by

Hamsina Halik, A. Md*: Pergaulan Bebas Kian Merasuki Remaja

-Opini-50 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Remaja merupakan generasi penerus bangsa. Ditangan merekalah nasib bangsa ke depannya. Melalui mereka peradaban mulia akan terlahir kembali. Namun, moral remaja kini terkikis sedikit demi sedikit. Jatuh ke dalam jurang kegelapan. Pergaulan bebas telah nerasuki mereka.

Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan generasi muda saat ini tengah dirundung berbagai masalah. Seks bebas hingga aborsi, pornografi dan pornoaksi jadi santapan, narkoba dijadikan solusi keluar dari masalah hingga HIV/AIDS mengintai mereka, dll.

Beberapa waktu lalu kita disuguhi sebuah kabar yang memiris hati. Dengan dalih rayakan pesta ulang tahun, sebanyak 37 pasangan dibawah umur yang rata-rata masih duduk di bangku SMP ditemukan dan diduga berpesta seks di sebuah hotel, lantaran ditemukan alat kontrasepsi serta obat kuat.

“Di Hotel Ceria itu ada ditemukan remaja yang ulang tahun berpesta. Itu sangat miris. Mereka merayakan ulang tahun, kita temukan alat kontrasepsi dan obat kuat,” kata Mursida. (makassar.tribunnews.com, 11/07/2020)

Faktor Pemicu Seks Bebas

Apa yang menimpa remaja dan generasi muda pada umumnya saat ini, bukan kesalahan mereka sepenuhnya. Meski ketika sudah mencapai aqil baligh akal sudah sempurna untuk berpkir, sudah dapat membedakan mana yang benar dan salah serta beban hukum syara’ yaitu terikat perintah dan larangan Allah SWT sudah berlaku pada mereka.

Namun tetap saja lingkungan dan sistem memberikan pengaruh besar terhadap tingkah laku mereka. Terlebih jika mereka jauh dari penanaman nilai-nilai agama yaitu akidah Islam.

Maraknya seks bebas dikalangan remaja tak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak faktor yang bisa memicu hal tersebut. Dan penyebab maraknya seks bebas adalah adanya penerapan sistem kapitalisme sekular dengan paham liberalisme (kebebasan)nya.

Salah satunya adalah kebebasan individu. Menjadikan setiap individu bebas berbuat apa saja. Tak memandang baik buruknya, halal haramnya, semua bebas meski melabrak nilai-nilai moral dan agama. Hingga urat malu telah putus darinya.

Beberapa faktor pemicu seks bebas, diantaranya; pertama, lemahnya pemahaman agama. Keluarga, dalam hal ini orangtua yang disibukkan mencari nafkah karena tuntutan ekonomi yang semakin mencekik, membuat orangtua tak punya waktu untuk memperhatikan anak-anaknya, mendampingi dan menanamkan akidah Islam.

Mereka telah menyerahkan peran ini kepada media seperti TV dan internet, pembantu dan juga sekolah untuk menggantikannya.

Sebagai kompensasinya, berusah payah dalam menyediakan anggaran yang besar. Terlebih di sekolah, pendidikan agama hanya diajarkan dengan jumlah jam yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan pelajaran umum lainnya.

Kedua, sikap masyarat yang tak peduli. Maraknya prilaku seks bebas di kalangan remaja tak lepas dari sikap masyarakat yang terkesan membiarkan prilaku tersebut.

Ini menunjukkan bahwa kontrol sosial masyarakat semakin menurun. Masyarakat hanya lebih mengutamakan kepentingan pribadi. Bahkan, masyarakat menganggap pacaran yang merupakan pintu menuju zina itu adalah hal yang wajar. Tak gaul jika tak pacaran.

Ketiga, peran media dalam penyebaran konten yang berbau pornografi dan pornoaksi. Lagi-lagi, atas nama kebebasan melalui kebebasan pers, media massa online maupun offline mendapatkan kebebasan untuk menulis, mencetak dan menyebarluaskan materi-materi pornografi dan pornoaksi yang merangsang munculnya prilaku seks bebas, termasuk pada kalangan remaja.

Terlebih, di era digital saat ini, konten-konten yang penuh unsur pornografi dan pornoaksi tersebar bebas dan sangat mudah diakses.

Dan yang terakhir, lemahnya fungsi negara. Dalam sistem kapitalisme, negara hanya berfungsi sebagai pengatur yang menjamin kebebasan individu. Bukan sebagai pengurus dan pelayan rakyat, penjamin kebutuhan rakyat serta penjaga akidah dan moral masyarakat.

Akibatnya, atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) negara tak mampu memberikan jaminan hukum untuk menghapus sarana dan prasarana yang menunjang maraknya seks bebas. Terlebih tak ada sanksi tegas atas segala tindak perilaku seks bebas ataupun tindak kejahatan seksual.

Solusi Islam

Berbeda ketika Islam diterapkan, niscaya akan mampu membangun generasi yang bersih dan berkepribadian Islam, jauh dari seks bebas. Penanaman akidah dan menanamkan ketakwaan kepada setiap diri kaum muslim termasuk remaja. Hal ini menjadi kewajiban negara, orangtua dan masyarakat.

Islam telah memerintahkan kepada kepala keluarga untuk mendidik anggota keluarganya dengan Islam agar jauh dari api neraka. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (TQS. at Tahrim: 6)

Islam pun memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkarmungkar yaitu tidak boleh membiarkan ada suatu kemaksiatan berlaku. Untuk itu, disinilah peran masyarakat sebagai pengontrol untuk mengawasi dan mencegah terjadinya kemaksiatan.

Juga, Islam memelihara urusan masyarakat agar berjalan sesuai dengan aturan Allah SWT. Untuk itu, Islam telah menyiapkan seperangkat aturan dan sanksi yang akan diterapkan oleh negara untuk mencegah terjadinya seks bebas. Yaitu, hukuman cambuk 100 kali bagi yang belum menikah dan rajam bagi yang sudah menikah.

Dengan demikian, adanya peran keluarga dalam menguatkan pondasi akidah anak, masyarakat sebagai pengontrol sosial dan negara sebagai pelaksana aturan-aturan Allah SWT beserta penetapan sanksi tegas jika melanggar, akan mampu menyelesaikan akar masalah terjadinya seks bebas di kalangan remaja. Inilah solusi hakiki untuk mengatasi permasalahan seks bebas. Wallahu a’lam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × three =

Rekomendasi Berita