by

Bukti Kemenangan Hakiki

-Opini-18 views

 

 

 

Oleh : Sahara, Aktivis Dakwah Beringin

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Kenikmatan bulan penuh berkah sudah usai, ada banyak tipe sikap manusia ketika mereka sudah sampai di penghujung bulan Ramadhan.

Ada yang bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa apa, ada yang bersedih hati takut tak lagi berjumpa dengan Ramadhan selanjutnya dan ada pula yang bergembira ria.

Namun pertanyaan yang harus digaris bawahi terutama bagi diri sendiri adalah sudah sampai di mana tingkat keimanan dan ketakwaan diri ?

Apakah dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan ini, berakhir pula semangat beribadah, mendekatkan diri pada ilahi rabbi? Apakah ini bukti kemenangan yang hakiki, setelah sebulan penuh berjuang menahan segala sesuatu yang dapat mengurangi nilai pahala atau bahkan membatalkan ibadah puasa.

Tentu seorang pemenang, dialah yang memiliki keunggulan dari manusia yang lain dengan kuantitas dan kualitas ibadah yang kokoh dan terjaga. Sebab ia memahami bahwa statusnya adalah seorang hamba yang lemah dan penuh kekhilafan. Ia sadar bahwa Allah memang menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada Nya.

Maka wajib baginya yang mengaku beraqidah Islam, mengakui Allah sebagi Tuhan dan Rosulullah Muhammad SAW sebagai suri tauladan, melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208).

Bukan malah sebaliknya, yang dilarang dikerjakan  dan yang diperintahkan justru ditinggalkan. Membuat seolah – olah hukum syariat Islam bak hidangan prasmanan, makanan yang disuka diambil, yang tak suka ditinggalkan begitu saja.

Dengan kata lain tak ada usaha untuk menjadi hamba yang jauh lebih baik lagi, apakah sikap pesimis bahkan apatis menjadi karakteristik seorang Pemenang? Atau apakah ia termasuk golongan orang yang beriman?

Berpikir bahwa ibadah kepada Allah hanya berputar pada sholat, puasa, zakat dan haji. Atau bahkan kerapkali kita hanya menjalani perintah Allah yang mudah saja dan terkadang kita tidak mengutamakan ibadah sebagai prioritas hidup. Dilakukan jika memang sempat saja.

Padahal ada banyak aturan Allah yang kita tinggalkan, mulai aturan dari segi kesehatan, ekonomi,muamalat, pendidikan, hingga ranah perpolitikan.

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 65)

Lantas butuh berapa kali Ramadhan agar kita menyadari esensi kita sebagai makhluk yang telah Allah ciptakan? Butuh berapa kali Ramadhan agar kita bisa membuktikan bahwa kita telah meraih kemenangan?

Sudah saatnya kita bangun dari lelapnya dunia kapitalis yang serba hedonis ini. Menerapkan hukum Allah secara total. Tak kan ada insan manusia yang hidupnya berfoya foya, mati masuk surga.

Kecuali dia telah bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh – sungguh. Jangan sampai nafas sudah diujung tenggorokan dan kita masih terjerat dalam dunia yang fana ini. Wallahu A’lam bishowab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + 8 =

Rekomendasi Berita