by

Mengambil Tindakan Drastis Untuk Menuntaskan Masalah Dari Akarnya

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berdirinya
perusahaan yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun, pasti memiliki masa
naik turun. Tak jarang, perusahaan yang sudah mengakar kuat dan dikagumi
di mana-mana, malah berujung pada kegagalan karena tak kuasa bersaing
di era digital.
Hadirnya masalah di perusahaan-perusahaan—baik skala kecil, menengah,
maupun besar— memang tak bisa dihindari. Baik karena adanya persaingan
yang sangat kuat, perubahan zaman, hingga perkembangan teknologi. Mereka
yang tak bisa beradaptasi dengan baik, atau tak bisa melakukan inovasi
terhadap produknya, akan mengalami berbagai masalah yang jika tak segera
ditangani dengan baik, bisa jadi akan tinggal cerita.
Dan hebatnya, ”hukum” ini bahkan juga berlaku untuk merek yang sudah
sangat besar sekali pun. Tapi tak jarang pula, hadirnya masalah malah
mendatangkan berkah. Artinya, mereka yang siap, mereka yang mumpuni,
mereka yang mau belajar dari kesalahan dan segera mengevaluasi, tak
jarang malah bertumbuh makin besar.
Di tangan manajemen yang tepat, dibantu orang-orang yang hebat,
dipadupadankan dengan perubahan yang sesuai, perusahaan yang tadinya
nyaris ambruk, malah berkembang luar biasa. Saya jadi teringat satu
ungkapan yang ada di judul artikel ini.
Kadang, memang diperlukan tindakan ”radikal” namun terarah, agar
masalah bisa selesai. Tak jarang, kebijakan yang diambil manajemen
mengundang banyak kritikan, bahkan makian. Sering kali, kebijakan yang
diambil untuk menyelamatkan perusahaan malah kurang didukung karena
dianggap ”mengganggu” kesejahteraan karyawan. Namun memang, demi
perbaikan, demi hasil yang lebih baik, kadang ada yang harus
”dikorbankan”.
Bukan dalam arti sempit, namun dalam arti bagaimana berkat
”pengorbanan” tersebut, ada hasil yang diraih, untuk kemudian
pelan-pelan diperbaiki, hingga ujungnya, meraih kesejahteraan yang di
harapkan bersama-sama. Saya ambil contoh maskapai Garuda Indonesia.
Pada suatu waktu, persaingan makin menjadi dengan banyaknya maskapai
baru. Langkah drastis pun di ambil. Rute yang tak laku ditutup.
Pesawat lama dikandangkan. Banyak efisiensi dilakukan. Kebijakan yang
dikeluarkan bahkan sempat menuai protes. Perusahaan baru mencapai
kesepakatan dengan asosiasi karyawan setelah negosiasi alot selama
bertahun- tahun. Namun, langkah tersebut berbuah manis. Pelan tapi
pasti, Garuda bangkit.
Bahkan, mereka mendapat beberapa penghargaan kelas dunia. Keuntungan
pun kembali diraih, sehingga kesejahteraan karyawan pun meningkat. Hal
lain juga dicontohkan PT Kereta Api Indonesia saat memperbaiki kinerjanya. Calo diberantas dengan membuat sistem tiket secara online.
Sistem reservasi saat hendak naik kereta juga diperketat, di mana
penumpang tanpa tanda pengenal sesuai nama tertera di tiket tak bisa
naik kereta.
Pedagang dilarang berjualan di dalam peron kereta. Kereta dalam kota (commuter line)
juga tak boleh berjalan kalau semua pintu belum tertutup. Hal ini
sempat menuai protes, namun disiplin harus ditegaskan dan ditegakkan.
Dampaknya kemudian, sangat terasa. Suasana dalam stasiun lebih lega dan
bersih.
Sistem tiket secara online juga membuat banyak orang merasa
lebih nyaman karena tidak harus berhubungan dengan calo. Khusus kereta
dalam kota, kini penumpangnya makin bertambah karena makin cepat dan
aman.
The Cup of Wisdom
Ketegasan yang dilakukan untuk pembenahan dalam dua contoh nyata tersebut menunjukkan bahwa tak ada yang tak mungkin jika semua dilakukan dengan niat perbaikan bersama.
Mereka berhasil mengambil tindakan drastis untuk menyelesaikan masalah
dari akarnya. Dengan begitu, banyak persoalan yang tadinya terkesan
rumit, bisa ikut terselesaikan.
Maka, jika perusahaan atau usaha kita mengalami masalah, jangan ragu untuk mengambil tindakan yang baik, benar, terarah, dan simultan.
Tunjukkan apa saja yang bisa diubah dengan perubahan mendasar yang
dilakukan. Dengan cara itu, pelan tapi pasti, akan selalu ada solusi
bersama untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Salam sukses,
luar biasa![AW]

Comment

Rekomendasi Berita