Bumi Syam, Bumi Ribath dan Jihad

Opini79 Views

 

 

Penulis: Syamsam, S.S.,M.Si | Alumni Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Bumi Syam merupakan bumi yang diberkati. Keberkahan dan kesuciannya diabadikan dalam Kitab Suci Al Quran. Dahulu disebut sebagai Bumi Syam yang kemudian kini terpecah-pecah menjadi beberapa wilayah yakni Palestina, Libanon, Yordania dan Suriah.

Wilayahnya menjadi permata dalam sejarah ummat Islam. Sehingga Para sahabat Nabipun berlomba-lomba ingin tinggal di wilayah yang penuh keberkahan dan kemuliaan tersebut.

Dalam surah Al Israh ayat 1: “:Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”.

Maka pantas jika ingatan kaum muslimin di seluruh dunia tidak akan pernah terlepas dari wilayah Syam. Termasuk Palestina saat ini, menjadi kiblat pertama kaum muslimin sebelum dialihkan ke kiblat kedua yaitu Ka’bah pada 16 bulan setelah hijrahnya Rasululllah SAW di Madinah.

Palestina dijuluki sebagai Negeri Anbiya atau Negeri Para Nabi karena banyaknya Nabi yang diutus di sana. Mulai dari Nabi Ibrahim AS yang hijrah ke Syam, Nabi Ismail AS , Nabi Ishaq AS, Nabi Ya’Qub AS, Nabi Musa AS, Nabi Luth AS, Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Isa AS serta nabi-nabi lainnya termasuk Nabi Muhammad SAW dengan tanda-tanda kenabiannya saat melakukan perjalan Isra Mi’raj.

Beliau berkunjung ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqhsa dan beliau juga pernah berdoa agar bumi Syam dan penduduknya diberikan keberkahan serta dihindarkan dari keburukan dan musibah.

Hal itulah yang telah mengikat hati kaum muslimin terhadap bumi Syam khususnya Palestina. Tidak mengherankan jika dalam sejarah peradaban Islam, Rasulullah SAW dan generasi-generasi setelahnya menaruh perhatian dan kepedulian terhadap wilayah tersebut.

Perang Mu’Tah dan Perang Tabuk menjadi upaya awal pembebasannya pada masa Rasulullah. Sepeninggal beliau, dilanjutkan oleh Abu Bakar dengan mengirim pasukan yang dipimpin Utsamah bin Zaid.

Setelah itu, dalam kepemimpinan Umar Bin Khattab berhasil membebaskan baitul Maqdis pada tahun 16 Hijriah atau 637 Masehi. Wilayah Palestina diserahkan langsung oleh Shopronius kepada Khalifah Umar bin Khattab dan membuat perjanjian yang disebut sebagai “Perjanjian Umariyah”, salah satu isinya adalah permintaan orang-orang Nasrani agar tidak diperbolehkan satupun orang Yahudi bermukim dan tinggal di Palestina.

Dengan Izin Allah SWT, dalam kepemimpinan Islam dengan kaum Muslimin minoritas memimpin dengan adil, hingga keberkahan dan kedamaian tumbuh subur di tengah-tengah penduduknya. Melalui pembebasannya menjadi kunci utama pembebasan wilayah sekitarnya seperti Mesir.

Namun kini, setelah runtuhnya kepemimpinan Islam (Khilafah Utsmaniyah) pada tahun 1924. Bumi Syam menjadi wilayah perebutan dan diinvasi hingga dihancurkan oleh para agresor. Kesuburannya kini berganti kerusakan dan kehancuran. Keadilan dan kedamaian berubah menjadi kezaliman.

Tanah Palestina dan penduduknya sedang mengalami kebiadaban luar biasa dan kezaliman di luar batas kemanusiaan oleh rezim zionis Israel. Hingga 100 tahun sudah berlalu, dengan kemelut penindasan dan genosida penduduk Palestina tetap terus bertahan dengan keyakinan iman dalam diri mereka.

Maka pantas saja, Rasulullah SAW pernah bersabda “Sesungguhnya kalian akan menjadi pasukan-pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Iraq dan satu pasukan di Yaman.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, pilih kan untukku!” Rasulullah menjawab, “Pilihlah Syam, dan barang siapa yang enggan maka hendaklah ia bergabung dengan Yaman dan meminum dari kolam-kolam air Yaman. Sesungguhnya Allah telah menaungi Syam dan penduduknya.” (HR. Sahih Ibnu Hibban no. 7306).

Penduduk dan orang-orang yang tinggal di Bumi Syam merupakan orang-orang pilihan Allah yang juga memiliki keutamaan dan kemuliaan disisiNya.

Oleh karena itu, jika melihat, memahami dan merasakan segala huru hara dan fitnah yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin hingga negeri Para Nabi hari ini terus terjadi. Walau sering kita menanyakan kapan prahara dahsyat ini akan berakhir?

Sebenarnya, sejarah telah mengajari kita bahwa terbebasnya Palestina melalui tangan kaum muslimin karena adanya persatuan yang kuat lagi kokoh dilandasi ideologi yang sama yakni ideologi Islam serta kepemimpinan yang satu yakni kepemimpinan Islam internasional.

Dengan persatuan dan kekuatan tersebut sehingga mampu menggetarkan dan mengalahkan musuh Allah, para zionis Irael dan sekutunya sebagaimana yang Allah janjikan atas kemenangan kaum Muslimin.

Maka, benarlah bahwa bumi Syam menjadi bumi ribath dan jihad. Sebagai cerminan keimanan dan ladang perjuangan dalam meraih kemuliaan di sisi Allah SWT, yang akan terbebaskan kembali melalui jihad fisabilillah dalam persatuan kaum muslim dunia.[]

Comment