by

Ayu Mela Yulianti, SPt: Media Sosial dan Perceraian

Ayu Mela Yulianti, SPt, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Pengadilan
Agama Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mencatat kasus perceraian yang terjadi
selama beberapa tahun terakhir banyak diakibatkan oleh media sosial. Sesuai
dengan pembuktian dalam persidangan kasus perceraian di Pengadilan Agama
Karawang, cukup banyak pasangan suami-istri bercerai karena kecemburuan yang
bermula dari pertemanan di media sosial.(Antara News, Karawang, 9 September
2018)
Fakta
yang mewakili kebanyakan kasus perceraian di seluruh Indonesia saat ini. Akan tetapi
haruslah kita jeli memandang kasus ini, karena ada pergeseran nilai sedikit demi
sedikit tentang banyak fakta yang berkembang terkait dengan penggunaan
teknologi yang menampilkan media sosial sebagai salah satu unsurnya, yaitu
pengaruh dunia maya ke dunia nyata, hasilnya sangat signifikan, pergaulan umat
manusia bisa terjadi didunia maya dari belahan bumi manapun, yang bisa berimbas
pada pergaulan dunia nyata. Salah satu imbas negatif penggunaan teknologi dari
aplikasi media sosial adalah perceraian.
Sebenarnya
Syariat Islam memandang jika perceraian dibolehkan dalam Islam. Sah – sah saja
jika pasangan menikah kemudian mengambil keputusan untuk bercerai. Apapun yang
melatarbelakanginya. Karena Syariat Islam telah menetapkan bahwa perceraian
adalah salah satu solusi yang boleh diambil ketika rumah tangga mengalami
masalah. Tentulah solusi ini adalah pilihan terakhir setelah berbagai macam solusi
ditempuh.
Syariat
Islam memandang jika menikah dan berumah tangga adalah setengah dari ibadah.
Bayangkan, setengah dari ibadah ini, nilai pahalanya bukan main-main besarnya.
Karena hanya dalam pernikahan dan rumah tangga saja lahir berbagai macam peran,
hak dan kewajiban. Antara lain sebagai suami, isteri, anak, ayah, ibu, mertua,
ipar dan lain sebagainya. Untuk itulah disebut sebagai setengah dari ibadah,
dan perbuatan yang dikategorikan sebagai sunnah Nabi. Sangat dianjurkan oleh
Rasulullah Muhammad SAW.
Akan
tetapi perjalanan rumah tangga dalam ikatan pernikahan tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Banyak godaan yang bisa menghancurkan komitmen
ibadah diantara suami isteri. Mengkaramkan bahtera rumah tangga. Godaan itu
antara lain berasal dari media sosial sebagai imbas dari penggunaan teknologi.
Melalui
media sosial manusia dapat dengan mudah bertemu dan dipertemukan kembali. Ada
acara reuni, acara temu kangen entah sesama alumni pendidikan atau teman sepemainan
jaman dulu. Semua kemungkinan bisa terjadi dalam media sosial. Dunia maya bisa
berubah dan mengantarkan pada dunia nyata. Pertemuan antar mantan yang bisa
menyuat perasaan lama, pertemuan kawan lama dan kawan baru, reuni keluarga dan sebagainya.
Apa sih yang tidak mungkin diantarkan oleh dunia maya ke dunia nyata ?..semua
bisa terjadi.
Untuk
itu, syariat Islam telah memberikan aturan terkait dengan penggunaan media
sosial, sehingga tidak mengantarkan pada kerusakan masyarakat ataupun perkara
halal tapi sangat dibenci oleh Allah SWT dan RasulNya yaitu perceraian, adalah
sebagai berikut :
Pertama,
Syariat telah menetapkan kebolehan penggunaan teknologi termasuk didalamnya
menggunakan aplikasi media sosial, entah itu Twitter, Facebook, Instagram atau
yang lainnya. Hukumnya adalah boleh.
Kedua,
Syariat telah mewajibkan pengguna media sosial dalam interaksinya didunia maya tidak
berdasarkan kebohongan, fitnah dan ghibah.
Ketiga,
Syariat telah menetapkan kewajiban pada pengguna media sosial agar tidak berkhalwat
dan berikhtilat. Yaitu melakukan aktivitas pribadi yang orang lain tidak bisa
masuk kedalamannya.
Keempat,
Syariat telah mewajibkan kepada pengguna media sosial agar tidak berinteraksi
dengan konten atau pembicaraan yang mengarah pada pornoaksi dan pornografi.
Kelima,
Syariat telah mengharamkan penggunaan media sosial untuk mempropagandakan hal-hal
yang bisa menyulut pada kerusakan masyarakat, semacam penggunaannya untuk
transaksi narkoba yang bisa berpotensi menghilangkan akal manusia. Atau propaganda
yang bisa berpotensi menghilangkan kehormatan dan nyawa manusia tanpa hak.
Keenam,
Syariat akan memberikan sanksi yang sangat berat, jika terjadi pelanggaran
hukum syariat oleh manusia sebagai pengguna media sosial, akibat dari kesalahan
penggunaan teknologi berupa aplikasi media sosial.
Dengan
seperangkat aturan ini, Syariat Islam telah menetapkan aturan penggunaan
teknologi berupa aplikasi media sosial, agar tidak terjadi pelanggaran hukum
syariat semisal perselingkuhan yang berpotensi mengantarkan pada kehancuran
tatanan masyarakat, antara lain perceraian.
Walaupun
perceraian ini diperbolehkan dalam Islam, namun sungguh ia adalah jalan terakhir
penyelesaian problem rumah tangga dalam ikatan pernikahan, yang sangat dibenci
oleh ALLAH swt dan RasulNya. Saking dibencinya, hingga dapat mengguncangkan Arsyi
Allah SWT, jika ada yang bercerai.
Maka
banyaklah berdoa kepada Allah SWT, ketika mengarungi bahtera rumah tangga dalam
ikatan pernikahan. Dengan doa kebaikan, supaya kehidupan rumah tangga diberikan
sakinah mawaddah warahmah. Karena sejatinya menikah adalah mencari kebahagiaan
bukan untuk menciptakan neraka baik di dunia maupun diakherat. wallahu
alam.[]

Penulis adalah Pendidik
dan Pemerhati Masalah Umat

Tinggal
di Kota Tangerang

Comment

Rekomendasi Berita