Karaoke Berjam-jam Demi Membakar Kalori? Boleh Sih, Asal…

Opini103 Views

 

 

Penulis: Devy Rikasari, S.Pd | Anggota Komunitas Pena Dakwah Karawang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sebulan sudah kaum muslimin melakukan ibadah puasa Ramadan. Tiba waktunya Lebaran yang dinanti-nantikan. Bukan hanya tradisi mudiknya yang ditunggu, tetapi juga berbagai hidangan khas Idulfitri menjadi incaran.

Namun, momen Lebaran juga membuat sebagian orang, terutama kaum hawa, khawatir badannya ikut melebar. Pasalnya, banyak yang kalap menyantap segala jenis panganan Lebaran yang bersantan dan berlemak. Hingga ada meme yang sering dilontarkan, “Lebaran jangan sampai badanmu yang lebaran”.

Tak dimungkiri, banyak wanita mengharapkan tubuh ideal bak gitar Spanyol. Beragam cara dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut, baik melalui ikhtiar diet, olahraga, dan lain-lain. Bahkan belakangan ini viral sebuah tren diet dari Cina yaitu melakukan karaoke berjam-jam untuk membakar kalori.

Dilansir dari situs detikhealth.com, seseorang yang melakukan karaoke selama 1,5 jam dapat membakar kalori sebanyak 400kkal. Bahkan ada yang mengaku dapat memangkas 1000kkal setelah bernyanyi secara maraton selama 5 jam. Wow, angka yang sangat fantastis! Apalagi untuk kaum obes yang mager (malas gerak), opsi ini bisa jadi alternatif pilihan. Berkaraoke bukan hanya bisa menghilangkan stres tetapi juga bisa membakar kalori.

Nah, bagaimana sih pandangan Islam terkait hal ini? Bolehkah seorang muslim mengikuti tren diet ini?

Pada hakikatnya perbuatan seorang muslim tidaklah bebas. Islam tidak mengenal istilah kebebasan dalam bertingkah laku. Setiap perbuatan harus dikaitkan dengan hukum syara’. Hal ini didasarkan kepada nash – nash syara’, antara lain sebagai berikut.

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” ( TQS Al-Hijr : 92-93)

Imam ats – Tsa’labi dalam kitab tafsirnya, beliau menjelaskan bahwa Allah SWT akan menanyai semua manusia di hari kiamat tentang perbuatan mereka di dunia.

Karena itu, perbuatan manusia harus selalu dikaitkan dengan Islam sebagaimana kaidah syara’ yang berbunyi, “Al-aslu fil af’al taqoyyudi bi hukmi syar’iy” (asal perbuatan terikat hukum syara’). Adapun hukum syara’ tersebut kita kenal dengan ahkamul khomsah, yaitu Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan Haram. Hukum-hukum inilah yang selalu terkait dengan seluruh perbuatan manusia.

Berkaitan dengan tren diet untuk membentuk tubuh yang sehat, itu boleh-boleh saja. Hal ini ditunjang oleh sabda Nabi Saw, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah”. (HR. Muslim).

Kuat yang dimaksud salah satunya secara fisik. Artinya muslim yang sehat lebih disukai karena bisa melakukan ibadah lebih maksimal, seperti salat, shaum, bahkan ibadah haji membutuhkan fisik yang sehat. Terlebih lagi ibadah yang berkaitan dengan mempertahankan kemuliaan Islam dan kaum muslimin seperti jihad tentunya juga butuh fisik yang sehat dan kuat.

Kaum muslimin di era keemasan dahulu adalah orang-orang yang sehat dan kuat. Terbukti, beberapa kali mereka memenangkan jihad melawan orang-orang kafir meski dari sisi jumlah tidak sebanding.

Perhatian Islam terhadap kesehatan umatnya bukan hanya ditujukan secara individu melainkan juga dalam pemenuhan pelayanan kesehatan yang memadai dengan biaya terjangkau. Hal ini bisa terjadi karena Islam diterapkan dalam konteks individu, masyarakat dan negara.

Karena itu, ikhtiar untuk hidup sehat sangat diperlukan. Upaya ini dapat ditempuh dengan berbagai uslub (cara) selama tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Nabi Saw pernah bersabda, “Laa dharara wa laa dhirara”, yang artinya “Janganlah memberikan kemudaratan pada diri sendiri, dan jangan pula memudarati orang lain” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni).

Namun, penting untuk meluruskan motivasi diet yaitu agar hidup sehat dan bugar, bukan semata-mata agar tampil menarik. Mindset diet agar terlihat lebih menarik ini sangat berbahaya apalagi jika muncul dari pemahaman sekulerisme. Contohnya, tak sedikit kaum hawa yang bangga memamerkan tubuh idealnya after diet tanpa hijab, padahal sebelumnya ia berhijab.

Tak ayal pula aktivitas amar ma’ruf nahyi mungkar terhadap muslimah yang seperti ini dikomentari nyinyir seperti, “Fokus saja pada proses dietnya. Jangan fokus pada hijab. Karena ini grup diet bukan grup dakwah”. Seolah-olah antara diet dan Islam itu dua hal yang bertolak belakang.

Karena itu, menggabungkan antara motivasi yang benar dengan ikhtiar yang dibenarkan syara’ ini bukan hanya perlu namun wajib. Dengan inilah, seorang muslim bahkan bisa mendulang pahala dari aktivitas diet dan olahraganya. Apalagi jika motivasi ini diluaskan yaitu agar kaum muslim bisa menjadi duta-duta Islam yang menebarkan rahmat ke seluruh alam. Duta-duta ini harus kuat, sehat, dan bugar. Selain itu, juga harus memiliki kecerdasan dan skill yang mumpuni agar Islam semakin kuat ditopang oleh umatnya yang kuat.

So, mau tubuh langsing dengan diet? Boleh saja, asal tetap luruskan niat dan gunakan uslub yang benar ya.
Wallahu ‘alam bishawab.[]

Comment