Konvensi ISNA di Detroit: Dr. Imam Shamsi Ali Soroti Peran Imam Hadapi Tantangan Muslim Amerika

Internasional437 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, DETROIT — Peran imam di Amerika Serikat dinilai tidak lagi sebatas memimpin salat dan menyampaikan khutbah. Imam dituntut memiliki kapasitas keilmuan, ketangguhan mental, kekuatan spiritual, serta kemampuan memahami perubahan sosial yang dihadapi komunitas Muslim.

Hal itu disampaikan Dr. Shamsi Ali, Lc., M.A., Direktur Jamaica Muslim Center, New York, sekaligus Presiden Nusantara Foundation, saat menjadi salah satu pembicara dalam sesi paralel Konvensi Tahunan Islamic Society of North America (ISNA) di Detroit, Amerika Serikat (7/9/2026).

Sesi yang mengangkat tema “Peran Imam dalam Menumbuhkan Iman dan Memperkuat Persatuan di Amerika” tersebut diikuti para imam dan tokoh komunitas Muslim Amerika.

Shamsi mengatakan tema tersebut relevan dengan kondisi komunitas Muslim yang menghadapi perubahan sosial dan berbagai tekanan. Menurut dia, imam memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan spiritual sekaligus memperkuat persatuan umat.

“Untuk menjadi seorang imam, tidak cukup hanya bermodal penampilan lahiriah, jubah, panjangnya jenggot, bahkan bukan sekadar karena hafal Al-Qur’an. Imamah membutuhkan persiapan dan kapasitas yang matang,” kata Shamsi dalam pemaparannya.

Ia merujuk pada kisah Nabi Ibrahim AS dalam Al-Qur’an yang menggambarkan kepemimpinan sebagai sesuatu yang diperoleh melalui proses panjang dan berbagai ujian.

Menurut Shamsi, seorang imam setidaknya membutuhkan tiga kapasitas utama, yakni kapasitas keilmuan, mental, dan spiritual.

Kapasitas keilmuan, kata dia, bukan hanya penguasaan Al-Qur’an, Sunnah, tafsir, dan fikih. Imam juga harus memahami lingkungan sosial tempat ia bertugas.

“Jika seorang imam bertugas di Amerika, maka ia harus memahami Amerika, mulai dari kultur, kondisi sosial, bahkan ekonomi dan politiknya,” ujar dia.

Kemampuan komunikasi juga menjadi bagian penting. Imam, menurut Shamsi, harus mampu berkomunikasi bukan hanya secara lisan, tetapi juga memahami perbedaan sosial dan budaya dalam komunitas Muslim yang sangat beragam.

“Kalau kemampuan komunikasi sosial-budaya ini tidak dimiliki, sang imam bisa terpental atau masyarakat justru menjauh darinya,” kata dia.

Imam Dituntut Memiliki Mental Kuat

Selain kapasitas keilmuan, Shamsi menekankan pentingnya ketangguhan mental. Para imam menghadapi berbagai persoalan, baik dari dalam komunitas maupun dari lingkungan sosial yang lebih luas.

Ia menyebut meningkatnya Islamofobia, tuntutan pengurus masjid, persoalan keluarga, hingga beban ekonomi sebagai tantangan yang harus dihadapi para imam.

Menurut Shamsi, persoalan kesejahteraan imam juga perlu mendapatkan perhatian. Tidak sedikit imam di Amerika yang menerima penghasilan rendah sehingga harus mencari pekerjaan tambahan.

“Realitasnya, gaji para imam sangat rendah. Ada imam yang terpaksa menjadi sopir taksi sebagai pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,” ujar Shamsi.

Di tengah kondisi tersebut, imam tetap dituntut mampu menjalankan berbagai fungsi sekaligus. Mereka tidak hanya menjadi pemimpin ibadah, tetapi juga konselor keluarga, pendidik, komunikator, bahkan mediator konflik.

Shamsi juga menekankan pentingnya kekuatan spiritual. Imam, kata dia, harus memiliki keyakinan yang kokoh sehingga mampu menjadi pembimbing dan benteng spiritual bagi jamaah.

“Di dunia yang penuh tantangan dan guncangan, masyarakat menjadi begitu labil dan rentan terhadap berbagai persoalan mental. Di sinilah imam harus kuat secara ruhani dan keyakinan kepada Allah,” katanya.

Melampaui Sekat Suku dan Nasionalisme

Dalam paparannya, Shamsi menyebut tugas imam di Amerika jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengimami salat lima waktu, khutbah Jumat, dan ceramah.

Imam dituntut mampu merespons persoalan kontemporer, terutama isu yang dihadapi generasi muda. Mereka juga harus membantu komunitas melampaui batas kesukuan dan nasionalisme sempit.

“Imam harus membimbing masyarakat untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama, tetapi tetap toleran dalam persoalan cabang,” ujar dia.

Menurut Shamsi, imam juga perlu terlibat dalam ruang publik. Partisipasi tersebut antara lain melalui dialog dengan masyarakat luas, pemahaman terhadap proses politik, serta keterlibatan dalam persoalan sosial yang menyangkut kepentingan bersama.

Ia juga menilai imam memiliki peran penting sebagai mediator ketika terjadi konflik, baik dalam keluarga maupun di antara anggota komunitas.

“Imam harus mampu menjadi juru damai dan melakukan rekonsiliasi ketika terjadi perpecahan, baik di dalam keluarga, antaranggota komunitas, maupun antar-komunitas,” kata Shamsi.

Dialog Antaragama dan Keadilan

Keragaman masyarakat Amerika juga membuat dialog antaragama menjadi bagian penting dari tugas imam. Shamsi menyebut hubungan lintas agama sebagai jembatan untuk membangun kerja sama sosial.

“Dunia kita adalah dunia yang saling terhubung. Karena itu, membangun relasi dengan semua pihak merupakan sebuah kebutuhan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menempatkan imam sebagai salah satu suara moral dalam memperjuangkan keadilan.

Menurut Shamsi, isu keadilan tidak hanya berkaitan dengan persoalan umat Islam, tetapi mencakup berbagai persoalan sosial, termasuk keadilan bagi Palestina, keadilan rasial dan ekonomi, serta persoalan imigrasi.

“Imam harus menjadi suara keadilan. Menegakkan keadilan untuk semua merupakan bagian dari misi kenabian,” kata dia.

Tantangan Generasi Baru

Shamsi juga menyoroti kesenjangan antara sebagian imam dengan generasi kedua dan ketiga Muslim Amerika. Perbedaan bahasa, budaya, dan pengalaman hidup dapat membuat pesan keagamaan tidak selalu tersampaikan secara efektif.

Menurut dia, materi dakwah yang tidak relevan dengan persoalan generasi muda berpotensi membuat jarak antara imam dan jamaah semakin lebar.

“Sering kali materi yang disampaikan tidak relevan dengan generasi muda, dan cara penyampaiannya pun tidak nyambung dengan mereka,” ujar Shamsi.

Selain itu, ia menyinggung persoalan internal di kalangan imam dan lembaga masjid, termasuk persaingan, kecenderungan tribalisme, serta posisi imam yang sangat bergantung pada keputusan pengurus.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai persoalan serius karena dapat mempengaruhi independensi dan rasa aman imam dalam menjalankan tugas.

“Imam jangan sampai hanya menjadi ‘hired and fired imam’, yang diangkat dan diberhentikan sesuai kepentingan pengurus. Kondisi seperti ini tidak memberikan job security yang sehat bagi imam,” kata dia.

Dorong Pengkaderan Imam dari Amerika

Di akhir paparannya, Shamsi menawarkan gagasan pembentukan institusi khusus untuk mengkader imam yang lahir dan tumbuh di Amerika.

Menurut dia, kebutuhan tersebut semakin penting karena sebagian calon imam yang menempuh pendidikan di luar negeri sering membawa pola pikir dan pengalaman sosial dari negara tempat mereka belajar.

“Jangka panjangnya, kita membutuhkan institusi pengkaderan imam yang lahir di Amerika. Mereka harus dipersiapkan dengan pemahaman agama sekaligus pemahaman yang kuat terhadap realitas masyarakat Amerika,” ujar Shamsi.

Ia menilai keberadaan institusi tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk menyiapkan generasi imam yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan realitas masyarakat Amerika.

Shamsi menyebut sekitar 70 persen imam di Amerika saat ini merupakan imam yang berasal dari negara-negara mayoritas Muslim. Menurut dia, kondisi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam penguasaan bahasa Inggris dan proses adaptasi sosial-budaya.

Karena itu, ia mendorong lahirnya sistem pendidikan dan pengkaderan yang secara khusus menyiapkan imam dari kalangan Muslim yang lahir dan besar di Amerika.

“Dari institusi inilah diharapkan lahir imam-imam Amerika yang memiliki pemahaman agama, kapasitas sosial, kemampuan komunikasi, serta ketangguhan spiritual yang lebih matang,” kata Shamsi.[]

Comment