by

Bendera LGBT Berkibar, Ulama Ditendang, Bukhori Yusuf : Jangan Lecehkan Negara Ini!

-Opini-25 views

 

Oleh: Puput Hariyani, S.Si, Pendidik Generasi

_________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Indonesia adalah sebuah negeri yang dikenal dengan julukan _Heaven of Earth. Selain kekayaan alam yang melimpah juga kekayaan sosial budaya yang beragam. Namun mirisnya, negeri yang memiliki penduduk muslim dengan jumlah yang sangat besar ini justru menjadi surga bagi kaum pelangi. Ya, keberadaan kaum LGBT mendapat signal kuat. Berbagai penghargaan dan kongres pernah diselenggarakan di negeri ini. Juga banyak kita jumpai berbagai akun atau komunitas di media sosial yang secara terang-terangan mengatasnamakan kaum LGBT.

Rasa jumawa mereka bertambah karena PBB melindungi dan mengakui hak-hak mereka dalam UN Declaration on Sexual Orientation and Gender Identity pada Desember 2008.

Terbaru adalah aksi pengibaran bendera LGBT di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Tentu saja hal ini mendapat protes keras dari Anggota Komisi VIII DPR Bukhori Yusuf.

“Mereka harus berhenti mempromosikan LGBT dan menunjukkan itikad baik untuk menghormati nilai dan norma yang berlaku di tengah masyarakat Indonesia,” tegas Bukhori melalui keterangan yang diterima jpnn.com Minggu (22/5).

Politikus PKS itu pun mendukung upaya pemerintah menegakkan kedaulatan negara ini dengan mengirimkan pesan yang tegas bahwa setiap perwakilan asing di Indonesia tidak diperkenankan secara provokatif mengkampanyekan nilai dan norma yang tidak sesuai dengan pandangan hidup warga di negara ini.

“Paham LGBT dapat diterima di barat, karena cara pandang negaranya yang liberal dan sekuler. Namun jangan lecehkan negara ini dengan memaksakan paham itu kepada masyarakat kita. Selain bertentangan dengan konstitusi, hal itu tidak sejalan dengan kaidah moral dan agama masyarakat Indonesia yang religius,” lanjutnya.

Di sisi lain, ketika kaum LGBT semakin mendapatkan ruang dan tempat di negeri muslim untuk terus berkembang, meskipun kita sama-sama tahu bahwa hal tersebut adalah sebuah kemungkaran akan tetapi kemaksiatan tersebut terus berjalan. Sebaliknya kita saksikan bentuk diskriminatif terhadap kasus penolakan UAS memasuki wilayah negara lain.

Pendukung Ustaz Abdul Somad (UAS) dari Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (Perisai) menyayangkan tuntutan mereka mengusir paksa Kedubes Singapura yang tidak direspon.

Koordinator Lapangan Aksi, Muhammad Senanatha menyebut penolakan UAS merupakan bentuk diskriminasi bagi warga Indonesia. Dia mengatakan tidak dikabulkannya tuntutan Perisai bakal memicu munculnya aksi dari kelompok lain pendukung UAS (detikNews.com).

Dari fakta pengibaran bendera LGBT oleh negara asing dan penolakan terhadap UAS sangat kentara bagaimana beda penyikapan di antara keduanya. Lembek terhadap pengibaran bendera pelangi sehingga mereka bebas melenggang dan keras ketika ulama ditendang. Terbukti, sikap meradang belum kita temuin di berbagai kalangan. Hanya segelintir saja yang berani berpendapat melakukan protes keras.

Padahal jelas-jelas realitas ini mencoreng, melukai dan bentuk pelecehan terhadap negeri muslim. Sudah sepatutnya pemerintah mengevaluasi beragam kebijakannya agar kewibawaan di mata asing menguat. Agar asing tidak semena-mena, menginjak-injak dan melecehkan negeri ini.

Jika keberadaan kaum muslimin ini ternyata belum mampu juga membuat mereka (asing) segan dan berfikir dua kali ketika hendak merendahkannya berarti ada penyebab yang menjadikan kondisi ini langgeng.

Nah, apa penyebabnya? Sejauh pengamatan penulis, hal ini bisa jadi karena pemerintah sendiri belum menampakkan sikap tegas untuk menentang LGBT dan belum menunjukkan penghormatan yang totalitas terhadap ulama. Sehingga asing semakin hari semakin berani menampakkan kearogansinya.

Ketidaktegasan ini tentu bukan perkara aneh di alam liberalisasi. Asas sekulerisme yang menjadi tumbuh kembang paham Kebebasan memang mempersilakan segala bentuk aktualisasi diri tanpa batas. Termasuk untuk menyalurkan hasrat seksualnya dengan semasa jenis. Kebebasan sangat diagungkan dan seringkali kebenaran dibungkam.

Begitupun dengan massifnya dukungan dan pembiaran terhadap LGBT ini semakin membuka kran penyebaran ide rusak secara liar. Padahal sejatinya LGBT bertentangan dengan syariat Islam dan mengancam keberlangsungan peradaban.

Siapkah kita menerima adzab Allah SWT jika prilaku menyimpang ini kita biarkan sebagaimana dahulu Allah timpakan kepada kaum Nabi Luth as? Relakah kita menyaksikan umat, saudara, dan anak-anak kita mengidap penyakit menjijikkan dan mematikan HIV/AIDS? Siapa yang akan menjadi calon pemimpin masa depan jika loss generation karena tidak akan adanya kelahiran?

Oleh karenanya, tidak ada jalan lain untuk melakukan perlawanan terhadap kaum LGBT kecuali dengan membuang sekulerisme berikut ide turunannya yang selama ini menjadi ladang subur tumbuh kembang LGBT dan mengembalikan pengaturan kepada Dzat pemilik alam semesta yang memegang jiwa seluruh hamba.

Artinya, kembali kepada syari’at Islam adalah sebuah keniscayaan untuk mengembalikan terjaganya fitrah kemanusiaan. Dan dengan sistem Islam ulama akan berada pada posisinya yang mulia sebagai warisatun anbiya yang akan menjadikan aktivitas dakwah amar makruf nahi munkar terus meluas membuka kebekuan dan kemujudan umat dengan cahaya Islam. Wallahu alam bi ash-showab.[]

Comment