Degradasi Moral Pelajar, Potret Buram Generasi 

Opini142 Views

 

Penulis : Kaisa Qomaru Zayyan | Mahasantriwati Ma’had Pengkaderan Para Da’i Cinta Quran Center

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sebuah kasus begitu menyayat hati terjadi pada 05/02/24 lalu di Kabupaten Penajem Pasir Utara, Kalimantan Timur, terkait dengan seorang remaja yang masih berusia kurang lebih 17 tahun diduga melakukan aksi pembunuhan terhadap satu keluarga ayah, ibu dan ketiga anaknya.

Dikatakan bahwa keluarga yang dibunuh adalah keluarga dari mantan pacar sang pelaku. Berdasarkan dari beberapa sumber dikatakan sang pelaku sebelumnya meminum minuman keras bersama dengan teman-temannya. Kemudian pada jam 23.30 pelaku melancarkan serangannya.

Pelaku mengeksekusi satu persatu anggota keluarga tersebut dengan parang. Alasan pelaku melakukan tindakan tersebut dilatari persoalan asmara dan dendam pelaku terhadap korban. Faktor lain dikatakan bahwa pelaku menyukai hal-hal berbau anime dan suka menonton film anime bergenre dewasa yang mengandung unsur pornografi.

Hal yang lebih menyayat hati, tidak merasa cukup melakukan pembunuhan terhadap 5 anggota keluarga tersebut, sang pelaku pun terbukti melakukan pemerkosaan terhadap ibu dari sang mantan dan mantannya sendiri yang masih berusia kurang lebih 14 tahun. Sadis dan miris!

Kasus ini merupakan fakta yang telah terjadi untuk kesekian kalinya yang senantiasa memenuhi linimasa berita media hari ini. Degradasi moral pelajar saat ini semakin mengalami kemerosotan mendalam. Padahal bila melirik kepada peran pelajar yang menjadi harapan besar sebagai penerus generasi suatu bangsa memiliki posisi krusial. Namun fakta yang terjadi, hari ini justru menggambarkan potret buram generasi dan sebuah krisis masa depan bangsa.

Seorang pelajar yang seharusnya menjunjung tinggi ilmu dan adab- mampu menerapkan apa yang didapatk di bangku sekolah. Sebagai sarana pendidikan generasi, sekolah seharusnya mampu melahirkan pelajar, bukan hanya berpendidikan namun juga terdidik. Bukan hanya intelektual dengan gelar namun juga memiliki jejak integritas Islami di dalam dirinya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As-Syafi’i bahwa hakikat seorang pemuda yaitu ilmu dan taqwa. Bila tidak ada keduanya di dalam diri seorang pemuda maka bacakan takbir untuknya sebanyak empat kali atas kematiannya.

Amal tanpa ilmu adalah sebuah kesia-siaan namun lebih sia-siaan ketika seseorang berilmu tapi tak mampu menghantarkannya kepada ketaatan kepada Allah swt.

Dinukil dari website www.iwanjanuar.com bahwa fakta ini terjadi terus menerus. Terjadinya pengulangan berbagai kasus kriminalitas saat ini bukan hanya disebabkan faktor individu pelajar tapi juga beberapa faktor utama lain. Salah satunya yaitu minimnya pengawasan keluarga terhadap anak-anak.

Keluarga menjadi salah satu faktor terpenting dalam upaya pembentukkan kepribadian seorang anak. “Karena sebuah keluarga adalah titik awal sebuah peradaban dapat dibangun. Keluarga adalah the first and the best school for children”.

Dikutip dari perkataan Ustadz Iwan Januar dalam artikelnya yang berjudul “Penghancuran Keluarga Muslim”, keluarga seharusnya mampu melahirkan benih-benih awal peradaban tangguh.

Bukan hanya faktor keluarga tapi juga minimnya peran negara menjaga dan membentuk masyarakat secara keseluruhan. Kurangnya peran negara dalam hal ini mengakibatkan pelajar jauh dari keluhuran moral dan minimnya kemampuan berpikir secara mendalam atas setiap perbuatan dan tindakan yang dilakukannya.

Remaja cenderung berpikir pendek dan  parsial tanpa mampu memiliki pemikiran yang dinamis dan cemerlang.

Degradasi moral para pelajar hari ini menjadi gambaran gagalnya pendidikan dalam kaitan membentuk para pembelajar yang memiliki moralitas atau akhlak yang mulia dalam kehidupannya.

Dalam pendidikan Islam sudah menjadi suatu keharusan membentuk setiap para pelajar agar mampu menjadi orang-orang yang memiliki kepribadian Islam. Tolak ukur perbuatan dan pemikirannya itu semata didasari oleh Islam. Bukan selainnya.

Tidak hanya sekedar memenuhi dan menuruti keinginan hawa nafsu tanpa memandang baik-buruk suatu perbuatan yang telah digariskan oleh Islam. Pendidikan unggul tidak akan mampu terwujud tanpa penerapan sebuah sistem yang baik dari sebuah negara.

Pendidikan yang unggul tidak akan terwujud tanpa menerapkan Islam. Hanya Islam yang memiliki konsep unik dari segi pemikiran dan penerapan yang tidak dimiliki oleh selain Islam.

Maka apabila kita bercermin melalui kacamata seorang muslim, degradasi moral yang menimpa generasi muda hari ini disebabkan oleh dijauhkannya kehidupan manusia dari agamanya.

Sekularisasi agama yang terjadi hari ini berhasil membuat kehidupan manusia bukan semakin baik justru menjadikannya semakin kacau. Ditambah dengan penghembusan paham liberalisme yang melahirkan pelajar terutama kalangan pemuda tidak memiliki standar perbuatan yang jelas sesuai syara’ –  sehingga mengakibatkan para pemuda bebas berprilaku tanpa memikirkan akan adanya hari penghisaban di hari akhir nanti.

Maka menjadi suatu kewajaran apabila para pelajar yang kian hari semakin rusak dari segi moralitas dan pemahaman mereka. Semakin bengis lagi tak berperikemanusiaan.

Maka dari itu langkah yang harus dilakukan bagi seorang pelajar yang di tampuknya terdapat tanggung jawab peradaban di masa mendatang – tidak boleh tinggal diam apalagi abai terhadap berbagai krisis moral generasi saat ini. Setiap pelajar harus senantiasa aktif speak up terhadap segala kerusakan yang terjadi di tengah kehidupan mereka.

Melakukan perubahan secara perlahan kepada tujuan yang besar. Terjadinya degradasi moral pelajar dan generasi hari ini tidak cukup hanya melalui pergerakan para pelajar yang menyuarakan perubahan fundamental tapi dibutuhkan banyak peran di dalamnya untuk mampu mewujudkan dan menyelamatkan kemerosotan generasi muda hari ini.

Satu-satunya solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi hari ini tidak lain ialah dengan penerapan aturan-aturan Islam di berbagai aspek kehidupan. Sebab keberhasilan Islam menjadi pion terdepan untuk menjadi cakrawala penerang dunia telah terbukti dan tercatat dalam sejarah kurang lebih selama 13 abad lamanya.

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Maidah :50).[]

Comment