by

Indef: Ke Amerika, Indonesia Jangan Hanya Ekspor CPO

Dari kiri ke kanan, Narasumber Sri Endang Novitasari
perwakilan BKPM, Rouf Qusyairi, Sekjen KMI moderator, Danang Giri
Wardhana, Ketua Kebijakan Publik APINDO (pelaku Ekonomi), Bhima Yudhistira
pengamat ekonomi dari INDEF saat Diskusi Akhir Tahun KMI bekerjasama dengan BRI
, “Refleksi Bidang Ekonomi 2016” di Hall Gedung Dewan Pers jalan
Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Jakarta, kamis (15/12)

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bhima Yudhistira, pengamat ekonomi INDEF menyampaikan
terkait kebijakan negara dalam menangani APBN, hutang dan
sebagainya masih terjadi ‘gap’ pada tataran konsep dan
realitas. ” Dimana pertumbuhan ekonomi di daerah, nampak ada pelemahan
permintaan disini, seperti produk ekspor ekonomi ke China,” papar
peneliti INDEF itu saat menjadi narasumber Diskusi akhir tahun
Kaukus Muda Indonesia (KMI) bekerjasama dengan BRI dengan tema “Refleksi Bidang
Ekonomi 2016” di Hall Gedung Dewan Pers jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (15/12).

“Yang diekspor ke China adalah produk mentah namun saat ini langsung. Hingga tidak dapat dikatakan bila angka kemiskinan menurun. Ditambah lagi gejolak ekpor ke China menurun, maka soft Industri, Kelapa Sawit (CPO) kena imbasnya,” jelasnya.
Pengamat
ekonomi dari INDEF tersebut menyampaikan bahwa Sumber Daya Alam bisa
menjadi bencana. “Mesti diingat. Apakah tidak belajar saat di era Suharto terkait Oil (minyak mentah)? Harga minyak tahun
2008 dirasa tenang saja komoditi akan terus berlanjut lalu bikin
smelter.” ungkapnya.
Tahun 2016  harga oil hancur padahal di
tahun 2015 sudah mulai, harga minyak saat di tahun 2015, senilai 20
U$/barrel. Memang kondisinya sekarang menjadi 50 U$/barrel. “Jadi bila
ditelusuri harga komoditas enjot-enjotan ini,” paparnya.
Efek
dan akibat perekonomian begitu cepat dan fatal. “Tampak
yang bermain ‘spekulan’ di bidang komoditas. Walau sempat ada pandangan OPEC bermain maka harga minyak akan terbantu, belum tentu,” ungkapnya.
Bhima
Yudhistira mengulas pula, bila ditinjau dari situasi Global, efek ini
mulai kelihatan semenjak Brexit (British Exit dari Uni Eropa), ditambah
lagi sekarang akhirnya Donal Trumph menang pilpres AS bersaing dengan
Hillary Clinton.

“Sekarang sosok pemimpin di Perancis dari kaum
nasionalis juga didorong hingga fenomena deglobalisasi cukup besar. ”
Trumph selalu katakan ‘AS First, China aja tidak dianggap, apalagi Indonesia ?,” Imbuhnya lagi.

Patut
digaris-bawahi, Bhima menyebut kalau ketergantungan akan ekspor ke AS
dalam bentuk tekstil, alas kaki, CPO cukup besar dan bisa terganggu bila
tidak ada diversifikasi produk ini,” Tukasnya mengingatkan.
Semestinya,
tidak hanya bisa ekspor CPO saja, Pengamat INDEF itu mengingatkan,
soalnya, di tahun 2017 ekonomi masih menantang dan cukup sulit.
“Pertumbuhan ekonomi 5%. Jangan sampai asumsinya ngaco lagi,
pertumbuhan ekonomi perhitungannya 5 dan atau 6%, malah ternyata hanya
mencapai angka 4,8 dan atau 4,9%.”Jelasnya.
Bahkan
sebelumnya, INDEF telah menyerahkan proposal ke
DPR, pertumbuhan ekonomi 5,3%, alhasil akhirnya tercapai 5,1%. “Namun
dari segi indikator manapun tidak bisa berbohong. MINUS,” paparnya.
“Setelah dicari, dan dari diskusi, ternyata di mana industri padat karya menurun. Telah terjadi deIndustrialisasi, mengalami penurunan dari sektor manufaktur,” paparnya.
Saat
ini, yang menjadi acuan ke depan, menurut Pengamat INDEF itu bahwa, apakah Indonesia mau shifting dari jasa, apa mau dagang semua(trader). Pilihan dimana ini? Mau manufaktur, trader, atau agraris ?” Ungkapnya tanda tanya.
Jikalau
diperhatikan, sambung Bhima ada yang bermasalah dari sisi penerimaan
negara walaupun di tahun 2015 ada kebijakan Tax Amnesty, ” Ada selisih
penerimaan pajak 200 Triliun. Itu saja sudah pakai TA.” Ujarnya.
“Memang di tahun 2015 terlalu Yakin. Namun lihat kondisinya sekarang,
dari sisi PDB saja kalah dibandingkan negara lain di Asean,” tukasnya.
“Ketika lagi seret, pemerintah malahan jor-joran belanja Infrastruktur. Kondisi inilah menimbulkan kekhawatiran.Bagaimana cara menutupi belanja ini ? Dengan TA ,” paparnya.
Bahkan
diberitakan, Indonesia negara paling sukses melakuka TA di Dunia lebih
hebat dari India dan Chile. ” Uang diambil dari pihak ketiga masuk ke
pemerintah diambil 2%, Kering ini.Likuiditasnya bank di akhir tahun ini,
soalnya ada Repatriasinya, dimana situasinya sekarang mentok di
Singapura, dan Bahama. Karena tidak berbentuk Cash,namun bentuknya
barang (properti),” paparnya lagi.
Pengamat ekonomi INDEF itu mengatakan penerimaan negara tidak tercapai, walau dengan kebijakan TA. ” Namun anggaran
belanja sektor Pendidikan, Infrastruktur, TOL laut dsb. Ditambah
penerbitan hutang dan segala macam. Dalam jangka panjang indikasinya
timbul dua (2) bahaya, yakni Crowded Out dan Over Hang,” Jelasnya.
Saat
Diskusi Akhir tahun KMI tersebut, selain Bhima Yudhistira, nampak juga
turut hadir selaku narasumber yakni, Sri Endang Novitasari perwakilan
BKPM, Rouf Qusyairi, Sekjen KMI moderator, Danang Giri
Wardhana, Kepala Kebijakan Publik APINDO (pelaku Ekonomi), serta Ketum
KMI, Edi Humaidi.[Nicholas]

Comment