by

Lia Sulastri: Islam dan Khilafah Dua Sisi Mata Uang Yang Tak Terpisahkan

Lia Sulastri

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam konsep Islam, pemimpin merupakan hal yang sangat final dan fundamental dimana kedudukannya harus senantiasa ada. Pemimpin memiliki posisi tertinggi dalam tatanan masyarakat Islam. Ia memiliki peranan strategis dalam pengaturan, pemeliharaan dan pergerakan kehidupan masyarakatnya. Kecakapannya dalam memimpin akan mampu membawa masyarakatnya untuk mencapai tujuannya dalam rangka memenuhi ketaatannya kepada Allah azza wa jalla. 
Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, yaitu masyarakat Islami yang mampu menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam setiap aspek kehidupannya untuk meraih ridho Allah bersama-bersama. 
Begitu pentingnya sosok pemimpin dalam Islam..bahkan ketika Rasulullah Saw meninggal pun para sahabat tidak langsung menguburkan jenazah beliau selama tiga hari demi untuk mencari dan memilih pemimpin sebagai pengganti kepemimpinan nabi agar umat Islam tidak merasakan adanya kekosongan seorang pemimpin. Sampai akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai pemimpin pengganti Rosulullah Saw. 
Hanya saja saat ini, kondisi umat Islam berbanding terbalik dengan kondisi dahulu ketika masih ada Rosulullah, para sahabat sampai pada kepemimpinan yang terakhir dengan runtuhnya daulah khilafah Utsmani yang jatuh pada tanggal 3 Maret 1924. 
Umat Islam betul-betul mengalami masa keterpurukan yang panjang sampai detik ini. Di beberapa belahan dunia, banyak umat Islam yang dijajah secara fisik. Di perangi dan di aniaya tanpa henti hanya karena mereka mempertahankan akidahnya. Dibelahan dunia yang lain termasuk Indonesia tak sedikit umat muslim yang dijajah pemikirannya, dirusak moralnya, disulitkan keadaan ekonomi dan pendidikannya. 
Untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agamanya saja seolah-olah adalah sesuatu yang terlarang bagi umat Islam sendiri. Apalagi di negara yang menganut faham demokrasi kapitalis, agama di anggap sebagai penghalang menuju kemakmuran dan kekuasaan. Siapapun orangnya ketika akan berbicara soal agama dan Kepemimpinan yang di anut oleh agamanya, maka akan dengan sekuat tenaga dilakukan berbagai macam upaya untuk menghalangi dan meredupkan nya. 
Tak terlepas umat Islam, ketika berbicara khilafah seolah-olah menjadi momok yang menakutkan bagi para penganut faham demokrasi kapitalis karena merasa terancam kedudukannya. Sehingga mereka rela melakukan cara apapun untuk menghentikan dan memusnahkan dakwah khilafah. 
Bahkan yang terbaru, sejumlah umat Islam gugur ditembak oleh sekelompok orang yang dikatakan “kelompok bersenjata” ketika sedang melaksanakan shalat Jumat di mesjid Selandia Baru. Dan umat muslim hanya bisa terdiam menyaksikan kebiadaban yang terjadi. 
Begitu mirisnya kondisi umat muslim saat ini, sampai-sampai ketika ada kekejaman yang terjadi pun tidak mampu untuk bertindak. Hanya mampu sebatas melihat dan menghujat tanpa ada sedikitpun daya upaya untuk berbuat. 
Inilah kondisi dimana ketiadaan seorang pemimpin akan terus menggiring umat pada kehancuran. Tidak adanya khilafah yang mampu membawa keamanan, ketentraman dan keselamatan akan terus membawa umat dalam kondisi keterpurukan. Ketiadaan khilafah akan semakin membuat umat muslim tercerai berai dan mudah untuk dihancurkan. 
Maka sejatinya bagi setiap muslim, memilih dan mengangkat seorang pemimpin adalah wajib dalam rangka memenuhi perintah Allah supaya hukum-hukum Allah bisa ditegakkan. 
Islam dan khilafah adalah solusi tuntas bagi setiap permasalahan yang dialami umat Islam saat ini. Islam dan khilafah adalah bagikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Karena dengan adanya khilafah maka Islam mampu menjadi agama yang mampu melindungi dan menjaga umatnya baik harta maupun jiwa. Sehingga Islam betul-betul mampu menjadi agama yang rahmatan Lil ‘aalamiin. Wallahu a’lam bish-showwab.[]


Penulis adalah aktivis dakwah

Comment

Rekomendasi Berita