by

Matematika & Resiko Politik Partai Pengusung AHY, Ini Ulasannya

AHY saat debat cawagu di Hotel Bidakara.[Gofur/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jakarta, Tengokberita.com – Setelah hasil perhitungan cepat (quick count) pilgub DKI mencapai 100 persen, Rabu (15/2/2017) malam, pasangan calon No.1 Agus Yudhoyono langsung menggelar konferensi pers, yang intinya dapat menerima kekalahannya dalam ajang lima tahunan itu. Pernyataan Agus tersebut kemudian menjadi topik hangat pembicaraan sebagai sikap yang ksatria.

Betapapun Agus telah mengakui kekalahannya, namun tak serta merta pernyataan itu diinterpretasikan sebagai sikap partai pengusungnya. Maklum, posisi partai pengusung Agus ibarat dalam posisi bandul yang bisa bergerak ke kubu pasangan calon no.2 atau no.3 “DPP Demokrat tetap akan menunggu hasil penghitungan Manual dan pleno KPUD sebelum memutuskan secara resmi soal “pengalihan” Suara tersebut,” kata wakil ketua DPP Partai Demokrat Roy Suryo kepada tengokberita.com.

Roy menambahkan, kubu Agus-Sylvi hingga saat ini melakukan konsolidasi internal dulu. “Jadi kalau ada (seolah-olah) informasi berita atau press-release yang mengatasnamakan Jubir Tim Pemenangan AHY-Sylvi yg “mengarahkan” ke Paslon tertentu, bisa dipastikan itu “Pandangan Pribadi” penulisnya, alias Hoax,” katanya.

Sikap DPP Partai Demokrat sebagaimana diungkap Roy Suryo memberi kesan kubu Agus-Silvy tengah “wait and see”. Nampaknya sikap tersebut tak ada salahnya juga, karena situasi yang cukup dinamis belakangan ini. Tak terkecuali situasi terakhir dari langkah Antasari Azhar yang begitu menghantam keluarga Cikeas. Antasari, dari segi positioning, sudah dipandang masyarakat umum sebagai bagian dari “alat” pemenangan Ahok.

Karena itu, tentu tak bisa sembarangan pula, khususnya bagi kubu Demokrat menentukan langkahnya. Apakah ingin bersahabat atau ingin tetap berseberangan dengan kubu Ahok yang notabene adalah “kaki tangan” dari Pemerintahan Jokowi. Kalau melihat 3 pengusung Agus lainnya, perhitungan politik bandul dukungan ke kubu Ahok lebih terbuka. Terlepas dari bagaimana kemudian dukungan partai itu bisa diterima di akar rumput. 


Proses kemana bandul dukungan bakal mengarah, pada akhirnya tak bisa dilepaskan dari untung ruginya bagi kubu AHY. “Bargaining, dan transaksi selalu terjadi. Maka dari itu dikatakan tidak ada musuh, dan kawan sejati, yang ada kepentingan sejati. Ketika kepentingan itu bergeser ke aliran kekuasaan tertentu, maka dia akan bergeser kesana,” kata pengamat politik dari Universitas Peliya Harapan, Emrus Sihombing kepada tengokberita.com.

Sementara 3 partai pengusung Agus, Emrus mengamini, peluang ke Ahok Jarot lebih terbuka.”Kebetulan partai-partai ini adalah pengusung pemerintahan Jokowi sekarang, bersama PDIP dan Nasdem,” cetusnya seraya menambahkan apapun kata petinggi partai atau tokoh tertentu belum tentu di ikuti. Pemilih rasional itu tergantung kepada sosok dan program.

Untuk Demokrat, ia justru menyarankan partai yang dipimpin SBY itu lebih baik netral, untuk tidak mendukung ke pasangan calon manapun. “Saya pikir partai demokrat lebih baik tidak mendukung pasangan siapapun. Artinya tergantung gimana rakyat pemilik hak suara memilih atas dasar hati nurani, misalnya apakah dipilih pasangan Ahok atau pasangan Anies, itu lebih produktif daripada mengarahkan,” imbuhnya.

Namun, apapun yang diungkapkan Emrus saat ini belum bisa dijadikan rujukan. Faktanya, meski kubu Anis sudah mulai kasak kusuk berkomunikasi, Demokrat masih menutup informasi haluan mereka rapat-rapat. PPP, PKB, mungkin bisa ke Ahok. PAN dengan basis massa Muhammadiyah tampaknya lebih cenderung ke pasangan Anis Sandi, melihat sikap politik dan pandangan ideologis yang cenderung dijalankan hingga saat ini. Kalaupun dipaksakan ke kubu Ahok, resiko politik yang bakal dihadapi terlalu berat. (Yud/TB)

Comment

Rekomendasi Berita