Bencana, Banjir dan Pembangunan ala  Kapitalisme

Opini52 Views

 

Penulis: Nita Nuraeni, AM.d | Aktivis Muslimah

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Indonesia adalah negara kaya dengan sumber daya alam dan budaya yang beraneka ragam. Namun, di balik sumber melimpah tersebut, bencana banjir selalu menghantui di berbagai daerah.

Bencana alam bukanlah satu-satunya penyebab banjir. Pembangunan yang tidak terenca secara komprehensif dan mendalam juga dapat mengakibatkan banjir. Proses pembangunan banyak memotong lahan yang seharusnya menjadi resapan air malah beralih fungsi.

Dilansir dari cnnindonesia.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terjadi 4.940 bencana sepanjang 2023. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2022.

“Indonesia merupakan satu negara dari 35 negara di dunia yang potensi risiko bencananya paling tinggi, sehingga dikatakan kalau tadi di 2022, 3 ribu begitu ya memang ribuan terus, di 2023 BNPB mencatat lebih tinggi lagi 4.940 kali bencana,” kata Kepala BNPB Letjen Suharyanto dalam sebuah konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Jumat (12/1/2024).

Salah satu akar permasalahan yang sering terjadi adalah alih fungsi lahan yang tidak terencana. Banyaknya pembangunan gedung industri, jalan raya, pembangunan wilayah perkotaan sampai pusat perbelanjaan yang kurang terencana dan perhitungan dapat mengakibatkan berubahnya tata guna lahan itu sendiri.

Di samping itu, penebangan hutan dan pembangunan properti di area hutan atau perkebunan mengakibatkan aliran air yang tidak terkendali saat musim hujan yang akhirnya menyebabkan banjir.

Beberapa daerah di Indonesia yang menjadi destinasi pariwisata juga terkena dampak. Pembangunan untuk menarik wisatawan sepatutnys mempertimbangkan amdal dan dampak lingkungan secara menyeluruh.

Pembangunan kawasan pariwisata yang tidak memperhatikan tata kelola air dan lingkungan setempat dapat menyebabkan banjir. Tindakan semacam ini merugikan tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga industri pariwisata sendiri.

Hal ini terjadi akibat sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada manfaat dan meraih keuntungan tanpa mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan. Lahan-lahan resapan pun bisa dimiliki secara leluasa untuk dikelola para pengusaha dan pemilik modal.

Dalam sistem kapitalisme, dampak bencana banjir menjadi kompleks karena adanya tekanan untuk pertumbuhan cepat ekonomi. Pemikiran yang berorientasi pada keuntungan semata seringkali mengabaikan dampak lingkungan dan sosial.

Oleh karena itu, perlu kesadaran akan tantangan ini dan upaya untuk mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan agar dapat mengurangi risiko dan dampak bencana banjir.

Dalam Islam, pembangunan merupakan suatu konsep yang melibatkan upaya pemerintah dalam upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi kepentingan umat serta menjaga keseimbangan lingkungan.

Aprinsip dalam Islam memberikan arahan dengan jelas bagaimana seharusnya melakukan pembangunan tanpa merusak alam dan merugikan masyarakat sekitar.

Pembangunan dalam Islam bukan hanya sekadar peningkatan infrastruktur tetapi juga melibatkan aspek-aspek kemaslahatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Dengan menjalankan kebijakan berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya, serta melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan, diharapkan dapat tercipta kondisi harmonis, adil, dan berkelanjutan bagi umat manusia.

Inilah yang menjadi panduan utama pemimpin dalam islam untuk menjalankan tugas mewujudkan pembangunan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sehingga terhindar dari bencana. Wallahu ‘alam bisshawab.[]

Comment