Bulan Tidak Sebenar-Benarnya Tenggelam, Tentang Hati yang Kerap Merasa Lelah

Motivasi157 Views

 

 

Penulis:  RAI Adiatmadja |Penulis Buku Luka yang Romantis

______________

 

RADARI DONESIANEWS.COM, JAKARTA– Syahdunya malam akan semakin terasa semarak dengan kehadiran bulan yang menjadi representasi keindahan. Namun, mungkin ada beberapa yang tidak tahu, jika bulan tidak memiliki cahaya sendiri. Sejatinya bulan menerima pantulan cahaya dari matahari. Ia tak selamanya hadir, seperti halnya ia yang tak benar-benar tenggelam.

Sungguh, bulan tidak sebenar-benarnya tenggelam. Sebuah filosofi kehidupan yang mampu membuat kita belajar banyak. Bahwa di dunia ini tak ada yang abadi dalam tugas dan perannya. Sesekali tenggelam, acap kali dirundung kelam, diajak belajar menatap suram ataupun buram. Semata-mata agar memahami hakikat hidup secara mendalam.

Sama seperti halnya yang terjadi kepada diri kita. Raga dan jiwa tak selamanya prima, adakalanya kelelahan batin menerpa. Merasa sendirian dan ditinggalkan.

Kata siapa kita ditinggalkan sendirian? Sungguh itu tidak benar, Allah selalu menemani dan menguatkan. Memapah kita dengan berbagai pelajaran. Ujian yang kini lebih besar dan bermuara di pundak, bukanlah untuk menghancurkan, tetapi mengokohkan. Mungkin cara yang dilalui harus lelah dan jatuh berkali-kali hingga bangun dan belajar terus tegak berdiri.

Kata siapa tak boleh menangis? Jika sesak dan terasa berat, bukankah manusiawi jika mata menjadi gerimis? Yakin saja akan pertolongan Allah yang tak pernah salah. Berupaya dan berdoa adalah hakikat bertawakal, ujian itu tak ada yang kekal. Berbahagialah karena rasa syukur yang masih berlimpah.

Indikasi hati harus segera “diisi” adalah ketika hadirnya lelah dan sepi. Merasa sendiri di keramaian, merasa sedih tak terperikan. Padahal sejatinya hidup kita tak pernah ditinggalkan meskipun raga tanpa teman. Maka, mari menjadi orang yang tidak kesepian senantiasa merasa ditemani oleh-Nya meskipun sendirian.

Tak berlama-lama memelihara kesedihan, segera menyeka air mata kedukaan, cukup dengan syukur yang selalu ditinggikan. Tentang kelelahan yang terjadi saat ini, itu semua akan menjadi kenangan baik untuk esok hari. Anggap saja kesedihan dan kelelahan itu bagian dari musibah yang akan membentuk rasa berserah.

Seperti termaktub di hadis sahih ini:
Telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Abi Abbas, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Uwais, dia berkata, Az-Zuhri berkata, telah menceritakan kepadaku Urwah, dari Aisyah berkata,

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah musibah yang menimpa seorang muslim melainkan hal itu menjadi penghapus dosa baginya hingga duri yang menusuknya sekalipun.” (HR. Ahmad No.23684, sanad sahih menurut Syu’aib al-Arna’uth)

Bukanlah bulan jika sesekali tak tenggelam, Allah sudah mengatur jadwalnya untuk hadir di langit malam. Bukanlah manusia jika tak pernah lelah dan mengharap ujian segera “sudah”. Semua Allah gariskan agar makhluk memiliki ketundukan kepada Dia yang Maha Sempurna.

Ketika kelelahan menerpa, sejatinya Allah mengundang kita untuk terus mendekat dengan erat. Perkara dunia dan segala isinya tentulah membuat energi kita cepat habis bahkan membuat keimanan terus menipis.

Cinta yang tidak terbalas, cita-cita yang tidak tercapai, kenyataan yang tak sesuai keinginan, kesulitan yang semakin banyak, kemiskinan yang mengguncang, dan lain sebagainya. Semua mampu mengaduk-aduk jiwa dan raga hingga di titik kelelahan yang sempurna. Maka, berhati-hatilah karena setan akan menyeret kita pada lubang nestapa yang bernama putus asa.

Semua rasa yang tak mengenakkan sebenarnya adalah jembatan untuk menghapus dosa-dosa masa lalu. Kelelahan itu adalah momen yang tepat untuk bermuhasabah, menghitung-hitung kesalahan, meraba sebanyak apa dosa yang masih belum ditobati. Itulah kondisi yang Allah sukai, di saat hamba mendekat dengan segala kesungguhan memohon pertolongan.

Bulan tidak sebenar-benarnya tenggelam, semua adalah pelajaran yang bisa kita maknai dengan sepenuh rasa tenteram. Saat diri merasa terbenam, itulah waktu yang tepat untuk memperbarui iman, rasa jenuh dan sakit dalam kelelahan, jika diterima dengan hati yang lapang, akan sanggup menghapus dosa seperti pohon di musim gugur, daun-daun itu akan jatuh dengan rela.

Terima kelelahan yang ada, bukalah surat cinta dari-Nya. Ada berjuta hikmah yang mampu mengusir segala lemah. Mari merayakan lelah dalam hamparan sajadah dan hati yang sadrah. Wallahualam bissawab.[]

Comment