minggu (22/1).[GF]

Comment