by

Azizah, S.PdI*: Good Looking, Proyek Radikalisme Dan Isu Khilafah

-Opini-20 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Suatu hari, setelah seharian berkeliling, Nasrudin Hoja pulang ke rumahnya. Saat istrinya membukakan pintu, ia segera masuk. Didapatinya ada sepotong keju di atas piring, di meja makan. Ia langsung menghampiri dan menyantapnya seraya berkata kepada istrinya, “Keju itu bagus untuk kesehatan perut.” istrinya tak berkomentar.

Esoknya, setelah seharian pergi, Nasrudin kembali pulang ke rumah. Ia berharap ada lagi keju di meja makan. Namun, ia tak menemukannya. Ia lalu menemui istrinya dan bertanya, “Kok tidak ada keju lagi?”
“Memang kenapa” jawab istrinya.
“Tidak apa-apa sih. Lagipula keju tidak bagus untuk kesehatan gigi.”, jawab Nasrudin.
“Jadi yang benar yang mana?, keju itu bagus untuk kesehatan perut atau tidak bagus untuk kesehatan gigi?”, tanya istrinya.
“Tergantung,” jawab nasrudin. “kejunya ada atau tidak…?.”

Lelucon ini bukan sekedar mengocok perut, namun juga membuat geleng-geleng kepala. Terlebih lagi jika dihubungkan dengan statemen beraroma politik kekinian yang sedang viral dari Menteri agama Fachrul Razi soal penyusupan radikalisme melalui orang-orang good looking dan hafidz Al-Qur’an (cnn Indonesia,09/09/2020).

Meski pernyataan ini telah melalui proses klarifikasi. Namun tetap hasilnya tidak ‘clear’. Faktanya banyak pihak yang terpukul dengan kalimat sensitif ‘radikalisme’ yang disematkan pada kaum muslim ‘perlente’ dan intelek yang getol mengamalkan keislamannya.

Sebagaimana kritik Ketua Komisi VIII Yandri Susanto yang mengaku belakangan ini mendapatkan banyak laporan dari pengasuh pondok pesantren dan ulama yang memprotes ucapan Fachrul tersebut.

“banyak sekali ulama yang menghubungi kami, pondok pesantren yang mencetak Al Quran termasuk Ponpes kami, termasuk keluarga saya banyak yang hafal Al Qur’an. Saya tersinggung sekali, Pak,” kata Yandri.

Namun sekali lagi, Fachrul bermain kata, mengklarifikasi pernyataannya. Seperti dilansir cnn Indonesia,09/09/2020 bahwa Fachrul meminta agar pemerintah memperhatikan masalah rekrutmen pendidikan lembaga lanjutan oleh pemerintah, dan saat ibadah ASN di kantor. Karena di hari kerja, para ASN beragama Islam pada umumnya menjalankan ibadah salat dan melaksanakan kultum di masjid kantor.

Fahrul lantas menyinggung cara kerja intelejen yang kerap memasukkan orang-orang berpenampilan menarik serta memiliki pengetahuan luas dalam melancarkan operasinya, serta membandingkan operasi intelejen tersebut dengan peristiwa penyusupan intelektual Belanda, Christian Snouck Hurgronje di Aceh.

Inkonsistensi, Kepentingan, dan Kekuasaaan

Menilik fenomena kontroversial di atas dapat disimpulkan dua hal penting. Pertama, jika dulu sebuah statemen elit politik cukup memiliki ‘konsistensi’ untuk tetap menjadi sebuah opini, meski harus menuai kritik dan dicaci maki disana sini. Sebutlah slogan “Islam Yes, Partai Islam No” atau “Islam Yes Politik Islam No”.

Meski kontroversi dengan pandangan politik Islam, namun pernyataan ini masih keukeuh dipertahankan bahkan masih terus dipegang oleh generasi penerus dari para pencetusnya.

Tetapi fenomena kali ini bertolak belakang. Orang jawa bilang, Isuk dele sore tempe. Jika hari ini berbicara A, maka besok atau lusa berbicara B. Barangkali bisa diserupakan dengan tingkah polah Nasrudin pada cuplikan kisah di atas.

Jika hari ini menyebut karakter seseorang atau sekelompok orang dengan julukan yang buruk, tapi dikemudian hari akan memuji keberadaan mereka. Hari ini berseberangan, dan menyudutkan, namun tak berselang lama berusaha untuk saling bergandengan tangan.

Kedua, bahwa sikap ini dilakukan semata-mata demi sebuah kepentingan. Rupanya adagium politik sekuler telah menginspirasi dengan terang-terangan, bahwa “Tidak ada kawan atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.”

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan inkonsistensi berkaitan erat dengan kepentingan. Jika keduanya berkolaborasi dengan kekuasaaan maka tak akan mampu memberi ruang kebebasan bagi keadaan manusia yang telah diperdaya olehnya, yang berpangkal pada kecintaan pada dunia untuk menentukan pilihan dalam kehidupan kecuali melakukan inkonsistensi dari apa yang telah disampaikan dan mengikuti kepentingan ‘tuan besar’. Dalam konteks perpolitikan dunia saat ini mengekor kepada siapa lagi kalau bukan kapitalis barat sekuler?

Menyoal Doktrin Radikalisme

Barat telah mencekoki umat muslim dengan doktrin-doktrin radikalisme yang kotor dan menyesatkan. Sebuah narasi tak berdasar yang secara bahasa diartikan sebagai paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; sikap ekstrim dalam aliran politik (kbbi.web.id).

Radikalisme isu lama yang kembali dipasang untuk menghiasi etalase panggung politik di negeri ini, yang dipoles dengan tampilan baru.

Tidak lagi menyasar mereka yang gemar bercelana cingkrang, berjilbab, berkerudung, bahkan bercadar tetapi justru dialamatkan kepada muslim elegan, yang berpakaian necis dan perlente, mahir bahasa arab dan hafidz qur’an. Aih….aih, para penyeru Islam macam begini ini dicap sebagai muslim yang terpapar radikalisme ?

Sungguh Ironi. Lalu kemana sesungguhnya peluru radikalisme ini hendak ditembakkan ?

Pertanyaan dari Peneliti Institut Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda (KITLV),Ward Berenschot yang dikutip Prof. Suteki dalam tulisannya dapat menjadi jawaban :

Dia (Berenschot,red) mempertanyakan defenisi radikalisme yang digunakan oleh pemerintah (Indonesia,red) karena defenisi radikalisme yang digunakan pemerintah itu identik dengan orang-orang yang berseberangan atau berbeda pendapat dengan pemerintah atau kepentingan pemerintah. Kemudian dilabeli dengan apa?

Anti Pancasila,” Karena itu, ketika orang itu dikatakan anti pancasila, ini sudah sulit sekali untuk berkelit. “Karena prinsipnya ’Aku Pancasila’ jadi siapa saja yang menentang ‘Aku’, maka dia itu melawan atau anti Pancasila”

Walhasil semakin gamblang bahwa jargon radikalisme sekedar diusung untuk tuduhan ngawur agar dapat menjadikannya alat gebuk bagi orang-orang yang berseberangan dengan pemerintah. Baik kelompok tertentu yang dianggap sebagai pengusung, ASN, termasuk para intelektual, dan akademisi kampus.

Proyek Radikalisme nyatanya bukan hanya di Indonesia, namun juga diagendakan negara lain seperti China, agar dapat menghapus identitas etno-religius Uighur. AS kampium kapitalis turut memainkan isu radikalisme, selain terorisme. Henry Kissinger, Asisten Presiden AS untuk urusan Keamanan Nasional 1969-1975 dalam sebuah wawancara November 2004, mengungkapkan pandangannya, dengan menyatakan, “…what we call terrorism in the United States, but which is really the uprising of radical Islam against the secular world, and against the democratic world, on behalf of reestablishing a sort of Calliphate. (…apa yang kita sebut sebagai terorisme di Amerika Serikat, tetapi sebenarnya adalah pemberontakan Islam radikal terhadap dunia sekuler, dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian semacam kekhilafahan).”

Bahkan statemen Dewan Keamanan Donald Trump menyatakan, kini Amerika Serikat sedang berperang dengan Terorisme radikal Islam, atau Islam radikal, atau sesuatu yang lebih luas lagi, seperti Islamisme. Di ranah global hal ini dikenal dengan Global War on Radicalism.

Maka wajar jika akhirnya jargon radikalisme yang multitafsir, kabur, tetapi cenderung berkonotasi negatif, terus menerus diarahkan kepada Islam. Label Islam radikal sengaja dilekatkan untuk menyebut pihak-pihak yang menentang sistem ideologi barat-demokrasi kapitalis sekuler- dan menghendaki tegaknya syariah Islam di muka bumi secara integral.

Dalam skala Indonesia pedoman dalam membuat narasi yang menyudutkan umat Islam dibentengi oleh orang nomor satu di negeri ini. Sebagaimana diucapkan dalam pidatonya saat sidang tahunan DPR-DPD, Jokowi menjadikan Indonesia berkomitmen melindungi kebebasan dan keberagamaan agama dari Radikalisme Islam (voaindonesia.com).

Sementara kehadiran pernyataan Menag tentang khilafah yang ambigu, “meski ajarannya tak dilarang dalam regulasi Indonesia, namun penyebaran fahamnya di tengah-tengah masyarakat lebih baik diwaspadai”, (cnn.indonesia, 2/9/2020) tak lebih dari sebuah statemen Islam phobia yang justru menjadi stimulus untuk terus ‘menggoreng’ isu radikalisme di Indonesia.

Maka demikianlah sikap para penguasa di negeri-negeri Muslim yag senantiasa mengikuti arahan negara-negara Barat untuk menghadang kebangkitan Islam melalui proyek Radikalisme.

Namun demikian isu radikalisme yang disemarakkan kembali ini sesungguhnya tidak lepas dari upaya mengalihkan persoalan kegagalan sistem kapitalis liberal dalam mengelola negeri ini sejak sebelum covid-19 melanda, hingga mengalami krisis multi dimensi seperti sekarang ini.

Oleh karenanya umat Islam harus bersatu dan bangkit melawan radikalisme dan stigmatisasi negatif terhadap Islam. Berbekal keyakinan bahwa Allah swt pasti akan memenangkan agama ini tidak lama lagi. Insyaallah. Wallahu a’lam bi ash shawwab. []

*Penyuluh Agama Islam dan Pegiat Literasi

Referensi :

https://m.detik.com/news/berita/d-5159619/mui-kecam-menag-soal-radikalisme-masuk-lewat-good-looking-hafiz

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200902181845-20-542100/menag-punya-pemikiran-khilafah-jangan-diterima-jadi-asn

https://www.tintasiyasi.com/2020/09/formulasi-delik-radikalisme-berpotensi.html

https://m.cnnindonesia.com/tag/fachrul-razi

Media Politik dan Dakwah Al wa’ie edisi Dzulhijah, Agustus 2019

Media Politik dan Dakwah Al wa’ie edisi Februari 2011

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + thirteen =

Rekomendasi Berita