Debat Nasab Ba’alawy Di Kawasan Kesultanan Banten: Aksi Dan Apresiasi

Opini451 Views

 

Penulis: KH.Tb.Abdurrahman Anwar Al Bantany | Ketua Mahkamah Front DPP Front Persaudaraan Islam

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Debat Nasab Ba’alawy dilaksanakan pada hari Ahad 27 Agustus 2023 M / 10 Shofar 1445 H, bertempat di kawasan Kesultanan Banten.

Perdebatan Nasab Ba’alawy tersebut dapat terlaksana dari inisiasi _Dzurriyat_ Kesultanan Banten sebagai _fasilitator_ dari mulai Tanggal 25, 26 dan puncaknya 27 Agustus 2023.

Debat tersebut berawal dari adanya tesis karya KH.Imaduddin Utsman yang berjudul _Al Mawahibulladuniyah_ dan _I’anatul Akhyar_.

Awalnya acara tersebut debat bedah Nasab Ba’alawy antara penantang KH.Imaduddin Utsman yang siap berdebat tiga hari tiga malam sebagai aksi atau subjek tetapi sangat disayangkan tidak hadir dan digantikan oleh yang mewakilinya dan lawannya KH.Ahmad Qurtubi Zaelani, Al Habib Muhammad Hanif Al Athos sebagai apresiasi atau objek.

Kami ikut menghadiri dan menyaksikan dari awal sampai akhir bersama para Kyai dan Tokoh lainnya.

Tulisan ini hanya akan mengulas dari pokok-pokok hasil debat tersebut, dan tidak akan mengulas ceremonial perdebatan tersebut karena akan terlalu panjang tulisan ini.

Pokok-pokok mendasar hasil perdebatan tersebut meliputi antara lain sebagai berikut:

_1. Dalam debat tersebut sangat tidak seimbang antara pihak perwakilan Kyai Imaduddin sebagai penantang sangat terlihat menunjukan ketidak mampuannya dan KH.Ahmad Qurtubi dan Habib Hanif Al Athos sebagai pihak yang di tantang sangat over kapasitas dalam kemampuan._

_2. Perwakilan KH.Imaduddin secara subtansial tidak menguasai pokok-pokok masalah sedangkan pihak KH Ahmad Qurtubi dan Habib Hanif Al Athos sangat menguasai masalah yang diperdebatkan._

_3. KH.Ahmad Qurtubi dan Habib Hanif Al Athos menjadi Matahari dan Bintangnya debat saat itu, dan pihak penantang seperti lilin yang redup._

_4. Al Habib Hanif Al Athos memaparkan keterangan dan argumen yang sangat cemerlang, sistematis, detail, dan ilmiyah berdasarkan sumber primer yang otentik dan referensi yang otoritatif, sedangkan dari pihak perwakilan cenderung imferrior compleks serta rapuh dalam berargumentasi dan menjelaskan tesisnya._

_5. KH. Buya Ahmad Qurtubi mencerminkan seorang yang alim dan fakih dalam bermujadalah serta bermunazhoroh kedua tesis karya KH. Imaduddin yang berjudul Al Mawahibul laduniyah dan I’anatul Akhyar, dinilai dan ditimbang dengan nilai yang objektif, akurat dan syar’i sesuai dengan metodologi ilmiyah._

_Kedua karya dari KH.Imaduddin tersebut dievaluasi, dikoreksi, dikuliti dan ditelanjangi sesuai dengan akar permalahan pembahasan, baik dari segi nahwiyah dan shorfiyah, bade’, bayan, ma’ani dan berbagi fan ilmu lainnya._

_Hasilnya kedua tesis tersebut ditemukan ada 102 kesalahan yang bersifat ringan, sedang dan fatal (berat)._

Akhir dari perdebatan tersebut KH. Ahmad Qurtubi sebagai sesama muslim memberikan nasehat kepada KH Imaduddin agar segera kembali ke jalan para Salafus Sholeh sekaligus segera bertaubat.

Demikian ulasan singkat hasil perdebatan bedah Nasab Ba’alawy tersebut.[]

Comment