by

Djumriah Lina Johan*: Ide Khilafah Dikriminalisasi, Fajar Kemenangan Semakin Dekat?

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah ala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan adhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” – HR. Ahmad; Shahih –
Baru-baru ini tepatnya pada Rabu (8/5/2019) berdasarkan pemberitaan medcom.id Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu meminta masyarakat tak terpengaruh paham khilafah. Paham itu telah masuk ke ranah pendidikan.
“Ancaman khilafah ini sudah terang-terangan ingin mengganti ideologi Pancasila. Ini datang untuk merusak, sudah berjalan di sekolah dan universitas,” kata Ryamizard di gedung A.H Nasution Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Mei 2019.
Berdasarkan apa yang beliau sampaikan, ide Khilafah seakan-akan ancaman bagi negeri bahkan dalam pemberitaan tribunnews.com pada Kamis (9/5/2019) beliau mengatakan bahwa ide Khilafah ini harus dicegah jika tidak bangsa ini akan bubar.
Lantas benarkah Khilafah adalah ancaman bagi negeri ini? Dan berpotensi untuk membubarkan bangsa ini?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan penelaahan terlebih dahulu mulai dari istilah Khilafah itu sendiri, dalil-dalil penunjukkannya, hingga sejarah-sejarah yang mampu membuktikan eksistensinya.
Pertama, dari segi definisi. Istilah Khilafah dalam khazanah Islam bukanlah istilah asing. Sebab, Khilafah adalah ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Syeikh Taqiyuddin An Nabhani menjelaskan makna syar’i Khilafah yang digali dari nash-nash syar’i, Khilafah adalah suatu kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Dalam kitab fikih yang cukup sederhana namun sangat terkenal, berjudul Fiqih Islam karya Sulaiman Rasyid, dicantumkan juga bab tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Bab tentang Khilafah juga pernah menjadi salah satu materi di buku-buku Madrasah Aliyah pada kurikulum tahun 1994 di Bumi Pertiwi ini.
Kedua, dari segi dalil. Sesuai dengan hadits yang penulis paparkan diawal, Nabi saw bersabda, “Akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah.” (HR. Ahmad)
Di dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda, “Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi (Bani Israil) wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak.” (HR Muslim)
Ketiga, dari segi sejarah. Setelah melihat dari segi dalil di atas, telah jelas bahwa sistem khilafah adalah ajaran Islam yang bersumber dari al qur’an dan as sunnah. Sehingga untuk melihat sejarah akan eksistensi khilafah amat sangat mudah. Ada banyak sekali buku ulama terdahulu yang menuliskan sejarah-sejarah tersebut agar dapat dipelajari dan diamalkan dikemudian hari. Sebut saja kitab Sistem Pemerintahan Khilafah Islam karya Imam al Mawardi. Kitab yang memiliki judul asli Al Ahkam As Sulthaniyah ini diyakini ditulis atas permintaan Khalifah al Qa’im bi Amrillah (422-467 H). Buku ini memuat hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan Islam yaitu Khilafah. Dan istimewanya buku ini adalah dokumen autentik penerapan sistem pemerintahan Islam di dalam negara Khilafah pada era Khilafah Abbasiyah.
Di dalam kitab Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia karya Prof. Dr. Raghib As Sirjani, beliau menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana Islam mampu menjadi peradaban emas mengungguli Eropa yang kala itu dalam keadaan terbelakang. Beberapa kota yang hingga kini masih tersisa bukti-bukti kekuasaan Khilafah adalah Cordoba, Granada, dan beberapa kota lainnya.
Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa khilafah bukanlah ancaman. Khilafah justru menjadi jawaban atas kesenjangan sosial seperti yang terjadi pada masa lalu. Yaitu ketika masyarakat Spanyol berharap negaranya ditaklukkan oleh Khilafah. Dan berharap Islam diterapkan di negeri mereka karena melihat sejahteranya masyarakat di bawah naungan Khilafah Islam. Mereka ingin keluar dari kegelapan Eropa menuju penerangan Islam. Dan harapan itu terkabul dengan takluknya Spanyol oleh pasukan yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad.
Lantas mengapa sekarang ide khilafah dikriminalisasi? Dalam sebuah laporan Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Intelegent Council/NIC) pada Desember 2004 yang berjudul Maping The Global Future: Report of the National Intelligence Council’s 2020 Project. Dokumen ini berisi prediksi atau ramalan tentang masa depan dunia tahun 2020. NIC memperkirakan bahwa ada empat hal yang akan terjadi pada tahun 2020, salah satunya Kebangkitan kembali Khilafah Islam, yakni Pemerintahan Global Islam yang mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat.
Inilah salah satu alasan terjadi kriminalisasi ide Khilafah, yaitu adanya ketakutan Barat akan geliat kebangkitan ummat dan Islam dalam bingkai daulah Khilafah. Belum lagi panasnya pemilu 2019 yang hingga kini aktif mengkambing hitamkan Khilafah untuk menjatuhkan pihak lawan. Ditambah isu people power yang berujung tuduhan membuat makar. Menurut mereka, Khilafah Islam akan mampu menghadapi hegemoni nilai-nilai peradaban Barat yang kapitalistik sekularistik dalam kehidupan ummat sekarang. Sehingga dibutuhkan upaya demi upaya untuk menghadang bahkan memusnahkan kebangkitan ummat dan perjuangan menegakkan Khilafah.
Namun, mereka lupa ketika bandul kezhaliman menyimpang melampaui batasnya, Allah mempunyai cara untuk memberikan ayunan pembalik yang justru lebih dahsyat. Sebagaimana Abu Jahal yang melecehkan Rasul saw di depan umum dengan hinaan, kutukan, dan upaya penganiayaan, maka Hamzah bin Abdul Muthalib yang selama ini masih ragu dan membiarkan perjuangan keponakannya berjalan alami saja dilanda kemarahan. Dengan menunggang kuda dan berthawaf tanpa menurunkan busur serta buruannya, dia lalu mendatangi Abu Jahal dan menghantam kepala Abu Jahal hingga berdarah dengan ujung gandewa, dan dengan kata-kata menyala mengumumkan keislamannya.
Pada satu titik, setiap simpangan pasti berbalik. Seperti ketika kebencian Umar kepada Nabi Muhammad saw telah memuncak dan nyaris meledak di ubun-ubunnya. Petang itu, dia telah membulatkan tekad untuk membunuh Nabi saw yang dianggap menjadi pemecah belah Makkah, yang memisahkan suami dari istrinya, anak dari bapaknya, dan sebaliknya karena keyakinan mereka. Dia malah berbelok ke rumah adiknya, dan darah yang mengaliri wajah suami istri Fathimah-Sa’id dari tamparannya, membuatnya rela mendengarkan Kalamullah. Dia lalu bergegas ke rumah Al Arqam, bukan untuk membunuh melainkan untuk menjadi Al Faruq yang semangatnya menggentarkan kaum Musyrikin keesokkan harinya.
Maka semakin kuat bandul kezhaliman itu menghantam ide Khilafah dan para pejuangnya, begitu pula akan semakin cepat fajar kemenangan itu menyingsing. Karena kegelapan malam tidak akan berlangsung selamanya. Akan ada subuh yang menanti. Itulah kemenangan Islam. Kebangkitan ummat. Tegaknya Khilafah dan terterapkannya syariat Islam secara kaffah. Wallahu a’lam bi ash shawab.
*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita