by

Indha T.P , S.Keb, Bd: Pembungkaman Media “Matinya Pers Nasional”

  Indha T.P , S.Keb, Bd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKATA – Cuti panjangnya Bang KI tampaknya sangat erat kaitannya dengan massifnya pemberitaan kecurangan seputar pilpres. Seperti media lainnya TV One berhenti menayangkan berita kecurangan pilpres. Mereka juga tidak menayangkan berbagai kegiatan elemen masyarakat yang melakukan deklarasi maupun protes atas kecurangan tersebut.
Sejumlah wartawan bercerita, mobil satelit (SNG) TV One terpaksa dibongkar dan ditarik pulang dari arena Ijtima Ulama III di Hotel Lor In Sentul Rabu (1/5). Tarik ulur menghadapi tekanan itu terlihat dari kebijakan redaksi. Sebelumnya mereka boleh melakukan siaran langsung (live) dan menayangkan beritanya. Namun kemudian hanya boleh menayangkan berita, tapi tidak boleh live. “Tiba-tiba tidak boleh menayangkan kedua-duanya. Padahal sudah kami proyeksikan,” ujar seorang kru TV One.
Bersamaan dengan menghilangnya berita kecurangan, TV One mulai menayangkan hasil penghitungan suara Situng KPU. Aplikasi Situng itu ditayangkan di semua stasiun televisi dan media online. Ribuan protes dari masyarakat tak digubris. Sejumlah akademisi, penggiat dan relawan IT menemukan bukti adanya puluhan ribu entry data pada Situng KPU. Namun KPU bersama media seakan tidak peduli. (https://www.hersubenoarief.com/artikel/pembungkaman-media-bang-karni-ilyas-semoga-tetap-sehat-dan-waras/ )
Pembungkaman media pada masa ini memang realitanya benar adanya, kenapa demikian? bukan pada masa pilpers ini saja, masih ingat benar peristiwa aksi 212 yang dinilainya bersejarah, hanya TVOne yang masih konsisten sebagai pers. Hingga Rocky Gerung pernah menyebut pers layaknya sudah jadi humas pemerintah. “Akhirnya pers kita itu sekedar jadi humas pemerintah. Baca pers mainstream itu kayak brosur pemerintah,” ujar dia.
Akhirnya masyarakat bertanya-tanya kemana pers nasional hari ini? berbagai kecurangan yang masif tidak diberitakan, ini akan menyuburkan potensi politik pembohongan publik oleh media yang bersangkutan. Sungguh Pers Nasional telah mati kenapa penulis sampaikan demikian karena meraka bukan lagi menjadi media pencerdas masyarakat tapi berpihak pada rezim hari ini.
Sungguh mencoreng kredibilitas dan profesonalisme awak media yang harusnya terbebas dari tekanan pihak manapun. Hendaknya pers nasional segera berbenah diri kembali pada fungsinya memberitakan sebuah kebenaran dan mampu memcerdaskan masyarakat.
Pers nasilonal hari ini sangat berbeda dengan media-media informasi yang ada pada masa Khilafah Islam. Saat media informasi berdiri tidak memerlukan pendaftaran. Hanya perlu menyampaikan informasi dan melaporkan kepada Lembaga Penerangan untuk menetahui pendirian media tersebut. Saat menyebarluaskan berita tidak memerlukan izin dari negara. Namun demikian, pemilik media harus bertanggungjawab atas semua konten berita yang disebarkan. Dan yang terpenting awak media tidak menyebarkan informasi yang pemikiran-pemikiran yang rusak dan merusak, yang sesat dan menyesatkan. Media harus memurnikan konten yang diberitakan sesuai islam mengatur. Wallahua’lam bi’ash-shawwab.[]

Comment

Rekomendasi Berita