by

Hilangnya Rasa Aman dan Penjagaan terhadap Kehormatan Perempuan Ketika Aturan Islam Diabaikan

-Opini-69 views

 

 

Oleh: Diyan Mardiyani Aqorib, Anggota Komunitas Menulis Revowriter

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kehormatan merupakan hal penting dalam Islam. Setiap muslim tidak hanya diwajibkan menjaga kehormatan diri sendiri, tapi juga menjaga kehormatan orang lain. Penjagaan kehormatan juga menjadi tanggung jawab negara. Namun, ketika suatu bangsa tidak bisa menjaga kehormatan warganya, maka yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran.

Hal ini terjadi pada kasus rudapaksa pada seorang wanita tunarungu di daerah Duren Jaya, Bekasi. Kronologinya sebelum terjadi rudapaksa tersebut, seorang wanita tunarungu berinisial NS (20) dicekoki miras oleh seorang oknum Linmas di kompleks kuburan Jati, Duren Jaya, Bekasi Timur.

Kuasa hukum NS (20), Dian Agustian Lingga, menyayangkan sikap warga RW 06 Duren Jaya yang seolah-olah menutupi kasus dugaan pemerkosaan yang dialami kliennya. Para warga justru menyodorkan surat pernyataan kepada orang tua NS untuk tidak membawa kasus tersebut ke ranah hukum. (tribunnews.com, 30/03/2021).

Ketidakadilan yang dialami NS dan keluarganya bukanlah hal baru di negeri ini. Bagaikan punguk merindukan bulan, bukan keadilan yang mereka dapat justru kezhaliman menimpa mereka.

Perdamaian yang ditawarkan bukanlah jalan keluar yang dibenarkan dalam menyelesaikan kasus pelecehan seksual. Sudah seharusnya negara memfasilitasi rakyatnya untuk mendapatkan keadilan. Tanpa memandang status kaya atau miskin, penyandang disabilitas atau bukan. Semua harus diperlakukan sama dihadapan hukum.

Buya Hamka pernah menyatakan adil adalah menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak yang empunya dan jangan berlaku zhalim diatasnya. Berani menegakkan keadilan walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian.

Kerusakan Sistem Kapitalisme

Kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang lahir dari keterbatasan akal manusia dalam menentukan aturan termasuk hukum dan perundang-undangan negara, menghasilkan produk hukum yang membuka lebar legitimasi kepentingan.

Kerusakan sistem kapitalisme ini sebagai bukti ketidakmampuan hukum buatan manusia dalam menghasilkan produk hukum yang adil. Serta cara pandang sekularisme yaitu pemisahan agama dengan kehidupan terbukti membuat banyak kekacauan dan kerusakan.

Salah satu kerusakan hukum tersebut adalah sulitnya rakyat miskin memperoleh keadilan. Penegakan hukum seringkali timpang bagi warga miskin dan lebih kuat berpihak kepada mereka yang dekat dengan kekuasaan dan uang.

Seperti pada kasus NS (20), seorang wanita tunarungu yang mengalami pelecehan seksual, sampai saat ini belum mendapatkan keadilan bahkan penetapan tersangka pun belum ada.

Tidak hanya itu, kasus-kasus yang memperlihatkan bahwa hukum di Indonesia tajam kebawah dan tumpul keatas banyak terjadi. Misal, seorang nenek yang mencuri tiga buah kakao, dihukum satu bulan.

Nenek Minah didakwa mencuri tiga buah kakao atau coklat di perkebunan milik perusahaan PT. Rumpun Sari Antan. Tanpa didampingi penasihat hukum, nenek Minah harus menjawab pertanyaan-pertanyaan majlis hakim sendirian.

Berbanding terbalik dengan kasus-kasus korupsi yang sudah merajalela di Indonesia. Para koruptor dijatuhi hukuman yang ringan bahkan mendapatkan perlakuan yang istimewa. Fakta-fakta ini seakan memperlihatkan elegi penegakan hukum, bahwa orang miskin mudah diproses ke meja hijau meskipun karena kesalahan kecil, tetapi hukum sulit menjangkau “ke atas” dengan berbagai dalih.

Islam Menjaga Kehormatan Perempuan dan Memberikan Keadilan tanpa Pandang Bulu

Islam adalah agama yang paripurna. Tidak hanya sebagai agama ritual, namun Islam juga memiliki aturan-aturan kehidupan yang terpancar dari akidahnya. Aturan-aturan tersebut berasal dari Sang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT.

Seperti aturan untuk menjaga kehormatan perempuan. Bagai mutiara yang mahal, Islam menempatkan perempuan sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Islam menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah ‘alla wa jalla, seperti aturan dalam berpakaian. Seorang perempuan harus menutupi tubuhnya dengan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah.

Perempuan pun diperintahkan oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka dihadapan laki-laki yang bukan suaminya. Seperti tidak bercampur baur dengan mereka, menjaga pandangan, tidak memakai wewangian yang menyengat ketika keluar rumah, serta tidak merendahkan suara dan lain sebagainya.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum perempuan, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari perilaku menyimpang dan menyalahi syariat akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita.

Sejarah Islam telah membuktikan perhatian daulah Islam terhadap perlindungan dan penjagaan kehormatan perempuan. Sebagaimana kisah pada masa Khalifah Al-Mu’tashim Billah, ketika seorang muslimah ditarik jilbabnya oleh salah seorang Romawi, ia segera menjerit dan meminta tolong kepada khalifah:

“Di mana Islam dan dimana Khalifah Mu’tashim?”. Ketika sampai berita tersebut, khalifah langsung memimpin sendiri pasukannya untuk membela kehormatan seorang muslimah yang dinodai oleh seorang pejabat kota tersebut. Kepala negara Khilafah Islamiyah ini mengerahkan ratusan ribu tentaranya ke Amuria, perbatasan antara Suriah dan Turki. Sesampainya di Amuria, beliau meminta agar orang Romawi pelaku kezhaliman itu diserahkan untuk diadili. Saat penguasa Romawi menolaknya, beliau pun segera menyerang kota, menghancurkan benteng pertahanannya dan menerobos pintu-pintunya. Hingga kota itupun jatuh ke tangan kaum muslimin.

Dalam hal pelaksanaan hukum, keadilan dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat tanpa memandang statusnya. Pada keadaan apa pun, di manapun, dan di zaman apapun, sejarah mencatat umat Islam selalu menjunjung tinggi nilai keadilan. Ini merupakan bentuk pelaksanaan perintah Allah SWT, “Dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat: 9).

Hal ini terlihat ketika masyarakat Quraisy dibuat canggung dengan kasus pencurian oleh seorang perempuan bangsawan dari sub klan Bani Makhzum. Mereka meminta bantuan Usamah bin Zaid yang dikenal dekat dan sangat dicintai Rasulullah. Untuk menyampaikan kepada Rasulullah dengan harapan perempuan tersebut mendapatkan dispensasi atas kejahatannya.

Sore harinya, Rasulullah berdiri dan berpidato di depan publik. “Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran apabila ada bangsawan mencuri, dibiarkan; sementara apabila ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.”

Perempuan bangsawan itu pun akhirnya menerima sanksi potong tangan. Perempuan ini didakwa mencuri karena ia meminjam harta orang lain, lalu mengingkari perbuatannya. Aisyah ra menceritakan, setelah peristiwa hukuman tersebut, si perempuan bangsawan bertobat secara sungguh-sungguh dan menikah.

Jelas bahwa rasa aman dan penjagaan kehormatan bagi warga negara khususnya perempuan, serta keadilan yang merata hanya bisa dilakukan oleh khalifah yang tentunya hanya ada dalam bingkai Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah Islam secara kaffah.

Untuk pemerintah daerah Bekasi diharapkan dapat lebih memperhatikan dan meningkatkan rasa aman para warganya, serta bisa memberikan keadilan kepada seluruh warga tanpa diskriminasi. Wallahua’alam bishawab.[]

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − 1 =

Rekomendasi Berita