by

Krisis Konstitusi Dan Ancaman Kedaulatan NKRI

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Letjen TNI (purn) Kiki Syahnakri menyampaikan, Situasi bangsa dan negara Indonesia kini, terutama dua bulan terakhir ini acapkali terjadi benturan. Hal ini dikatakannya di acara diskusi publik terbuka bertajuk,”Krisis Konstitusi dan Ancaman Kedaulatan NKRI,” digelar Generasi Muda MKGR yang dilangsungkan di museum Kebangkitan Nasional Stovia, Jakarta Pusat, Selasa (24/1).

Benturan tersebut, papar tokoh militer Indonesia yang terakhir di masa jabatannya selaku Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) periode Nopember 2000 hingga Mei 2002 menyampaikan dilihat baik dalam bentuk benturan antar agama, benturan antara pribumi dan tionghoa, antara si kaya dan si miskin, bahkan baru baru ini benturan ormas.”Bila dicermati di situasi elite, semenjak Reformasi terjadi dikotomik pula. Perpecahan partai, dimana saat kalah di Munas, menjadi 2 dan seterusnya, begitupun di Ormas,” tukasnya memaparkan suasana sarat kental dikotomi itu.

Lebih lanjut, Kiki Syahnarki menjelaskan kondisi carut marut, hiruk pikuk, perpecahan, konflik dan seterusnya seperti ini bila dibandingkan dengan situasi saat sistem pemerintahan di masa Orde Lama Soekarno dan Orde Baru Soeharto dirasa relatif Stabil, dan tidak ada situasi dikotomik seperti itu.”Saya rasa itu berawal dari Reformasi 98, di mana tanpa ada konsep dan arah yang jelas,” ungkapnya.

“Kemana akan diarahkan perubahan itu? Hingga Reformasi tanpa arah yang jelas, tanpa ada Pemimpin yang kuat. Soalnya, ketika itu tidak ada kepemimpinan yang kuat,” ucapnya.

“Lalu tanpa kewaspadaan, setiap perubahan sebenarnya memerlukan kewaspadaan, supaya tidak diambil orang, dan itu terjadi di tengah arus globalisasi,” imbuhnya mengingatkan.

“Oleh karena itu Reformasi telah dibajak oleh Kaum Liberal,” jelasnya.

Bila dipahami dan ditelusuri kembali, Kiki Syahnakri menceritakan kalau dirasa menurutnya semenjak tahun 1999 sampai dengan 2002 telah terjadi perubahan Konstitusi, dimana amandemen konstitusi sebanyak empat (4) kali di Senayan.

Seperti inilah dikotomi yang terjadi, Kiki Syahnakri berkata sembari bertanyakan, lalu kemudian apakah akan dibiarkan ? apakah kita tidak peduli, lalu kemudian bagaimana perbaiki situasi ini ?
Baginya, Indonesia pecah menjadi beberapa negara, saya kira perlu ada penyelesaian masalah yang tepat untuk situasi ini.”Kalau tidak sedikit lagi akan terjadi perpecahan,” tandasnya.

Padahal, sejarahnya tercatat, Ungkap Kiki bahwa para pendiri bangsa (Founding Fathers) dimana membentuk negara ini merupakan negara bangsa, bukan negara agama, bukan negara tribal atau etnik.”Maka itu ikatan kebangsaan sangat harus kuat,”

Hal tersebut, sambung Kiki Syahnarki menjelaskan dapat ditinjau dari ciri ciri geografis di Indonesia, berupa merupakan negara kepulauan, berjumlahn 17.000 pulau baik besar dan kecilnya.”Lalu kemudian kaya akan sumber daya alam. Ciri ciri demografisnya di Indonesia kebhinekaannya sangat luas dan multidimensi,” ujarnya.

Selain itu menurut pandangan Kiki Syahnarki bahwa dimana ras,etnis, bangsa, dan sebagainya sangat luas. Menurut hasil sensus penduduk 2004, tertera 1.072 etnik, secara demografi maka itu Bhinekka luar biasa.”Untuk itulah hingga para FF membuat falsafah / pandangan bangsa negara ini Pancasila. Pancasila yang digali oleh Bung Karno. Campuran antara lokalisme dan Imperialisme, Tidak ada Ideologi lain yang membawa Indonesia untuk mencapai cita citanya tanpa dengan Pancasila,”
jelas Kiki.

“Pasca Reformasi dirasa Pancasila tidak hanya ditinggalkan, namun ditanggalkan berdasarkan sistem sistem tadi yang individual, dan menjadi sistem yang dikotomik tadi,” ungkapnya.

Ilustrasinya, bahwa Indonesia ini diincar, diintai oleh banyak pihak oleh karena memiliki SDA sungguh luar biasa besar dan kayanya, kemudian Kiki Syahnakri berperspektif kalau ada negara-negara yang Hegemonic dan Predatoric, tak bisa lepas dari dua (2) negara, di Barat dimana AS itu Hegemonik, Predator. Semisal, konflik di Yaman (Konflik AS Vs Sudan), di Siria (Amerika vs Rusia), dan Laut China Selatan (Amerika Serikat vs China).[Nicholas]

Comment