by

Desi Ulvia*: Islam Dan Roh Kebudayaan Aceh

Desi Ulvia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Aceh adalah sebuah daerah yang terletak di ujung barat Indonesia. Aceh memiliki berbagai suku, bahasa dan ras, selain itu Aceh juga memiliki beragam kebudayaan yang sangat menarik, kebudayaan Aceh meliputi; seni, sastra, tradisi dan lain sebagiannya. Selain kaya akan budaya Aceh juga terkenal sebagai daerah yang masyarakat nya mayoritas beragama Islam, budaya Aceh juga tidak pernah lepas dari nilai-nilai islam. 
Islam adalah agama rahmatanlil’alamin (rahmat bagi seluruh Alam) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Melalui perantaan seorang malaikat yang bernama Jibril kemudian disampaikan kepada seluruh umat. Adapun inti dari ajaran islam yaitu mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan juga beribadah kepada Allah Swt. Pedomannya adalah Al-quran dan Al-sunnah. Islam adalah agama yang sangat mencintai keindahan, kedamaian dan juga agama yang sempurna.
Roh kebudayaan adalah suatu hal yang paling dasar yang berada dalam kebudayaan dan disebut juga dengan nilai-nilai kebudayaan. Kebudayaan adalah sistem idea atau gagasan yang abstrak, berupa pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki oleh suatu masyarakat melalui proses belajar, yang dijadikan kiblat perilaku dalam sistem sosialnya. Sistem ide tidak lain dari pada hasil pikiran dan rasa yang biasanya disebut sistem budaya (cultural system). Inti dari kebudayaan adalah sistem nilai budaya yang di dukung oleh sistem, aturan dan hukum. Sistem nilai itu terdiri dari unsur-unsur; nilai pengetahuan, nilai religi, nilai sosial, nilai ekonomi dan nilai seni. Keseluruhan nilai itu menjadi pedoman tertinggi bagi pelaku. 
Kebudayaan Aceh adalah suatu gagasan dan karya dari masyarakat Aceh sendiri. Kebudaan Aceh senantiasa di selimuti oleh nilai-nilai Islam yang kental, namun seiring perkembangan zaman budaya Aceh mengalami pergeseran-pergeseran dalam budaya yang menyebabkan penyimpangan budaya dan menjauh dari nilai-nilai islam. Hal ini menjadi permasalahan yang perlu di tegaskan kepada masyrakat, supaya lebih peka dan lebih mencintai budaya pribumi. Pergeseran budaya terjadi karena perkembangan zaman dan terbukanya suatu bangsa (daerah).
Kendati demikian sebagai pemilik budaya kita tidak dapat membendung adanya penetrasi-penetrasi budaya. Penetrasi budaya adalah masuknya budaya luar dan bercampur dengan budaya asli sehingga menghasilkan budaya yang baru atau yang berbeda dari biasa nya. Hal inilah yang menyebabkan hilang nya roh kebudayaan itu sendiri. Roh kebudayaan masyarakat Aceh sejatinya adalah nilai-nilai keislaman, dimana seluruh kebudayaan yang ada di dalam masyarakat Aceh adalah menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan tujuannya untuk beribadah kepada Allah Swt. Oleh karenanya sebagai pemilik budaya marilah sama-sama kita menjaga dan melestarikan budaya-budaya yang ada supaya tetap terjaga keasliaannya.
Batas-batas wilayah suatu bangsa terlihat jelas dengan adanya patokan ataupun batasan yang telah di tentukan oleh hukum secara sah, namun secara budaya sesungguhnya kita tidak memiliki batasan dan tentu saja kita tidak dapat membendung perkembangan zaman. Oleh karenanya sudah menjadi kewajiban kita sebagai masyarakat pribumi untuk saling mengingatkan dan menjaga antara satu dengan yang lain. Supaya budaya yang sesungguhnya dapat dirasakan keasliannya oleh generasi yang akan datang.[]
*Penulis adalah anggota HMI cabang Banda Aceh

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − four =

Rekomendasi Berita